Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Persiapan Seorang Dai Sebelum Memulai Dakwahnya

Persiapan Seorang Dai Sebelum Memulai Dakwahnya Da'i merupakan seseorang yang telah dipilih untuk menjadi perantara menyampaikan pesan dakwah yang bersumber dari Al-Quran dan Hadist kepada para khalayak yang bertujuan untuk mengubah khalayak menjadi lebih baik lagi. Da’i dalam dakwahnya juga menyampaikan berita gembira dan juga ancaman.

Perbuatan dan tingkah laku da’i juga meenjadi tolak ukur bagi masyarakat sehingga da’i harus memiliki kepribadian yang baik. Dalam menyampaikan pesan dakwahnya da’i harus menyiapkan terlebih dahulu dan menyiapkan dirinya secara matang agar apa yang diharapkan tercapai serta diterima oleh kalangan masyarakat dan di implementasikan kedalam kehidupan sehari-harinya.

Adapun hal yang harus di siapkan oleh da’i sebelum berdakwah kepada masyarakat yakni periapan fisik, persiapan mental, persiapan sikap, mengetahui latar belakang mad’unya, serta menyusun pesan dan mengetahui kebutuhan mad’unya.

Persiapan Seorang Da'i Sebelum Memulai Dakwahnya

Persiapan Seorang Dai Sebelum Memulai Dakwahnya

Pengertian Da’i

Da’i adalah sebutan dalam islam bagi orang yang bertugas mengajak, mendorong, orang lain, untuk mengikuti serta mengamalkan ajaran islam. Da’i menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang kerjanya berdakwah atau pendakwah. Da’i berasal dari bahasa arab bentuk Mudzakar yang artinya orang yang mengajak, jadi da’i orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung atau tidak langsung, melalui lisan, tulisan, atau perbuatan, melalui kegiatan dakwah para da’i menyebarluaskan agama islam dan melakukan upaya perubahan kearah kondisi yang lebih baik menurut Islam 
 
Ada juga pengertian Da’i menurut para pakar yakni :

1. Menurut Hasyimi, Da’i adalah Seorang yang menasehati, para pemimpin dan memberitahukan atau mengingatkan, yang memberi nasihat dengan baik yang mengarah, yang mengonsentrasikan jiwa dan raganya dalam wa‟at dan wa‟id (berita gembira dan berita siksa) dan dalam membicarakan tentang kampong akhirat untuk menyelamatkan orang-orang dalam kesesatan di dunia.

2. Menurut Nasaraddin Lathief mengartikan bahwa da’i itu adalah Muslim dan Muslimat yang menjadikan dakwah sebagai suatu amalan pokok bagi tugas ulama. Ahli dakwah ialah wa’ad, mubaligh mustamin (juru penerang) yang menyeru mengajak dan memberi pengajaran dan pelajaran agama Islam.

3. Menurut Muhamaad Natsir, Da’i yang membawakan dakwah merupakan orang yang memperingatkan atau memanggil agar dapat memilih, yaitu memilih jalan yang membawa pada hal yang tidak merugikan atau kebenaran. 

Persiapan Seorang Da'i

Da'i dalam menyampaikan dakwahnya harus dengan persiapan yang matang agar tujuan dakwah dapat tercapai dan berjalan dengan baik, diantaranya hal-hal yang harus disiapkan yakni :

1. Persiapan Fisik 

Yang dimaksut persiapan fisik yakni usaha yang dilakukan oleh seorang da’i agar selalu menjaga kesehatan tubuhnya agar selalu dalam kondisi optimal atau sehat. Kondisi yang sehat juga mempengaruhi pada penampilan berbicara sewaktu menjalankan tugasnya didepan audience atau Mad’unya.

2. Persiapan Mental

Sedangkan persiapan mental yang dimaksut yakni usaha yang dilakukan seorang da’i untuk menumbuhkan keberanian dan percaya diri, sehingga da’i mampu berbicara dengan tenang ketika melangsungkan dakwah didepan audience. 
Biasanya seseorang yang tidak menyiapkan mentalnya untuk berbicara didepan orang banyak, akan mengalami demam panggung, cemas, kehilangan atau lupa materi, pucat, ragu-ragu bahkan kehilangan semangat ataupun suara. Biasanya untuk mempersiapkan mental hal yang sering dilakukan yakni berlatih berbicara didepan cermin. 

