Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tafsir Ayat Tentang Tujuan Dakwah

Tafsir Ayat Tentang Tujuan Dakwah - caraku.id Keberadaan dakwah sangat urgen dalam Islam. Antara dakwah dan Islam tidak dapat dipisahkan yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana diketahui, dakwah merupakan suatu usaha untuk mengajak, menyeru, dan mempengaruhi manusia agar selalu berpegang pada ajaran Allah guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Usaha mengajak dan mempengaruhi manusia agar pindah dari suatu situasi ke situasi yang lain, yaitu dari situasi yang jauh dari ajaran Allah menuju situasi yang sesuai dengan petunjuk dan ajaran-Nya.

Setiap muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam kepada seluruh umat manusia, sehingga mereka dapat merasakan ketentraman dan kedamaian Dakwah Pada dasarnya menjadi kewajiban bagi setiap umat Islam. Meskipun porsi dalam melaksanakan dakwah ini berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya, sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Namun sejauhmana keberhasilan dakwah tersebut dan apa kriteria dan indikator yang digunakan untuk menilai berhasil tidaknya dakwah, Pada hakikatnya, dakwah dapat dikatakan berhasil bilamana mencapai tujuan yang telah digariskan.

Tafsir Ayat Tentang Tujuan Dakwah

Tafsir Ayat Tentang Tujuan Dakwah

A. Tujuan Dakwah

Telah cukup banyak rumusan tujuan dakwah yang dikemukakan para pakar dakwah, Dalam pandangan M. Syafaat Habib, tujuan utama dakwah adalah akhlak yang mulia (akhlâq al-karîmah). Tujuan ini, menurutnya, paralel dengan misi diutusnya Nabi Muhammad SAW. yaitu untuk menyempurnakan akhlak. Berdasarkan hadis “innamâ bu‘itstu li utammima makârim al-akhlâq” (aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia). Dengan akhlak yang mulia ini, manusia akan menyadari fungsinya sebagai manusia, yakni abdi atau hamba Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya akan berbakti kepada-Nya, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, kemudian menegakkan prinsip “amar ma’rûf nahy al-munkar”.

Tujuan tersebut akan lebih menukik jika dikuatkan dengan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam kaitan ini, menarik untuk mencermati klaim ‘Alî Gharishah, bahwa ibadah yang pertama sebelum salat diwajibkan adalah akhlak atau ajaran moral. Lama sebelum salat diwajibkan, di Makkah telah turun wahyu Allah tentang moral, yaitu ajaran tentang budi pekerti mengenai baik dan buruk. Ayat-ayat dimaksud bisa dilihat dalam Q.S. Al-An‘âm/6: 151-153 dan Q.S. al-Isrâ’/17: 23-39.

Jamaluddin Kafie mengklasifikasi tujuan dakwah ke dalam beberapa tujuan. Pertama, tujuan hakiki yaitu mengajak manusia untuk mengenal Tuhannya dan mempercayai-Nya sekaligus mengikuti jalan petunjuk-Nya. Kedua, tujuan umum, yaitu menyeru manusia untuk mengindahkan dan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Ketiga, tujuan khusus, yaitu bagaimana membentuk suatu tatanan masyarakat Islam yang utuh (kâffah). Rumusan tujuan ini agaknya telah mencakup sebagian besar prinsip-prinsip dasar pengejawantahan ajaran Islam yaitu iman, ibadah, ketundukan pada hukum-hukum Allah dan terwujudnya kehidupan masyarakat yang islami.

Abdul Rosyad Saleh membagi tujuan dakwah ke dalam dua bagian yaitu tujuan utama dan tujuan departemental. Tujuan pertama adalah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah SWT. Tujuan kedua adalah nilai-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridhai Allah SWT. sesuai dengan bidangnya. Tujuan pertama ini sejalan dengan rumusan pengertian dakwah yang diajukan oleh Syaikh ’Alî Mahfûzh bahwa dakwah adalah “mengharuskan manusia melakukan kebaikan dan petunjuk memerintahkan yang ma’rûf dan mencegah yang munkar untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.”

Pada al-Qur’an sebagai kitab dakwah, Syukri Sambas, sebagaimana dikutip Agus Ahmad Safe’i, merumuskan tujuan dakwah sebagai berikut. Pertama. Membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang (Q.S. alBaqarah/2: 257). Kedua. Menegakkan shibghah (celupan) Allah dalam kehidupan (Q.S. al-Baqarah/2: 138). Ketiga. Menegakkan fitrah insaniyah (Q.S. al-Rûm/30: 30). Keempat. Memproporsikan tugas ibadah (Q.S. al-Baqarah/2: 21). Kelima. Mengestafetkan tugas kenabian dan kerasulan (Q.S. al-Hasyr/59: 7). Keenam. Menegakkan aktualisasi pemeliharaan agama, jiwa, akal, generasi dan kualitas hidup. Ketujuh. Perjuangan memenangkan ilham takwa atas ilhamfujûr.

B. Pendapat Ulama Tentang Tercapainya Tujuan Dakwah

Islam seperti yang dikatakan Prof. Max Miller (1991:98) adalah agama dakwah, artinya pesan Islam itu harus disampaikan sebagai kebenaran dan usaha tersebut merupakan tugas suci. Jadi dakwah sebagai proses penyampaian pesan keagamaan ini merupakan instrument Islam untuk menanamkan nilai kebenaran yang mutlak

Akan tetapi, dalam hidup dan kehidupan ini selalu terjadi dinamika hidup yang menggeser makna hidup itu sendiri. Sementara itu Islam sebagai agama dakwah menghendaki tatanan kehidupan yang ideal, serasi, harmonis, baik dari aspek material, maupun spiritual.

Drs. Abu Risman (1999 : 45) merumuskan tujuan dakwah adalah untuk memasyarakatkan ajaran Islam, agar manusia menjalani kebahagiaan hidup di dunia dan sejahtera di akhirat.

Secara Implisit, Dr. M. Quraish Syihab (1990 : 20) mengemukakan tujuan dakwah dalam melihat peran intelektual muslim sebagai unsur control sosial (al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahiy ‘an al-munkar).

1. Mempertebal dan memperkokoh iman kaum muslimin, sehingga tidak tergoyahkan oleh pengaruh-pengaruh negatif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau paham-paham yang membahayakan negara, bangsa dan agama, juga berusaha agar umat Islam terpanggil untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan mereka terhadap agama Islam.

2. Meningkatkan tata kehidupan umat dalam arti yang luas dengan mengubah dan mendorong mereka untuk menyadari bahwa agama mewajibkan mereka untuk berusaha menjadikan hari esok lebih cerah dari hari ini. Hal ini tidak dapat tercapai kecuali dengan kerja keras serta kesadaran akan keseimbangan hidup dunia dan akhirat.

3. Meningkatkan pembinaan akhlak umat Islam, Sehingga memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. dengan ini dapat terwujud etos kerja dan ukhuwah islamiyah dalam mewujudkan kerukunan beragama. 

Abdul Kadir Munsyi (2004 : 20-25) memberikan 3 pokok urgensi dari tujuan dakwah yaitu:

1. Mengajak manusisa seluruhnya agar menyembah Allah Yang Maha Esa, tanpa mempersekutukannya dengan sesuatu dan tidak pula bertuhankan selain Allah.

2. Mengajak kaum muslimin agar mereka ikhlas beragama karena Allah, menjaga agar supaya amal perbuatannya, jangan bertentangan dengan iman.

3. Mengajak manusia untuk mengimplementasikan hukum Allah yang akan mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan bagi umat manusia seluruhnya

C. Tafsir Ayat Tentang Tujuan Dakwah

1. Alfatih : 28

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. 

Tafsir Jalalyan

(Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya) agama yang hak itu (terhadap semua agama) atas agama-agama yang lainnya. (Dan cukuplah Allah sebagai saksi) bahwasanya kamu diutus untuk membawa hal tersebut, sebagaimana yang diungkapkan-Nya pada ayat berikut ini.

2. Al-hajj : 41

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

Tafsir Jalalyan

            (Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi) dengan memberikan pertolongan kepada mereka sehingga mereka dapat mengalahkan musuh-musuhnya (niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar) kalimat ayat ini menjadi Jawab Syarat; dan Syarat beserta Jawabnya menjadi Shilah dari Maushul, kemudian diperkirakan adanya lafal Hum sebelumnya sebagai Mubtada (dan kepada Allahlah kembali segala urusan) di akhirat, semua urusan itu kembali kepada-Nya. 

3. Al Kahfi : 29

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al-kahfi : 29)

Tafsir Jalalyan

(Dan katakanlah) kepadanya dan kepada teman-temannya, bahwa Alquran ini (adalah benar datang dari Rabb kalian, maka barang siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir). Kalimat ayat ini merupakan ancaman buat mereka. (Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu) yaitu bagi orang-orang kafir (neraka, yang gejolaknya mengepung mereka) yang melahap apa saja yang dikepungnya. (Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih) seperti minyak yang mendidih (yang menghanguskan muka) karena panasnya, jika seseorang mendekat kepadanya (seburuk-buruk minuman) adalah minuman itu (dan ia adalah sejelek-jelek) yakni neraka itu (tempat istirahat). Lafal Murtafaqan sebagai lawan makna yang telah disebutkan di dalam ayat yang lain sehubungan dengan gambaran surga, yaitu firman-Nya, "Dan surga itu adalah tempat istirahat yang paling indah" (Q. S, 18 Al-Kahfi, 31). Jika tidak diartikan demikian, maka tidaklah pantas neraka dikatakan sebagai tempat istirahat.

4. An-nahl : 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Tafsir jalalyan

(Serulah) manusia, hai Muhammad (kepada jalan Rabbmu) yakni agama-Nya (dengan hikmah) dengan Alquran (dan pelajaran yang baik) pelajaran yang baik atau nasihat yang lembut (dan bantahlah mereka dengan cara) bantahan (yang baik) seperti menyeru mereka untuk menyembah Allah dengan menampilkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Nya atau dengan hujah-hujah yang jelas. (Sesungguhnya Rabbmu Dialah Yang lebih mengetahui) Maha Mengetahui (tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) maka Dia membalas mereka; ayat ini diturunkan sebelum diperintahkan untuk memerangi orang-orang kafir. Dan diturunkan ketika Hamzah gugur dalam keadaan tercincang; ketika Nabi saw. melihat keadaan jenazahnya, lalu beliau saw. bersumpah melalui sabdanya, "Sungguh aku bersumpah akan membalas tujuh puluh orang dari mereka sebagai penggantimu.

Simpulan

Sebagai kewajiban dan tugas suci, dakwah seharusnya diarahkan sesuai dengan petunjuk al-Qur’an. Hal ini dimaksudkan agar dakwah tetap berjalan di atas tujuan yang telah dirumuskan al-Qur’an. Tujuan-tujuan tersebut ditentukan oleh Tuhan yang mewajibkan dakwah itu sendiri.  Tugas dai atau lembaga dakwah adalah menyesuaikan dan mengarahkan dakwahnya pada tujuan dimaksud. Munculnya agama Islam pada awalnya memang dimaksudkan untuk melepaskan manusia dari alam kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Tujuan ini akan tercapai bilamana manusia mengenal Tuhan, Penciptanya dan bagaimana mereka bersikap dan berbuat kepadaNya. Iman yang benar dari upaya dakwah akan terefleksi dalam ibadah dan akhlak. Dakwah yang berhasil akan mampu memenangkan ilham atasfujûr, mampu mengantar manusia menemukan fitrahnya, mendorong tercapainya manusia paripurna. Tujuantujuan ini sesungguhnya akan bermuara pada terwujudnya insan-insan yang bertakwa.