Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Analisis Psikologis Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Manajer HRD di Apartemen Kalibata City

Analisis Psikologis Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Manajer HRD di Apartemen Kalibata City Masalah kejahatan memang selalu menuntut perhatian yang serius dari waktu ke waktu. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dalam buku kedua sudah mengatur tentang kejahatan. Suatu perbuatan itu dikatakan kejahatan apabila melanggar ketentuan dalam buku kedua Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pada kenyataannya tidak semua kejahatan dilakukan oleh orang yang jiwanya normal.

Perkembangannya di Indonesia, muncul beberapa kasus pidana yang dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa. Berat atau tidaknya suatu gangguan jiwa merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam proses persidangan yaitu untuk menentukan mengenai apakah pelaku dapat dimintakan pertanggungjawaban atau tidak. Seperti halnya dalam Kasus Pembunhan dan Mutilasi yang dilakukan oleh sepasang suami istri di apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Yang mengakibatkan tewasnya seorang manajer HRD PT Jaya Obayashi

Analisis Psikologis Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Manajer HRD di Apartemen Kalibata City

Analisis Psikologis Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Manajer HRD di Apartemen Kalibata City

Analisis

Seperti halnya dalam Kasus Pembunhan dan Mutilasi yang dilakukan oleh sepasang suami istri di apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Yang mengakibatkan tewasnya seorang manajer HRD PT Jaya Obayashi

Sesuai dengan kronologi kejadian yang telah terjadi, kita bisa mengetahui bahwasannya pelaku telah membunuh dan memutilasi korban yang bernama Rinaldi Harley Wismanu dengan menggunakan sejumlah senjata tajam berupa batu bata dan gunting, pisau pemotong daging dan gergaji besi dapat dikategorikan sebagai pembunuhan Tindak Pidana Pembunuhan Yang Mengincar Nyawa. 

Kasus pembunuhan mutilasi yang terjadi di Kalibata City sampai saat ini masih terus didalami oleh pihak kepolisian. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisari Besar Polisi Yusri Yunus alasan kedua pelaku melakukan aksi keji itu yakni karena kelaparan.Kepada Polisi, mereka mengaku sempat tidak bisa membeli makanan sebelum melakukan aksi pembunuhan terhadap korban, RHW. Mereka mengaku sudah beberapa hari tidak makan, sehingga timbul niatan untuk melakukan pemerasan. sebelum berniat melakukan pemerasan disertai pembunuhan terhadap RHW, pelaku LAS memperoleh penghasilan dari memberikan les kimia untuk mahasiswa. Sedangkan DAF merupakan pengangguram yang bergantung hidup pada LAS. 

Namun, sejak pandemi Covid-19 yang terjadi hampir di seluruh negara dunia termasuk Indonesia, LAS tak bisa memungkiri bahwa dia harus kehilangan pekerjaannya. Alhasil, LAS tak lagi memiliki penghasilan. Di sisi lain, kehidupan harus terus berjalan bagi kedua sejoli ini. Selain harus memenuhi kebutuhan hidup, pasangan kekasih itu juga terdesak harus membayar tempat tinggalnya yang merupakan sebuah kos-kosan. Jadi faktor ekonomi yang kemudian mendesak mereka. 
Sebagaimana diketahui, polisi mengungkap kasus pembunuhan dengan cara memutilasi korban yang dilakukan dua sejoli, LAS dan DAF. Pembunuhan itu dilakukan, guna melakukan perampokan terhadap korban. Terbukti, pelaku berhasil menggasak rekening korban sebesar Rp97 juta. Kepada polisi, para pelaku mengaku merampok untuk kebutuhan ekonomi karena baru dipecat dari pekerjaannya akibat Pandemi Covid-19.Akan tetapi keterangan mereka, dinilai tak masuk akal jika melihat cara pelaku menghabiskan nyawa korban. 

Sejoli Djumadil Al Fajri (DAF) dan Laeli Atik Supriyatin (LAS) bisa jadi mengalami gangguan kepribadian. Karena biasanya, orang yang mengalami kelainan kejiwaan dipengaruhi riwayat masa kecil yang kurang baik, seperti sering melihat kekerasan, biasa dipukul, dimaki-maki, seseorang dapat melakukan perbuatan keji dan sadis karena latar belakang kehidupann mereka yang keras Hal itu pula yang kemudian mendorong karakter tersebut melakukan tindak kekerasan. Dalam psikologi biasa disebut sosiopsikopat atau disebut juga psikopat, bisa jadi LAS dan DAF memiliki tendensi gangguan kepribadian. 

Hal ini hanya dugaannya yang bersifat sementara, Sebab, kepastiannya tentu menunggu hasil pemeriksaan psikolog terhadap kejiwaan LAS dan DAF. bahwa orang awam tentu sulit mengidentifikasi kedua tersangka pembunuhan itu sebagai psikopat. Sebab, kedua pelaku tersebut seperti orang normal pada umumnya. Merujuk pemberitaan media,  memang perbuatan LAS dan DAF didasari motif ekonomi. Namun, jiwa psikopatlebih cenderung memiliki kecerdasan yang baik. Orang psikopat itu ada di sekitar kita. Jadi jiwa seorang  psikopat itu merupakan orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.

Jelas diketahui dari kronologi diatas, DAF dan LAS mengnhabisi korbannya di Apartemen Pasar Baru Mansion, Jakarta Pusat pada 9 September lalu. Atas ide DAF, LAS merayu korbannya agar mau berhubungan badan, dan pada Saat tengah bercumbu, DAS muncul dari dalam kamar mandi dan langsung menghantam kepala korbannya dengan batu bata yang sudah disiapkan dan selanjutnya, DAF dan LAS menusuk korban beberapa kali, Setelah korban dipastikan tak bernyawa, keduanya memotong-motong tubuh korbannya menjadi 11 bagian. Bagian tubuh korban itu lalu dimasukkan ke dalam tas kresek dan koper. Selanjutnya, potongan tubuh korban itu dibawa dan disimpan di Apartemen Kalibata City.

Terbaru, polisi menyatakan, saat memotong-motong tubuh korban, DAF dalam kondisi tenang dan sadar. Karena itu, sudah cukup jelas terlihat bahwa tersangka sepertinya sudah cukup berpengalaman melakukan perbautan tersebut tanpa adanya rasa takut akan hal apapun dilihat dari bagaimana tenang nya kedua pelaku saat memotong – motong bagian tubuh korban. 

Hukum

Karena perbuatan ini kedua korban dapat dijatuhi hukuman Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat Pasal 340 KUHP jo Pasal 338 KUHP jo Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman mati.
Berikut Undang-Undang yang dapat menjerat Djumadil Al Fajri alias DAF dan Laeli Atik Supriyatin alias LAS sebagai tersangka pelaku pembunuhan dan mutilasi beserta hukuman pelanggarannya yakni KUH Pidana :

1. Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tentang Pembunuhan berencana, yakni berbunyi: 
“ Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun."

2. Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tentang Pembunuhan Biasa, yakni berbunyi:
“ Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain. Diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.”

3. Pasal 365 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tentang Pasal Pencurian dengan Kekerasan sebagai Pemberatan dari Pasal Pencurian Biasa, yakni berbunyi:

1) Diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri. 

2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun:

a) Jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada dirumahnya, dijalan umum, atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan;
b) Jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
c) Jika masuk ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu;
d) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat.

3) Jika perbuatan mengakibatkan kematian, maa diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

4) Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan lika berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no 1 dan 3. 

Simpulan

Penegakan hukum merupakan tidak hanya kewajiban aparat penegak hukum, melainkan kewajiban seluruh elemen masyarakat. Setiap warga harus memiliki kontribusi dalam penegakan hukum sehingga tercipta kondisi adil, tertib dan damai. Psikologi sebagai suatu disiplin ilmu tentang perilaku manusia berusaha untuk berkontribusi dalam penegakan hukum dalam bentuk memberikan pengetahuan dan intervensi psikologis yang berguna dalam proses penegakan hukum. peran psikologi dapat dimulai dari pencegahan, penanganan, pemindanaan dan pemenjaraan. Indikator penegakan hukum yang baik dalam perspektif psikologi adalah adanya perubahan perilaku pelaku pidana ke arah yang lebih baik, artinya pelaku pidana tidak melakukan perbuatan melanggar hukum. 

Terkait mengenai kondisi Psikologi kedua tersangka masih lebih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut mengenai jiwa psikopat yang dimiliki kedua tersangka. 
Berdasarkan pada kasus diatas sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kasus tersebut dapat dikenakan Pasal 340 KUHP merupakan pembunuhan yang paling berat ancaman pidananya dari seluruh bentuk kejahatan terhadap nyawa manusia, terlebih juga ditambah dengan melakukan mutilasi terhadap korban untuk menghilangkan jejak, dan juga tindakan pencurian dengan kekerasan  tentu saja pemidanaan yang dijatuhi  merupakan pasal berlapis 340 KUHP, 338 KUHP dan 365 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup

Lebih berat ancaman pidana pada pembunuhan berencana. Penerapan hukuman mati Pasal 340 KUHP terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan berencana yang berkapasitas sangat serius dan dilakukan dengan kejam, sadis dan betul-betul melanggar nilai-nilai tertinggi kemanusiaan. Hal ini terbukti bahwa terdakwa LAS bersama dengan suaminya DAF sebagai fakta telah menunjukkan adanya satu orang lebih melakukan perbuatan kepada korban Renaldi, secara bersama-sama (mede dader) sehingga terhadap unsur ini sudah jelas bahwa telah terpenuhi. Perbuatan para terdakwa memang benar telah terpenuhi dan terbukti menurut hukum. Berdasarkan alat-alat bukti yang sah yang terungkap dipersidangan juga semakin membuktikan terdakwa memenuhi semua unsur-unsur pidana.