Skip to main content

Mengenal Haid dan Siklus Haid Wanita (Menstruasi)

Mengenal Haid dan Siklus Haid Wanita (Menstruasi)

Mengenal Haid dan Siklus Haid Wanita (Menstruasi) Well readers fillah, wanita adalah orang yang diistimewakan oleh Allah SWT, bahkan ada beberapa rukhsah atau keringanan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya. Salah satunya adalah datang bulan atau biasa disebut haid. Dalam hal ini apabila ada seorang yang mengalami datang bulan, maka ia tidak boleh beribadah seperti shalat, puasa, memegang Al-qur’an. Karena ia dalam keadaan tidak suci, oleh karena itu pembahasan kali ini yang ingin penulis paparkan adalah bab Haid.

Haid Adalah ?

Haid adalah darah yang keluar dari Rahim dinding seorang wanita apabila telah menginjak masa benaligh. Haid dijalani oleh seorang wanita pada masa-masa tertentu, paling cepat satu hari satu malam dan paling lama limabelas hari. Sedangkan yang normal adalah enam atau tujuh hari.

Sedangkan paling cepat masa sucinya adalah 13 atau 15 hari dan paling lama tidak ada batasnya. Akan tetapi, yang normal adalah 23 atau 24 hari.

Apabila seorang wanita hamil, dengan izin Allah darah haid itu berubah menjadi makanan bagi bayi yang tengah berada di dalam kandungannya. Oleh sebab itu, wanita yang sedang hamil tidak mengalami masa haid. Setelah melahirkan, dengan hikmah-Nya, Allah azza wa jalla merubahnya menjadi air susu yang merupakan makanan bagi bayi yang dilahirkan. Karena itu, sedikit sekali dari kaum wanita menyusui yang mengalami masa haid. Setelah selesai masa melahirkan dan menyusui, maka darah yang ada tidak berubah serta berada tempatnya, yang kemudian secara normal kembali keluar pada setiap bulannya, yaitu berkisar antara enam atau tujuh hari (terkadang lebih atau kurang dari hari- hari tersebut).

Dalam menjalani masa haid ini, wanita dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu wanita yang baru menjalani masa haid, wanita yang telah terbiasa menjalaniya, dan wanita yang mengalami keluarnya istihadhah.

Wanita yang Baru Menjalani Masa Haid

Yaitu wanita yang baru pertama kali mengeluarkan darah haid. Ketika itu ia berkewajiban meninggalkan shalat, puasa dan hubungan badan, hingga datang masa suci. Apabila masa haid itu telah selesai dalam satu hari atau paling lama 15 hari, maka ia berkewajiban untuk mandi dan mengerjakan shalat. Apabila setelah 15 hari darah tersebut masih tetap mengalir keluar, maka ia dianggap mengalami masa istihadhah. Pada saat itu, hukum yang berlaku baginya adalah hukum wanita yang mengalami masa istihadhah.

Apabila darah haid itu berhenti disekitar 15 hari, lalu ia mengalir lagi selama satu atau dua hari, kemudian berhenti lagi seperti semula, maka cukup baginya mandi, lalu mengerjakan shalat. Selanjutnya, hendaklah ia meninggalkan shalat pada setiap kali mengetahui darah haid itu mengalir.
Wanita yang sedang menjalani masa haid dilarang mengerjakan shalat, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah :
إِذَا أَقْبَلَتِ اْلحَيْضَة فَدَعَى الصَّلَاة (متفق عليه)
Artinya: “Apabila datang haidmu, maka tinggalkanlah shalat.”(Mutafaqun ‘alaih)

Wanita yang Biasa Menjalani Masa Haid

Yaitu wanita yang mempunyai hari-hari tertentu pada setiap bulannya untuk menjalani masa haidnya. Pada hari-hari tersebut, ia harus meninggalkan shalat, puasa dan hubungan badan. Apabila ia melihat darah berwarna kekuning-kuningan atau yang berwarna keruh setelah hari-hari haidnya tersebut, maka ia tidak perlu menghitungnya sebagai darah atau haid. Hal ini sesuai dengan ucapan Ummu Athiyah radhiyallah hu ‘anha:

“Kami tidak memperhitungkan sama sekali darah yang berwarna kekuning-kuningan atau yang berwarna keruh setelah lewat masa bersuci.”(HR. Al-Bukhari)

Apabila ia melihat darah yang berwarna kekuning-kuningan dan yang berwarna keruh itu pada saat tengah menjalani masa haid, maka darah tersebut termasuk darah haid, sehingga ia belum diharuskan untuk mandi, melaksanakan shalat dan puasa.

Sebagian dari para ulama berpendapat bahwa wanita yang menjalani haid melebihi dari hari yang biasa dijalani setiap bulannya, maka hendaklah ia bersuci selama tiga hari dan setelah itu laksanakan mandi serta kerjakan shalat, selama keluarnya darah tersebut tidak lebih dari 15 hari. Karena, apabila melebihi 15 hari, maka dikategorikan sebagai wanita yang mengalami masa istihadhah serta tidak perlu bersuci, akan tetapi cukup dengan melaksanakan mandi dan mengerjakan shalat.