3. Sifat atau Tingkah Laku

Secara sederhana, sifat merupakan ciri-ciri dari tingkah laku. Sifat kepribadian yang mengacu kepada pola konsisten dalam cara individu berprilaku, berfikir, dan merasa. Sifat da’i menurut pandangan Islam, yakni pendapat tokoh-tokoh dakwah berdasarkan ayat Al-Quran dan sunnah. Terdapat tiga sifat utama yang wajib ada pada setiap da’i yaitu memiliki kesabaran yang tinggi, ikhlas dan berlaku jujur.

Keikhlasan disini yakni dalam melakukan dakwah, da’i meniatkan  berdakwah hanya ingin mendapatkan ridho dan pahala Allah bukan dan didalamnya tidak ada unsur Riya’. Sedangkan sabar adalah akhlak yang sering diulang didalam didalam Al-Quran. Sabar adalah suatu sikap menahan gejolak amarah atau emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Shidiq yakni berarti kejujuran dan kebenaran, dalam menyampaikan dakwahnya da’i harus berkata jujur atau didalamnya harus berisi kebenaran. 

Tingkah laku dalam tablighnya, sebelum berbicara atau sedang dalam berbicar. Ada saja yang diperbuat atau dilakukannya. Ada yang sebelum bertabligh memegang bajunya, ada yang batuk-batuk dulu dan lain-lain. Hal ini tentu akan menarik perhatian hadirin. Kemudian di tengah-tengah bertabligh ada pembicaraan yang tenang-tenang saja, ada pula yang sampai menari-nari di atas podium. Tingkah laku yang diperbuat oleh seorang mubaligh hendaknya tidak berlebih-lebihan, karena yang demikian itu akan menyebabkan para hadirin akan menonton tingkahlakunya tanpa mendengarkan dan memperhatikan isi tablighnya. 

4. Penyusunan Pesan

Maddah merupakan pesan yang disampaikan oleh da’i kepada para Mad’unya.Pesan dakwah merupakann unsur yang paling penting dalam pelaksanaan dakwah dan sangat menentukan keberhasilan dakwah. Pesan yang telah disampaikan oleh da’i dapat mendorong mad’u apabila telah direncanakan dengan matang.

Pesan – pesan dakwah terdiri dari materi ajaran-ajaran islam yang ada di dalam firman Allah dan sunnah Rasul-Nya serta pesan-pesan lain yang berisi ajaran islam.yang menjadi sumber dari pesan dakwah yakni berdasarkan Al-Quran dan Al-Haddist, dan ijtihad serta fatwah ulama menjadi pendukung atau penjelas dari Al-Quran dan Hadist.

Dalam menyampaikan pesan dakwah tergantung metode dakwah yang digunakan.Jika metode dakwah menggunakan bil lisan yakni menyampaikan pesannya dengan ucapan atau perkataan dengan berupa ceramah atau khitobah. Sedangkan jika metode dakwah menggunakan metode al-kitab, dengan pesannya berbentuk karya tulis seperti buku, majalah, jurnal, bulletin dan yang laiannya.selanjutnya jika metode yang digunakan dengan cara bil hal yang mana pesannya berbentuk tindakan ataupun prilaku dan sikap teladan untuk untuk mendorong orang lain kepada kebaikan. Sebelum merencanakan metode dan tekhnik penyampainnya dalam pesan dakwah ada langkah yang harus dilakukkan dalam menyusun maddah yakni diantaranya sebagai berikut:

a. Mempunyai data tentang keadaan Mad’unya
b. Menyusun strategi dan pendekatan yang akan digunakan
c. Menetapkan standar isi atau tujuan yang akan dicapai
d. Menyusun materi dakwah yang berhubungan atau berkaitan, dan tetap konsisten dan lengkap
e. Menyediakan media komunikasi yang tepat 

Selanjutnya, perlu juga tekhnik dalam meyusun pesan didalam ilmu komunikasi terdapat beberapa cara yang digunakan untuk menyusun pesan. Menurut Cassandra terbagi menjadi dua macam cara menyusun pesan. Yakni maddah yang bersifat informatif serta menyusun pesan yang bersifat persuasif.

a. Bersifat informatif

Jika model penyampaian pesannya bersifat informatif lebih banyak disasarkan kepada audience yang luas. Maka prosesnya lebih banyak bersifat penyebaran atau difusi, tidak bertele-tele, jelas, dan jangan terlalu banya menggunakan kata kata atau istilah yang tidak lumrah pada kalangan audience atau pendengar. Ada beberapa jenis penyusunan pesan yang sifatnya informatif :

a. Space order, yaitu penyusunan pesan yang melihat tempat atau ruang, seperti internasional, nasional dan daerah.
b. Time order, yaitu penyusunan pesan berdasarkan waktu atau periode yang disusun secara kronologis.
c. Deductive order, yaitu penyusunan pesan mulai dari hal-hal yang bersifat umum kepada yang khusus.
d. Inductive order, yaitu penyusunan pesan mulai dari hal-hal yang bersifat khusus kepada yang umum. 

Contoh dari time order yakni dalam acara sebuah pengajian rutinan yang dilakukan oleh majelis ta’lim, penyampaian maddahnya biasanya bersifat time order, yang mana dalam menyusun pesannya berdasarkan waktu ataupun periode yang telah disusun secara kronologis yang telah disusun sesuai dengan perjalanan bulan yang telah dilalui yang misalkan pada bulan muharram, maka dengan ini da’i dapat menyampaikan apa keutamaan dibulan muharram ataupun kejadian-kejadian di bualan muharram. 

b. Penyusunan Pesan yang bersifat persuasif

Jika penyusunan pesan atau maddah bersifat persuasif yang dari model yang bersifat persuasif ini memiliki tujuan yang bertujuan mengubah pandangan, sikap dan argument audience. Maka dari itu penyususnan pesan yang bersifat persuasif ini mempunyai takaran atau proporsi, yang dimaksut proporsi disini yakni apa yang diinginkan oleh seorang da’i kepada mad’unya baik itu yang telah disebutkan diatas, namun intinya pesan yang telah disusun dan telah disampaikan adannya dampak berupa berubahan yang lebih baik lagi terhadap mad’unya.

Dalam menyampaikan pesan yang bersifat persuasif maka ada cara yang digunakan yakni:

a. Fear appeal, yaitu metode penyusunan atau penyampaian pesan dengan menimbulkan rasa takutan bagi audience dengan menjelaskan dampak negative contohnya seperti ancaman dosa, bencana atau musibah dan siksaan kelak di akhirat. Tehnik ini dalam ilmu da’wah disebut tandzir (memberi peringatan) atau wa’id (pemberian ancaman). Rasa takut tersebut mendorong khalayak mad’u menerima pesan yang disampaikan.

b. Emotional appeal, yaitu menyusun pesan dengan tekhnik membangkitkan emosional audience atau mad’u. Misalnya mengangkat masalah ras, suku, kesenjangan sosial, semangat jihad dan sebagainya. Pesan-pesan yang dapat membakar emosional sangat berpengaruh dalam melahirkan jihad. 

c. Reward appeal, yakni menyusunan pesan dengan menjelaskan janji-janji atau kabar gembira kepada audience yang telah dijanjikan didalamal-quran ataupun hadist. Heilman dan Garner1975 mengatakan bahwa khalayak cenderung menerima pesan atau ide yang penuh janji-janji daripada pesan yang disertai dengan ancaman. Dalam istilah dakwah tehnik reward ini disebut tabsyir (memberi kabar gembira) dan wa’du atau janji pahala, rezeki, ketenangan dan kebahagiaan di syurga.

d. Motivational appeal, yakni cara menyampaikan pesan dengan cara menumbuhkan internal psikologis khalayak dengan memberikan motivasi atau dorongan sehingga mereka dapat mengimplementasikan pesan-pesan itu. Misalnya menanamkan semangat persaudaraan antar sesama, rasa nasionalisme dan sebagainya. 

e. Humorius appeal, yakni menyusun pesan yang ditambahi dengan humor, agar audience tidak merasa bosan, pesan mudah diterima, enak didengar dan bersemangat. Namun harus diusahakan jangan sampai humornya atau leluconnya lebih banyak dari materi pesan yang disampaikan. 

Selain itu pesan dakwah mempunyai beberapa karakteristik berupa:

1. Pesan dakwah yang disampaikan asli dari Allah dan rasul-Nya. Bahwasannya Allah SWT telah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Dan wahyu tersebut disampaikan kepada ummat manusia untuk membimbing mereka ke jalan yang bener.

2. Mudah dimengerti yang Artinya penyampaian tentang gagasan ajaran agama islam dipermudah dan juga mudah dipahami oleh penerima pesan.

3. Menyeluruh yang Artinya mencakup semua bidang kehidupan dengan nilai-nilai mulia yang diterima oleh semua manusia beradab.

4. Bahasa komunikatif yang mana Pesan dakwah bersifat komunikatif karena da‟i akan  lebih dahulu mengenali siapa target dakwahnya dari tingkat pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, bahasa dll. Dengan pemahaman ini da‟i akan mengerti bahasa dan mengerti bagaimana berbaur dengan jamaahnya. 

Selain karakteristik yang telah disebutkan diatas ada juga karakteristik yang lain yakni:

1. Tidak bersifat memaksa (La ikroha fid-dien).
2. Bersifat humanis yakni mengedepankan nilai dan derajat manusia (insaniyyah).
3. Pesan dakwah disesuai dengan kemampuan (La yukalliullohu nafsan illa wus’aha).
4. Pesan dakwah selalu memikirkan baik-baik kondisi sosiologis kalangan mad’u.

Da’i harusnya benar-benar mempersiapkan materi dan pesan dakwah yang akan ditujukan kepada mad’unya yang telah dijelaskan karakteristiknya diatas untuk memenuhi apa yang ditujukan oleh oleh da’i agar tujuannya tercapai semaksimal mungkin. Yang menjadi modal dasar pelaksanaan dakwah yakni kebenaran pesan sebagai wahyu Allah. Dakwah bersumber dari Allah dan perantaranya melalui para da’i untuk menyampaikan maddah kepada audience atau mad’unya. Seperti yang telah kita ketahui bahwa dakwah islam merupakan dakwah rahmatan lil alamin yang didalamnya penuh kasih sayang, yang mana sekarang ini diidentikkan dengan penyebaran yang berisikan kekerasan dan terorisme yang membuat celaka manusia. Dalam islam dikatakan bahwa islam tidak memaksa seseorang untuk memeluk agama islam, yang mana hasil adari dakwah seorang da’i terletak pada kekuasaan tuhan, manusia hanya mempunyai kewajiban menyampaikan atau mengajak kepada agama islam.

5. Kebutuhan mad’u

Istilah mad’u yakni orang yang menerima pesan dakwah atau komunikan dari seorang da’i. Tidak dapat  disangkal bahwa setiap orang mad’u mempunyai harapan pada saat mendengarkan pesan dakwah yang telah disampaikan da’i. Ilyas dan prio menyebutkan kepentingan dakwah itu berpusat kepada apa yang dibutuhkan oleh mad’u bukan kepada apa yang dikehendaki oleh da’i, dakwah seharusnya mengutamakan kepentingan mad’u dan tidak pada kepentingan da’i. 

a. Hak-hak mad’u

Dari perspektif teori komunikasi tentang kaidah salingketergantungan, maka selain kesadaran da’i akan haknya untuk menyampaikan dakwah, ia pun harus mengerti bahwa mad’u juga memiliki hak untuk dipahami secara empati dan simpati menjadi suatu kemestian yang mutlak. Tujuan yang ingin dicapai dari pemenuhan hak ini adalah menjaga suasana kejiwaan mad’u agar tetap betah berada dalam ruang proses komunikasi dakwah dalam tempo yang cukup panjang. 
Efek dakwah yang tidak mungkin muncul hanya dengan sekali atau beberapa kali pertemuan. Efek dakwah yang diharapkan membutuhkan proses yang akan dapat mampu membentuk dan melahirkan pengaruh yang lebih kuat dan permanen dengan da’i dituntuk untuk menjaga harga diri mad’unya yang dapat menghilangkan selera atau bahkan berlangsungnya komunikasi.

b. Klasifikasi mad’u

Mengklarifikasi mad’u memiliki tujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang karakter yang khas dan dimiliki kelompok mad’u tertentu yang tidak ada pada kelompok lainnya. Pengetahuan akan hal ini sangat membantu untuk menentukan kebijakan dakwah mengenai bagaimana cara menyikapi dan berbaur dengan masing-masing kelompok tersebut. Sekaligus mengimplementasikan yang telah terdapat dihadist yang artinya “Berkomunikasilah dengan taraf penalaran mereka.” Pengklarifikasian mad’u juga berguna untuk menentukan metode dakwah yang akhirnya cocok dan tepat sasaran. (efektif dan efisien). 

1. Klasifikasi Mad’u Menurut Sikapnya Terhadap Dakwah  

Pakar dakwah Abdul Karim Zaidan dalam buku ushul al - dakwah , mengelompokan manusia dalam empat kategori berdasarkan sikapnya terhadap dakwah adalah sebagai berikut: 

1. al mala’ (pemuka masyarakat), dalam al-Quran, terminologi al mala’ digunakan untuk arti kelompok sosial yang berstatus sebagai pemuka masyarakat (asyraf al qaum), pemimpin masyarakat (ru’usahum), atau memiliki wewenang atas masyarakat (sadatuhum). Pakar al-Quran Al-Ashfahany menerjemahkan istilah al mala sebagai suatu kelompok orang memiliki pengaruh atas pandangan umum baik lantaran kewibaannya maupun besarnya.

2. Kelompok jumhur al nas (mayoritas manusia). Dilihat dari segi bahasa, jumhur al nas berarti kelompok mayoritas, yakni kelompok terbesar dalam masyarakat. Mereka umumnya terdiri dari kaum lemah yang merupakan lapisan terbesar dalam suatu masyarakat. Dalam bahasa Indonesia, jumhur al nas setara dengan kata rakyat jelata. Bagi Abdul Karim Zaidan, di antara banyak kategori mad’u, jumhur al nas , kelompok yang kemudian disebut sebagai mayoritas manusia ini adalah orang-orang yang paling tanggap menerima seruan dan ajakan dakwah.

3. Kelompok munafiqun (orang-orang munafik) adalah tipe kelompok oportunis yang menyembunyikan kekufuran dibalik keIslamannya. Menurut Zaidan, mereka biasanya ditemukan dalam situasi ketika kebenaran telah menjadi opini publik dan ke-Imanan telah menjadi identitas mayoritas.

4. kelompok al -‘usat (para pendurhaka). Kelompok al usat adalah kategori orang-orang yang masih bimbang dalam menerima kebenaran. Karena itu, keimanan mereka yang tipis dinilai cukup kuat untuk menahannya dari perbuatan-perbuatan maksiat, sekalipun telah menyatakan ke-Islamannya.

2. Pengelompokan Mad’u Berdasarkan Antusiasnya kepada Dakwah

Mengenai sikap mad’u terhadap seruan dakwah, al-Quran menyebutkan tiga kelompok mad’u, yaitu:
 
1. Kelompok yang bersegera dalam menerima kebenaran (al-sabiquna bi al-khairat ). Menurut pakar tafsir kenamaan Wahbah Al-Zuhayli yaitu golongan mad’u yang cenderung antusias pada kebaikan dan tanggap terhadap seruan-seruan dakwah baik yang sunah apalagi yang wajib. Sebaliknya mereka amat takut mengerjakan hal-hal yang diharamkan agama, disamping berusaha sebisa mungkin menghindari yang dimakruhkan atau malah hal-hal yang masih dibolehkan (mubah).

2. Kelompok pertengahan (muqtashid ). Kelompok ini merupakan orang-orang yang mengerjakan kewajiban-kewajiban agama dan meninggalkan yang diharamkan. Namun pada waktu yang bersamaan, mereka kerap kali melakukan hal-hal yang dimakruhkan dan kurang tanggap terhadap kebaikan yang dianjurkan.

3. Kelompok yang menzalimi diri sendiri ( zalim linafsih ). Kelompok terakhir ini adalah kelompok yang senang melampaui batasan-batasan agama, cenderung mengabaikan ( al mufrith ) kewajiban agama dan kerap melakukan larangan-larangan agama. Menurut Al-Biqa’i, kelompok inilah yang justru paling banyak ditemukan dalam masyarakat.

3. Pengelompokan Mad’u Berdasarkan Kemampuannya Menangkap Pesan Dakwah

Adapun juga mengelompokan mad’u berdasarkan kemampuannya dalam menerima pesan dakwah, dalam hal ini terdapat golongan orang yang sering berhubungan dengan kebenaran,  dikarenakan pengetahuannya yang mendalam, kelompok ini terdiri dari para sarjana, pemikir, dan ilmuwan.
Dalam kategori ini, mad’u dikelompokan secara tersusun dari kelompok elite hingga level bawah. Dengan ini, karena kemampuan seseorang untuk menangkap pesan dakwah terkait erat dengan kedalamannya memahami agama serta hakikatnya. Melalui cara pandang ini, filsuf Ibn Rusyd mengkategorikan manusia dalam tige kelompok:

1. Ahl Al-Burhan. Ibn Rusyd menyebut kelompok yang pertama ini sebagai representasi dari pemuka agama yang umum dikenal dengan sebutan ulama atau kaum Burhani yaitu mereka yang dalam menangkap pesan-pesan dakwah didekati dengan mengajukan bukti-bukti demonstratif yang tidak terbantahkan.

2. Ahl Al-Jidal. Kelompok ini adalah kelompok mad’u menengah terkait tingkat pemahaman agamanya. Dalam menerima pesan dakwah mereka belum mampu menyingkap hakikat-hakikat terdalam agama, dan baru cukup didekati dengan dialog ( jadal ) melalui adu argumentasi.

3. Ahl Al-Khittab. Kelompok ini adalah kelompok terbanyak dalam masyarakat. Karena tingkat pemahaman agamanya yang rendah, kelompok mad’u ini tidak tertarik kepada pendekatan-pendekatan dialektis dan belum mampu memahami hakikat terdalam agama. Untuk itu cara retorik ( kitaby ) melalui tutur kata dan nasihat yang baik dalam menyampaikan pesan dakwah dipandang sebagai jalan yang paling bijak.

4. Kategori Mad’u Menurut Keyakinannya

Dalam hal ini mad’u terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok muslim dan kelompok non muslim. Dalam hal ini sistem klasifikasi berfokuskan pada mad’u yang non muslim. Dakwah juga tidak menutup sebelah mata terhadap kelompok non muslim yang bersifat mengingkari kebenaran atau malah berusaha melawan kebenaran itu, yang sulit diajak berdamai ataun bekerja sama dan selalu mengingkari kesepakatan. Mereka selalu menghalani kebebasanorang yang hendak ingin berdakwah dan berusaha menghalangi seseorang yang hendak menerima kebenaran itu. Kelompok ini disebut kelompok orang kafir (harbi) yang dapat ketenaran dalam setiap kelompok agama. Terhadap merekalah da’i dianjurkan untuk menunjukkan sikap bersahabat dalam menyampaikan kebenaran namun lebih kepada sikap tegas, bukan lagi tabliq atau berteman. 

Simpulan

Da’i adalah sebutan dalam islam bagi orang yang bertugas mengajak, mendorong, orang lain, untuk mengikuti serta mengamalkan ajaran islam. Da’i menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang kerjanya berdakwah atau pendakwah. Da’i berasal dari bahasa arab bentuk Mudzakar yang artinya orang yang mengajak, jadi da’i orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung atau tidak langsung, melalui lisan, tulisan, atau perbuatan. Da,i dalam menyampaikan dakwahnya harus dengan persiapan yang matang agar tujuan dakwah dapat tercapai dan berjalan dengan baik, diantaranya hal-hal yang harus disiapkan yakni : Persiapan fisik, Persiapan mental, Persiapan tingkah laku atau sikap, Penyusunan pesan, Kebutuhan mad’u