Skip to main content

Apa itu Shalat Berjamaah (Pengertian, Hukum dan Syarat-syaratnya)

Apa itu Shalat Berjamaah (Pengertian, Hukum dan Syarat-syaratnya)

Apa itu Shalat Berjamaah (Pengertian, Hukum dan Syarat-syaratnya) Well everybody, jangan pernah bosan untuk membaca ya, karena membaca banyak faedahnya, diantaranya akan menambah pengetahuan, dll. Oiya penulis kali ini akan membahas tentang shalat berjama’ah, hukum-hukumnya, serta syarat-syaratnya. Yuk dibaca dengan seksama supaya faham dan berkah, semoga bermanfaat.

Apa itu Shalat Berjamaah (Pengertian, Hukum dan Syarat-syaratnya)

Pengertian Shalat Berjamaah

Apabila seorang shalat mengikuti seorang yang sholat di hadapannya, dinamakan dua orang itu shalat berjamaah. Orang yang dijadikan panutan dalam gerakan shalat dinamakan Imam, sedangkan orang yang mengikuti itu dinamakan ma’mum. Letak ma’mum apabila hanya seorang hendaklah berdiri di sebelah kanan imam agak kebelakang. Apabila ma’mum lebih dari satu, hendaklah bersaf-saf dibelakang imam.

Hukum Shalat Berjamaah

Shalat berjama’ah itu bagi laki-laki yang sehat tidak dalam bepergian, hukumnya sunnah mu’akad dalam shalat fardhu yang lima, dan fardhu ‘ain dalam shalat jum’at. Sunnah mu’akad artinya sunnah yang dikuatkan, jadi sudah hamper-hampir sebagai wajib. Apabila ada halangan seperti hujan lebat, angina yang deras, sakit dan lain sebagainya, maka tidak disunnahkan berjama’ah. Dalam hal itu sunnah juga berjama’ah dengan keluarga sendiri di rumah sendiri.

Syarat-syarat Shalat Berjamaah

1. Berniat mengikuti imam.
2. Mengetahui segala tingkah laku imamnya: seperti berpindah dari rukun kerukun yang lain, yang berupa perbuatan yang harus dilihat sendiri atau dengan mengetahui ma’mum yang ada dihadapannya, yang berupa suara dapat diketahui dengan didengar sendiri, atau cukup dengan mendengar suara muballigh.
3. Muballigh ialah: ma’mum yang mengeraskan suaranya dalam mengikuti gerakan imam dengan mudah.
4. Tidak mendahului imam dalam takbiratul ihram dan tidak mendahului dua rukun fi’li (berupa perbuatan) serta tidak terlambat pula dua rukun fi’li.
5. Apabila jama’ah itu ditempat selain masjid, antara imam dan ma’mum tidak boleh lebih dari 120 m.
6. Tidak ada dinding antara imam dan ma’mum yang sekiranya ma’mum mendekati imam, dan tidak membelakangi kiblat.
7. Tempat ma’mum tidak boleh di muka imam.
8. Bersesuaian antara shalat imam dengan shalat ma’mum. Tidak boleh shalat fardhu, (zhuhur umpamanya) ma’mum kepada orang yang mengerjakan shalat mayat (tidak dengan ruku’), atau shalat gerhana (ruku’ dua kali-dua kali) dan sebagainya.
9. Tetapi orang yang shalat fardhu, kepada orang yang sedang shalat seperti shalat fardhu, meskipun imam itu mengerjakan shalat sunnah.
10. Ma’mum harys mengikuti imam dalam semua rukun-rukunnya dan sunnah-sunnahnya yang dijalankan oleh imam, sehingga janggal sekiranya tidak diikuti, seumpama sujud sahwi dan sujud tilawah.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar