Skip to main content

Analisis Faktor Budaya Kerumunan Pada Masa Pandemi Covid-19

Analisis Faktor Budaya Kerumunan Pada Masa Pandemi Covid-19

Analisis Faktor Budaya Kerumunan Pada Masa Pandemi Covid-19 Budaya berkerumun sudah ada sejak dulu baik dalam sekala besar atau kecil, biasanya hal ini terjadi apabila ada acara-acara yang berupa peribadatan agama, upcara, demonstrasi, event, dan acara yang lainnya. Hal tersebut tidak bisa dipisahkan, karena sejatinya manusia ada mahkluk sosial.

Di Indonesia berkerumun adalah hal yang lumrah dalam acara apapun dan sudah membudaya, banyak sekali acara-acara atau kondisi tertentu yang dapat mengundang massa berkerumun dan itu sudah menjadi bagian dari Indonesia, itu sebelum Indonesia dilanda pandemi Covid 19 dimana memunculkan kegelisahan sehingga muncullah budaya baru yaitu dimana orang-orang tidak boleh berkerumun, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan. Munculnya budaya baru ini mau tidak mau harus diterima oleh masyarakat, karena menyangkut dengan kesehatan.

Begitu pula dengan masyarakat dunia, dengan kemajuan teknologi yang berupa media internet, media sosial dsb. Hal ini memudahkan suatu budaya tertentu menyebar dengan cepat. Sehingga memungkinkan bahawa budaya berkemurun menyebar dengan cepat di media sosial. Dimana kita ketahui di salah satu media sosial You Tube di channel luar banyak sekali content-content acara konser yang mengundang banyak sekali massa. Sehingga tidak menutup kemungkinan budaya-budaya baru yang ada di suatu negara hasil dari penyebaran informasi di Media Sosial.

Analisis Faktor Budaya Kerumunan Pada Masa Pandemi Covid-19

Faktor yang Menyebabkan Seseorang Melakukan Tindakan Komunikasi “Berkerumun”

Pertama Faktor Biologis Manusia merupakan makhluk yang merdeka dan dilahirkan dengan kecenderungan untuk berkumpul dengan orang lain. Kebutuhan biologis ini pula yang menjadi alasan utama seseorang berkumpul dengan orang lain. Kebutuhan itu semakin mendesak lantaran lebih dari tiga bulan masyarakat terkungkung di rumah sendiri.

Kedua Faktor Rasional Dari data-data objektif dan fakta yang ada seharusnya membuat orang takut. Tapi manusia tidak digerakkan oleh faktor rasional. Sehingga kemudian alasan rasional seperti ada penyakit yang berbahaya terkalahkan dengan rasa rindu dan rasa senang yang semuanya adalah emosi, ini menjadi poin penting dimana masyarakat rasa ingin bertemu dan bersosial secara langsung sangat tinggi, karena sudah lama terkurung ini tercermin pada kasus Habib Rizieq dimana kerinduan masyarakat terhadap beliau sangat tinggi sehingga mengundang massa yang berkerumun.

Faktor rasional ini didukung oleh pengetahuan dan pengalaman. Masyarakat masih belum punya pengetahuan cukup dan juga pengalaman nyata yang langsung berhubungan dengan Covid-19.

Faktor ini pula yang membuat terjadinya perbedaan sikap masyarakat di saat awal pandemi yang penuh dengan ketakutan. Kini, masyarakat tampak santai meski jumlah kasus sudah mencapai lebih dari 45 ribu kasus positif.

Ketiga Faktor Ekonomi Dimana manusia juga merupakan makhluk yang pandai bertahan hidup. Saat ada acara-acara digelar, sejumlah pedagang bermunculan karena kebutuhan akan ekonomi dan juga untuk bertahan hidup.

Mengapa mereka lebih memlih “budaya” berkerumun dibandingkan “budaya” kesehatan yang harus menghindari kerawanan di saat Pandemi?

Karena adanya asumsi di masyarakat bahwa mereka sudah terkurung lebih tiga bulan tetapi hasilnya tetap sama sehingga mereka menganggap enteng terhadap pandemi covid 19 dan memberanikan diri untuk keluar dengan massa. 

Disisi lain sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Drajat Tri Kartono mengungkapkan, “Fenomena tersebut terjadi karena kurang eratnya social control yang dilakukan oleh negara” Dalam hal ini pemerintah harus tegas terhadap masyarakat yang melanggar baik dari protokol kesehatan atau kerumunan massa yang memiliki potensi penyebaran virus ini. Salah satu nya dengan mengeluarkan sanksi terhadap pelanggar agar terbangun inisiatifnya untuk menyadari bahaya akan virus corona.

Selain itu pemerintah harus terus menerus mengedukasi bahaya covid 19 dan cara menjaga kesehataannya, akan tetapi yang manjadi catatn adalah masyarakat apakah percaya dengan pemerintahan? mengingat banyak sekali pelanggaran yang dilakukan masyarakat.

Bagaimana Proses Seseorang Dapat Berkerumun Dalam Suatu Momentum Tertentu? 

Dalam perkembangan pesatnya tekhnologi dimana mudahnya orang mengirim sebuah informasi tanpa ada halangan jarak, seperti kita ketahui teknologi tersebut sudah ada, yang berupa media sosial. Mudah sekali seseorang dalam mengumpulkan massa, didalam media sosial sudah memiliki fitur seperti broadcast, group dll. Dimana dapat menginformasikan pesan langsung kepada massa.

Sehingga informasi-informasi yang ada dimedia sosial mudah sekali tersebar, misalnya brosur atau poster konser, pengajian yang mengundang banyak massa.

Apakah Suatu Tempat, atau Waktu Tertentu dapat Menyebabkan Seseorang Memilih untuk Berkerumun?

Waktu tertentu juga memiliki potensi yang besar sekali yang menyebabkan orang untuk berkerumun. Hari-hari besar tentu juga mengundang massa ketika orang menganggap bahwa hari itu adalah hari yang sakral, penuh keberkatan dan kebahagiaan. Misalnya hari Idul fitri dan Idul adha dimana sudah menjadi kebiasaan orang muslim untuk sholat berjamaah pada pagi hari, selain itu di hari tersebut juga orang biasa mengunjungi rumah temen kerabat, ketika kondisi Pandemi orang dilarang melakukan itu semua, masyarakat akan merasa ada yang hilang, kurang sempurna sehingga ketika hari eid kemaren terutama masyarakat desa yang kental dengan budaya keagamaannya mereka tetep melakukan rutinitas di hari eid dan mereka memiliki anggapan bahwa ketika mereka mati itu adalah tak dir tuhan, dan juga keinginan untuk tidak melewati momen yang sakral tersebut.

Tempat keramat tentu mengundang banyak massa, apalagi guru sesepuh di desa-desa misalnya seseorang pergi ke sebuah makam seorang wali dengan berharap keberkahan, itu yang diajarkan sehingga banyak sekali masyarakat yang berbondong-bondong ke makam wali untuk berziarah. Dan banyak lagi tempat lainnya seperti mekkah, madina, makam rosul dan sahabat dsb. yang memiliki potensi besar untuk orang berkerumun karena sudah tertanam didalam pikiran mereka bahwa itu mendatangkan kebaikan sehingga muncul asumsi  dalam masyarakat khususnya masyarakat desa “mengapa kita tidak bisa melakukan kebaikan?”

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar