Skip to main content

Tata Cara Shalat Khauf (Shalat Dalam Kekuatiran)

Tata Cara Shalat Khauf (Shalat Dalam Kekuatiran)

Tata Cara Shalat Khauf (Shalat Dalam Kekuatiran) Well readers fillah, pembahasan kali ini adalah bab shalat khauf, shalat ini memiliki ketentuan-ketentuan yang sydah ditetapkan oleh syariat. Mulai dari bacaan dan gerakannya. Shalat khauf ini jarang diterapkan di masyarakat, oleh karena itu tata cara shalat khauf memperbolehkan keluar dari ketentuan-ketentuan shalat itu sendiri.

Tentunya shalat tetap diwajibkan untuk dilaksanakan meski seseorang itu dalam keadaan apapun, dan kewajiban shalat akan gugur apabila orang tersebut telah meninggal, dan kehilangan akal. Maka dari itu tidak ada alasan bagi kita tidak melaksanakan shalat meskipun dalam situasi genting sekalipun. 
Dan dalil shalat khauf telah dijelaskan dalam Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 102. Serta hadist Ibnu Umar RA. Beliau bersabda: “bahwasannya Rasulullah SAW bersama dengan salah satu dari dua kelompok melakukan satu raka’at, kemudian kelompok pertama menggantikan kelompok kedua untuk menghadapi musuh, sementara kelompok kedua datang untuk melakukan shalat bersama nabi, lalu beliau memberi salam dan kedua kelompok itu dan masing-masing menyelesaikan satu rakaat lagi.” (HR. Ahmad & Syaikhani). Lebih lengkapnya, yuk simak penjelasan dibawah ini ya!

Apa itu Shalat Khauf ?

Dalam keadaan tidak aman, atau dalam bahaya perang, cara shalat itu boleh berubah dari biasa, menurut keadaan. Shalat yang demikian itu dinamakan shalat khauf artinya shalat dalam keadaan tidak aman. Cara shalat ada bermacam-macam, menurut keadaan bahaya atau keadaan musuh. Diantaranya sebagai berikut:

Tata Cara Shalat Khauf

Pertama
Apabila musuh berada di arah kiblat, maka cara mengerjakannya sebagai berikut:
a. Imam berdiri, takbir. Ma’mum dibelakangnya dijadikan dua shaf (baris) turut berdiri pula.
b. Sesudah selesai membaca apa-apa yang harus dibaca, imam ruku’ dan ma’mum semuanya turut ruku’.
c. Imam bangkit dari ruku’ (I’tidal), ma’mum semuanya pun turut bangkit dari ruku’.
d. Imam sujud, ma’mum di shaf yang pertama saja turut sujud, sedang ma’mum pada shaf yang kedua tetap berdiri sebagai penjaga bahaya.
e. Setelah habis dua sujud, imam dan ma’mum, di shaf yang pertama bangkit berdiri untuk mengerjakan raka’at yang kedua, sedang ma’mum di shaf yang kedua terus saja sujud dua kali sampai bangkit berdiri (dengan tidak mengikuti imam). Ketika itu shaf yang pertama mundur menjadi shaf yang kedua, dan shaf yang kedua maju menjadi shaf yang pertama.
f. Imam membaca apa-apa yang harus dibaca, kemudian ruku’, ma’mum dua shaf turut ruku’.
g. Imam bangkit dari ruku’, ma’mum semuanya ikut pula bangkit dari ruku’.
h. Imam sujud bersama shaf yang pertama saja, sedang shaf yang kedua tetap berdiri mengawasi bahaya.
i. Setelah imam beserta ma’mum shaf pertama sujud dua kali dan sampai duduk tahiyat, barulah ma’mum di shaf yang kedua kali sampai tahiyyat.
j. Imam menanti selesainya tahiyyat seluruhnya kemudian salam bersama-sama seluruhnya.
Shalat yang demikian itu dikerjakan Rasulullah pada saat peperangan ‘Asfan.

Kedua
Apabila musuh tidak di arah kiblat, maka cara shalat sebagai berikut:
a. Imam berdiri menghadap kiblat, mengerjakan shalat satu raka’at bersama satu bagian dari pada ma’mum, sedang ma’mum yang selebihnya menjaga menghadap ke arah musuh.
b. Setelah imam mendapat satu raka’at dan berdiri ma’mum menyelesaikan shalatnya sendiri tidak mengikuti imam, sedang imam tetap berdiri menanti kelompok yang kedua.
c. Yang telah menyelesaikan shalatnya, pergilah menghadap kea rah musuh, sedang kelompok yang belum mengerjakan shalat terus berdiri dibelakang imam, dan shalat bersama-sama satu raka’at.
d. Ketika imam sampai kepada tahiyyat akhir, duduklah sementara menanti, dan para ma’mum menyelesaikan sendiri shalatnya yang kurang, sehingga duduk dan tahiyyat akhir.

Kapan Shalat Khauf Dikerjakan ?

Shalat yang demikian itu dikerjakan Rasulullah dalam peperangan Dzaturriqa’. Yang dimaksud shalat dua raka’at, tentu saja shalat qashar dan shubuh. Apabila di tengah-tengah shalat ataupun pada waktu yang harus melakukan shalat, tetapi pada waktu itu dalam keadaan perang serbu-menyerbu tembak-menembak dan sebagainya, maka shalat itu dapat dengan cara bagaimana saja yang mungkin. Boleh sambal lari, sambil menembak, tidak menghadap kiblat, dan lain sebagainya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar