Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apa itu Radikalisme dan Cara Humas Pemerintah Menanganinya

Apa itu Radikalisme dan Cara Humas Pemerintah Menanganinya Sebuah stigma radikalisme sebagai ancaman NKRI dan Pancasila yang dikumandangkan media mainstream diawali dari pernyataan presiden, dan kemudian diikuti jajaran di bawahnya pada hampir semua kementerian dan koalisi politik.

Kemudian bermunculan beberapa polemik di tengah masyarakat mengenai celana cingkrang, jenggot dan cadar. Polemik menjadi berkepanjangan setelah disuarakan politisi Senayan tentang bahayanya radikalisme.

Apa itu Radikalisme dan Cara Humas Pemerintah Menanganinya

Apa itu Radikalisme dan Cara Humas Pemerintah Menanganinya

Radikal yang berarti mendasar dan radikalisme diartikan sebagai ideologi yang mendasar atau ideologi yang dianut penganutnya tanpa kompromi. Mungkin itu sebabnya ideologi itu dianggap bertentangan dengan NKRI dan Pancasila. 

Radikal atau puritan melekat tak terpisahkan dengan tata nilai kebenaran yang dianut. Itulah makna ideologi yang benar. Konsekuensinya ideologi yang diyakini penganutnya sebagai kebenaran cenderung menjadi radikal atau puritan.

Jika memang radikalisme adalah ancaman bagi kedaulatan sebuah negara yang berdaulat, akan tetapi mengapa upaya pemerintahan dalam memahamkan masyarakat akan bahayanya radikalisme masih belum dirasakan, apakah upaya pemerintahan sudah bisa dinilai cukup dalam menangani kasus radikalisme yang sudah menuai beberapa aksi yang diduga akibat radikalisme? Sehingga masyarakat masih dikatakan rawan sekali terpapar pemahaman radikalisme.

Bagaimana Public Relation atau Humas Pemerintahan Dalam Menangani Radikalisme?

Radikalisme merupakan paham yang menginginkan adanya perubahan/pergantian terhadap suatu paham di masyarakat sampai ke akar-akarnya, bahkan memaksa dengan melakukan cara-cara kekerasan. Tidak hanya itu kelompok radikal ini juga menghendaki perubahan sepenuhnya terhadap semua aspek di kehidupan masyarakat dan juga kondisi dimasyarakat. Terdapat beberapa indikator yang terbilang sikap radikalisme yaitu yang pertama intoleran, kedua fanatik, ketiga selalu menganggap dirinya benar dan yang lain salah, keempat membedakan diri dari kelompok umat islam pada umumnya dan kelima dalam mencapai suatu tujuan kelompok ini menggunakan cara-cara kekerasan
Seiring berkembangnya radikalisme di Indonesia, banyak sekali upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah berkembangnya radikalisme ini agar masyarakat tidak terpapar paham radikalisme yang terjadi di tengah-tengan masyarakat.

Secara garis besar bahwa Kominfo telah melakukan edukasi terhadap masyarakat secara masif dimana Kominfo mengadakan seminar, menyebar tagline yang memuat konten positif, bahkan tidak hanya di lingkungan kota besar seperti Jakarta namun di semua bagian Indonesia yang bekerjasama dengan Dinas Kominfo setempat

Banyak peran dari organisasi dan komunitas sekitar yang juga turut serta untuk meng-counter narasi-narasi yang berbau paham radikalisme dan terorisme, agar masyarakat tidak terdoktrin dengan paham tersebut.

Pemerintah memberikan upaya yang lebih dalam mencegah radikalisme ini berkembang di Indonesia, seperti yang dijelaskan diatas bahwa Pemerintah di ranah media sosial juga menciptakan sebuah Crawling Engine yang berfungsi untuk mengsaring setiap konten-konten negatif untuk ditindak lanjuti. Tidak hanya seorang Tokoh Agama namun berbagai influencer juga dapat memberikan pengaruh untuk mengkampanyekan pencegahan radikalisme ini.

Apakah semua upaya yang dilakukan oleh pemerintah dapat meredam radikalisme? Faktanya masih ada aksi-aksi yang diduga radikalisme?  Mengapa masyarakat masih meiliki potensi besar terpaparnya radikalisme apakah upaya pemerintahan kurang atau pemerintahan sudah kehilangan kepercayaan dari masyarakat?