Sebagian dari ulama yang lain berpendapat , bahwa keluarnya darah yang melebihi kebiasaan masa haid itu tidak harus meninggalkan shalat karenanya, kecuali jika terjadinya berulang-ulang, dua atau tiga kali. Sehingga pada saat itu, masa haidnya berubah menjadi masa istihadhah. Ini merupakan pendapat yang jelas dan lebih kuat (rajah)

Wanita yang Mengalami Istihadhah

Yaitu, wanita yang mengeluarkan darah secara terus-menerus melebihi kebiasaan masa berlangsungnya haid. Apabila sebelum mengalami istihadhah seorang wanita Muslimah sudah menjalani haid yang menjadi kebiasaan pada setiap bulannya dan ia mengetahui hari-hari yang biasa terjadi pada masa haidnya tersebut, maka ia harus meninggalkan shalat selama masa haidnya berlangsung pada setiap bulannya. Setelah selesai menjalani masa haidnya itu, ia harus mandi, mengerjakan shalat, mengganti utang puasanya dan boleh berhubungan badan. Akan tetapi, jika ia tidak mempunyai kebiasaan dari masa haid yang tetap dan lupa akan masa atau jumlah hari berlangsungnya haid yang biasa dijalaninya, sedang darah yang mengalir padanya itu berubah-ubah warnanya, terkadang hitam dan terkadang merah, maka ketika darah yang keluar itu berwarna hitam, ia tidak perlu mandi, mengerjakan shalat, puasa dan melakukan hubungan badan.Namun,ia diharuskan mandi dan mengerjakan shalat setelah berhentinya darah hitam tersebut, selama tidak lebih dari lima belas hari.

Sedang apabila darah yang keluar dapat dibedakan antara sebagian dengan sebagian lainnya,Maka ia diharuskan untuk meninggalkan shalat, puasa dan berhubungan badan pada setiap bulannya selama berlangsungnya masa haid yang pada umumnya dijalani oleh kaum wanita, yaitu enam atau tujuh hari. Setelah itu, diwajibkan atasnya mandi dan mengerjakan shalat.

Wanita yang mengalami masa istihadhah harus berwudhu setiap kali akan mengerjakan shalat. Kemudian memakai cawat (celana dalam atau pembalut wanita) dan selanjutnya boleh mengerjakan shalat, meskipun darah masih tetap mengalir. Di samping itu, juga tidak dianjurkan untuk berhubungan badan, kecuali pada kondisi yang sangat mendesak. Dalil yang menjadi landasan mengenai masalah ini adalah hadist dari Ummu Salamah:

“Bahwa ia pernah meminta fatwa kepada Rasulullah mengenai seorang wanita yang selalu mengeluarkan darah. Maka Rasulullah bersabda: Hitunglah berdasarkan bilangan malam dan hari dari masa haid pada setiap bulan berlangsungnya, sebelum ia terkena serangan darah penyakit yang menimpanya itu. Maka tinggalkanlah shalat sebanyak bilangan haid yang biasa dijalaninya setiap bulan. Apabila ternyata melewati dari batas yang berlaku. Maka hendaklah ia mandi, lalu memakai cawat (pembalut) dan mengerjakan shalat.” (HR.Abu Dawud dan An-Nasa’I dengan isnad hasan)

Hadist ditujukan bagi wanita yang mengalami masa istiha-dhah yang mempunyai kebiasaan masa haid teratur. Disamping ada juga hadits dari Fathimah binti Abi Jahsyin, dimana ia pernah mengalami masa istihadhah dan Rasulullah SAW bersabda kepadanya:

“Jika darah haid, maka ia berwarna hitam seperti diketahui banyak wanita. Jika yang keluar adalah darah seperti itu, maka tinggalkanlah shalat. Jika yang keluar adalah darah lain (warnanya, yakni darah istihadhah) maka berwudhulah setelah mandi dan laksanakan shalat. Karena, darah tersebut adalah penyakit.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’I dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Hadist yang terakhir ini ditujukan bagi wanita yang tidak mempunyai kebiasaan dari masa haid yang teratur atau bagi wanita yang lupa akan masa haidnya yang biasa datang menghampirinya pada setiap bulan, dimana darahnya dapat ia bedakan.

Juga hadist Hammah binti Jahsyin, dia menceritakan: “Aku pernah mengalami istihadhah, darah yang keluar itu sangat banyak. Lalu aku datang kepada Nabi SAW untuk meminta fatwa kepadanya. Maka beliau bersabda: sesungguhnya darah itu keluar akibat hentakan dari setan. Jalanilah masa haidmu selama enam atau tujuh hari, kemudian mandilah. Jika kamu telah melihat bahwa dirimu telah suci dan bersih, maka shalatlah pada 24 atau 23 hari berikutnya (pada masa suci) serta puasalah. Cara seperti itu yang boleh kamu lakukan. Disamping itu, lakukanlah sebagaiman yang dilakukan oleh wanita-wanita yang menjalani masa haid setiap bulannya.” (HR. At-Tirmidzi dan beliau menshahihkannya)
Hadits ini ditujukan bagi wanita yang tidak mempunyai kebiasaan dari masa haid yang teratur dan darah yang keluar dari dirinya pun tidak dapat dibedakan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar