Skip to main content

Apa itu Menstruasi (Haid Dalam Islam)

Apa itu Menstruasi (Haid Dalam Islam)

Apa itu Menstruasi (Haid Dalam Islam)
 Well readers fillah, perempuan ialah sosok yang diistimewakan oleh Allah SWT, bahkan ada beberapa rukhsah atau keringanan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya. Salah satunya adalah datang bulan atau biasa disebut haid. Dalam hal ini apabila ada seorang yang mengalami datang bulan atau dalam istilah kerennya menstruasi, maka ia tidak boleh beribadah seperti shalat, puasa, memegang Al-qur’an. Karena ia dalam keadaan tidak suci, oleh karena itu pembahasan kali ini yang ingin penulis paparkan adalah apa itu menstruasi? haid dalam Islam? menstruasi terjadi apabila? tanda-tanda haid? fase menstruasi?

Apa itu Menstruasi (Haid Dalam Islam)

Haid atau datang bulan atau menstruasi adalah darah yang keluar dari Rahim dinding seorang wanita apabila telah menginjak masa benaligh. Haid dijalani oleh seorang wanita pada masa-masa tertentu, paling cepat satu hari satu malam dan paling lama limabelas hari. Sedangkan yang normal adalah enam atau tujuh hari. Sedangkan paling cepat masa sucinya adalah 13 atau 15 hari dan paling lama tidak ada batasnya. Akan tetapi, yang normal adalah 23 atau 24 hari.

Haid / Datang Bulan / Menstruasi Dalam Keadaan Hamil
Apabila seorang wanita hamil, dengan izin Allah darah haid itu berubah menjadi makanan bagi bayi yang tengah berada di dalam kandungannya. Oleh sebab itu, wanita yang sedang hamil tidak mengalami masa haid. Setelah melahirkan, dengan hikmah-Nya, Allah azza wa jalla merubahnya menjadi air susu yang merupakan makanan bagi bayi yang dilahirkan. Karena itu, sedikit sekali dari kaum wanita menyusui yang mengalami masa haid. Setelah selesai masa melahirkan dan menyusui, maka darah yang ada tidak berubah serta berada tempatnya, yang kemudian secara normal kembali keluar pada setiap bulannya, yaitu berkisar antara enam atau tujuh hari (terkadang lebih atau kurang dari hari- hari tersebut).

Dalam menjalani masa haid ini, wanita dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu wanita yang baru menjalani masa haid, wanita yang telah terbiasa menjalaniya, dan wanita yang mengalami keluarnya istihadhah.

Fase Menstruasi: Wanita yang Baru Menjalani Masa Haid
Yaitu wanita yang baru pertama kali mengeluarkan darah haid. Ketika itu ia berkewajiban meninggalkan shalat, puasa dan hubungan badan, hingga datang masa suci. Apabila masa haid itu telah selesai dalam satu hari atau paling lama 15 hari, maka ia berkewajiban untuk mandi dan mengerjakan shalat. Apabila setelah 15 hari darah tersebut masih tetap mengalir keluar, maka ia dianggap mengalami masa istihadhah. Pada saat itu, hukum yang berlaku baginya adalah hukum wanita yang mengalami masa istihadhah.

Apabila darah haid itu berhenti disekitar 15 hari, lalu ia mengalir lagi selama satu atau dua hari, kemudian berhenti lagi seperti semula, maka cukup baginya mandi, lalu mengerjakan shalat. Selanjutnya, hendaklah ia meninggalkan shalat pada setiap kali mengetahui darah haid itu mengalir.
Wanita yang sedang menjalani masa haid dilarang mengerjakan shalat, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah :
إِذَا أَقْبَلَتِ اْلحَيْضَة فَدَعَى الصَّلَاة (متفق عليه)
Artinya “Apabila datang haidmu, maka tinggalkanlah shalat” (Mutafaqun ‘alaih)

Tanda-tanda Haid: Wanita yang Biasa Menjalani Masa Haid
Yaitu wanita yang mempunyai hari-hari tertentu pada setiap bulannya untuk menjalani masa haidnya. Pada hari-hari tersebut, ia harus meninggalkan shalat, puasa dan hubungan badan. Apabila ia melihat darah berwarna kekuning-kuningan atau yang berwarna keruh setelah hari-hari haidnya tersebut, maka ia tidak perlu menghitungnya sebagai darah atau haid.

Hal ini sesuai dengan ucapan Ummu Athiyah radhiyallah hu ‘anha:
“Kami tidak memperhitungkan sama sekali darah yang berwarna kekuning-kuningan atau yang berwarna keruh setelah lewat masa bersuci.”(HR. Al-Bukhari)

Apabila ia melihat darah yang berwarna kekuning-kuningan dan yang berwarna keruh itu pada saat tengah menjalani masa haid, maka darah tersebut termasuk darah haid, sehingga ia belum diharuskan untuk mandi, melaksanakan shalat dan puasa.

Sebagian dari para ulama berpendapat bahwa wanita yang menjalani haid melebihi dari hari yang biasa dijalani setiap bulannya, maka hendaklah ia bersuci selama tiga hari dan setelah itu laksanakan mandi serta kerjakan shalat, selama keluarnya darah tersebut tidak lebih dari 15 hari. Karena, apabila melebihi 15 hari, maka dikategorikan sebagai wanita yang mengalami masa istihadhah serta tidak perlu bersuci, akan tetapi cukup dengan melaksanakan mandi dan mengerjakan shalat.

Sebagian dari ulama yang lain berpendapat , bahwa keluarnya darah yang melebihi kebiasaan masa haid itu tidak harus meninggalkan shalat karenanya, kecuali jika terjadinya berulang-ulang, dua atau tiga kali. Sehingga pada saat itu, masa haidnya berubah menjadi masa istihadhah. Ini merupakan pendapat yang jelas dan lebih kuat (rajah)

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar