Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Studi Media Global Perspektif Etnografi Patrick D. Murphy and Marwan M. Kraidy

Review Media Global Perspektif Etnografi Patrick D. Murphy and Marwan M. Kraidy - caraku.id Drotner( 1994 serta 1996) berkomentar kalau kita wajib mengakui kalau atensi dalam pendekatan etnografi timbul secara agresif pada waktu yang bertepatan dalam bermacam area riset geografis serta disiplin. Global Media Studies mengeksplorasi tantangan teoretis serta metodologis yang mendefinisikan riset media global selaku sesuatu disiplin. Menekankan jalinan globalisasi dengan budaya lokal, koleksi ini memikirkan keragaman fashion penerimaan, konteks penerimaan, pemakaian konten media, serta ikatan kreatif yang dibesarkan oleh pemirsa dengan serta lewat media.

Lewat riset permasalahan etnografi dari Brasil, Denmark, Inggris, Jepang, Lebanon, Meksiko, Afrika Selatan, Turki serta Amerika Serikat, para kontributor mangulas isu- isu semacam apa yang menghubungkan mengkonsumsi media dengan budaya global yang hidup; kedudukan apa yang dimainkan oleh tradisi budaya secara global dalam mengalami kekuatan transnasional; serta gimana elemen- elemen global dari pesan- pesan yang dimediasi mendapatkan kelas, ciri regional serta lokal.

Review Studi Media Global Perspektif Etnografi Patrick D. Murphy and Marwan M. Kraidy

Review Media Global Perspektif Etnografi Patrick D. Murphy and Marwan M. Kraidy

A. Mengarah pendekatan etnografi terhadap kajian media global( Patrick D. Murphy serta Marwan Meter. Kraidy)

Buat sebagian besar sejarah dini riset penerimaan media, periset kualitatif dalam komunikasi serta kajian media menciptakan etnografi audiens yang kerap secara teoritis mutahir namun secara empiris tipis. Termotivasi oleh riset budaya, yang sangat nyata oleh model pengkodean serta dekode Stuart Hall, studi media kualitatif mengadaptasi konsep dari semiotika, teori reaksi pembaca, serta apalagi psikoanalisis, buat membangun alasan konseptual yang terus menjadi dipoles. Terlepas dari tempat etnografi di balik budaya ini serta pengaruh berikutnya di lapangan, perkembangan teoretis terjalin dengan mempertaruhkan pengembangan metodologis. Daripada menampilkan komitmen buat pencelupan, membangun keyakinan, pengamatan jangka panjang, ataupun partisipasi dalam kehidupan tiap hari partisipan riset, korpus pekerjaan penerimaan diisyarati dengan ketergantungan pada kelompok dialog, pesan dimohon serta tidak dimohon serta wawancara mendalam. Kesenjangan ini memupuk tradisi penyelidikan“ etnografi” di mana observasi serta deskripsi partisipan yang ketat biasanya tidak terdapat( Abu- Lughod, 1997; Nightingale, 1993), serta kerap digantikan oleh pemakaian etnografi yang terus menjadi tekstual serta retoris.

Tetapi apa alibi dari perpindahan ke arah riset“ kuasi- etnografi” ini? Serta kenapa begitu banyak riset yang jelas- jelas kurang mempunyai mandat etnografis sudah diformulasikan di dasar rubrik etnografis? 3 aspek yang membentuk politik serta praktek akun etnografi media buat pembagian antara aplikasi metode etnografi yang diumumkan serta bersamaan dengan keterbelakangan pengalaman lapangan.

Aspek awal yang membentuk hubungan- hubungan antara teori serta praktek etnografi merupakan" ekonomi politik" dari keilmuan etnografis. Ekspansi kerja lapangan yang lebih lama, memerlukan sumber energi institusional serta waktu yang signifikan yang cenderung terkonsentrasi di sekelompok elit universitas terpilih. Ironisnya, riset khalayak media, itu sendiri pengakuan demokratis tentang berartinya hiburan massal dalam kehidupan tiap hari dari kelas pekerja serta khalayak kelas menengah, senantiasa di dasar ancaman jadi hak istimewa epistemologis dari para sarjana yang didanai dengan baik di lembaga elit.

Kedua, banyak ahli media yang mengalami permasalahan teoritis dari" posting"( poststrukturalisme, postmodernisme serta postkolonialisme) saat sebelum kekacauan kerja lapangan diawali serta dikerjakan. Dampaknya, terus menjadi banyak etnografi media sudah dibangun lebih oleh kritik terhadap ikatan etnografi dengan kolonialisme serta wacana Barat daripada oleh kejutan serta produktivitas pertemuan lapangan( Murphy, 1999a). Dengan kata lain, kekhawatiran politik atas etnografi sebagian besar sudah mengungguli isu- isu epistemologis- sebuah titik ketegangan yang sudah membatasi induksi etnografi ke dalam tradisi penyelidikan kualitatif yang lebih luas dalam komunikasi, paling tidak selaku industri yang secara empiris ketat. Sebagaimana dipaparkan dalam pengembangan bab ini, kami tidak mengabaikan dimasukkannya permasalahan kekuasaan serta ketidaksetaraan dalam keilmuan etnografis. Kenyataannya, etnografi mempunyai tempat sentral dalam beasiswa budaya- kritis serta memikul beban spesial kala menyangkut permasalahan kekuasaan serta ketidaksetaraan sebab pemikirannya tertuju pada aplikasi kehidupan tiap hari. Apa yang kita perdebatkan, malah membiarkan isu- isu ini mendefinisikan aplikasi etnografi sedemikian rupa sehingga tugas periset jadi lebih kecil daripada mengetuk suara yang tertindas ataupun momen perlawanan taktis serta mengartikulasikannya ke teori. Kebalikannya, bila permasalahan kekuasaan serta ketidaksetaraan wajib dikira sungguh- sungguh, mereka butuh direlokasi di jantung aplikasi etnografi serta diberikan semacam riset dekat yang membolehkan kita buat berpikir secara konkret serta kreatif tentang gimana mereka bekerja lewat serta dibangun oleh budaya praktek.

Yang ketiga, serta bisa jadi alibi sangat mendasar buat kesenjangan antara pelaksanaan metode etnografi serta pengalaman lapangan merupakan watak lapangan kerja yang sangat menantang pada penerimaan media. Misalnya, gimana seorang" berpartisipasi" dalam konteks" tertutup"( kamar tidur, mobil, ruang tamu, headphone, dll.) Dari banyak mengkonsumsi media? Berbeda dengan ruang- ruang yang kurang tertutup serta lebih berperforma- performatif yang sudah jadi situs- situs adat buat penyelidikan etnografi sejauh sejarah antropologi, teknologi media menghasilkan area serta aplikasi penerimaan yang terus menjadi seksual, mikrokosmos serta virtual. Perihal ini membuat gagasan observasi partisipan terhadap audiens media sangat susah dalam banyak permasalahan, serta menganjurkan pemikiran ulang tentang apa yang ialah“ melaksanakan kerja lapangan.” Di mari kami menganjurkan etnografi media dimengerti selaku proses riset pembuatan komunitas serta membuat obrolan yang menggarisbawahi sistematis serta investasi jangka panjang dalam wujud, tujuan, serta aplikasi.

1. Pengetahuan serta kompleksitas penerimaan media

Kala memikirkan gimana 3 aspek yang dijabarkan di atas menyatu sepanjang bertahun- tahun serta memupuk sejarah etnografi media semu- etnografi, satu wajib bertanya: apa yang membuat etnografi media“ baik”? Riset yang lebih baru semacam yang dicoba Gillespie( 1995), Mankekar( 1999), Tufte( 2000) serta sebagian riset yang disajikan di Ginsburg, Abu- Lughod serta Larkin( 2002) sudah menampilkan isyarat menjembatani kesenjangan antara deskripsi serta kerja lapangan, secara konkret menampilkan kalau pencelupan budaya serta observasi partisipan jangka panjang mempunyai tempat sentral dalam etnografi media. Tetapi, apalagi dalam cerah contoh- contoh etnografi media ini, dilema riset yang unik dari riset penerimaan media membuat orang bertanya: haruskah etnografi media didasarkan pada suatu yang mirip dengan observasi partisipan buat jadi" etnografi"? Apakah komitmen buat perendaman, membangun keyakinan, pengamatan jangka panjang, serta partisipasi dalam kehidupan tiap hari partisipan riset salah satunya( ataupun apalagi terbaik) jalur untuk para periset yang tertarik buat menekuni ikatan antara penerimaan media serta aplikasi budaya? Keragaman fashion penerimaan, konteks penerimaan, pemakaian konten media, serta ikatan yang performatif serta kreatif yang dibesarkan oleh audiens menampilkan kalau etnografi media merupakan usaha yang sangat lingkungan serta multifaset. Memanglah, apalagi gagasan web riset sudah jadi jauh lebih cair dalam sebagian tahun terakhir, sebab mise en scène“ bidang” terus menjadi sarat dengan menyesuaikan diri lokal dari modal budaya global yang dimediasi lewat aplikasi" ruang" baru, serta komunitas media yang dibayangkan.

2. Mengartikulasikan etnografi serta komunikasi internasional

Dengan fokusnya yang sebagian besar dilokalkan, etnografi media menawarkan banyak bidang riset media global yang berorientasi interlokal serta terus menjadi lintas budaya. Sama semacam etnografi yang dialami krisis representasi dalam antropologi, yang kami jelaskan nanti dalam bab ini dalam kaitannya dengan etnografi media, teori- teori komunikasi internasional sudah terperosok dalam perdebatan seputar isu kekuasaan serta pengaruh. Buat sebagian besar perkembangannya, kekuatan ideologis( keterlibatan, kontrol, partisipasi, perlawanan, serta perundingan) sudah jadi benang bermasalah serta universal dalam teori komunikasi internasional. Tesis imperialisme budaya didasarkan pada teori ketergantungan yang timbul selaku respon terhadap paradigma modernisasi yang mendominasi lapangan semenjak karya dini Lerner( 1958), Schramm( 1964) serta Rogers( 1969). Dalam perlawanan tajam terhadap landasan fungsionalis teori modernisasi, gagasan imperialisme budaya berakar kokoh dalam ekonomi politik kritis( Schiller, 1976, 1996). Ini mempertanyakan teori modernisasi serta mendesak isu- isu kekuasaan serta budaya ke garis depan riset komunikasi internasional. Tetapi, tesis budaya imperialisme nyaris tunggal pada isu- isu struktural kepemilikan serta distribusi, di samping timbulnya konservatisme politik di Amerika Serikat serta Inggris pada tahun 1980- an, menimbulkan kehancurannya. Sedangkan Schiller( 1991) bersikeras kalau kami“ belum di masa pasca- imperialis,” penulis lain( Boyd- Barrett, 1998; García Canclini, 1990; Mattelart, 1994 serta 1998) menyerukan pengakuan serta eksplorasi dimediasi persilangan lintas budaya, serta Mowlana( 1994) menyarankan reorientasi epistemologis. Seruan- seruan ini diiringi dengan beasiswa yang alihkan atensi pada terus menjadi berartinya" lokal" selaku ruang untuk teori serta riset media serta budaya( Appadurai, 1996; Braman, 1996; Kraidy, 1999). Tetapi, perilaku kalau lokalitas serta perwujudan kulturalnya( misalnya hibriditas, rekonversi) mewujudkan mutu resistensi daripada akomodasi sudah menerima lebih banyak perlakuan teoritis daripada keterlibatan empiris; serta dalam riset postkolonial, konsep hibriditas sendiri terletak di pusat perdebatan panas menimpa kooptasi konsep perbandingan etnis serta budaya buat kebutuhan pemasaran kapitalisme global( Kraidy, 2002).

Elaborasi etnografi pemirsa buat kajian media global menawarkan peluang heuristik buat menguji implikasi lokal globalisasi, yang menyangkut gimana kebanyakan penduduk dunia hadapi globalisasi di pada kehidupan tiap hari. Bagaimanapun, keasyikan etnografi utama merupakan pembangunan apa yang Geertz( 1983) sebut“ pengetahuan lokal,” apalagi bila fokus pada lokal tidak senantiasa dinyatakan secara eksplisit. Serta apalagi lebih dini lagi merupakan Geertz( 1973) yang menegaskan kita kalau itu merupakan riset bidang yang sangat terobsesi serta terobsesi baik- baik saja dalam konteks terbatas kalau mega- konsep yang dilandasi oleh ilmu sosial kontemporer( modernisasi, pasca- modernitas, konflik, penindasan, struktur, maksudnya, dll.) bisa diberikan tipe aktualitas yang masuk ide yang membolehkan buat berpikir tidak cuma secara realistik serta konkret tentang mereka, namun, apa yang lebih berarti, kreatif serta imagi- natively dengan mereka.( perihal. 23) Statment Geertz bergema dengan rasa urgensi yang diperbarui dalam perdebatan sengit dikala ini tentang globalisasi, sebab dilema teoretis globalisasi selaku fenomena, proses, serta kesusahan yang diberikan wujud serta rezeki secara lokal. Ialah, bila kajian media global merupakan buat menetapkan orientasi teoritis yang lebih mendasar terhadap globalisasi, sebagaimana dalam komentar kami, hingga teori tersebut butuh diinformasikan oleh modul yang dihasilkan lewat kerja lapangan. Ini berarti kalau riset media global wajib membangun komitmen yang lebih berarti buat penyelidikan etnografi- yang baik bergizi serta didorong oleh teori. Komitmen semacam itu tidaklah tugas yang simpel, sebab membutuhkan fleksibilitas investigasi tertentu dalam riset khalayak media: satu sensitif buat bermacam kekuatan politik serta ekonomi serta komunitas penerima yang berbeda, di samping posisi subjek yang terpaut dengan gender, etnis, kelas, agama, serta orientasi intim, sedangkan pula berikan penghormatan kepada kritik epistemologis yang dikenakan terhadap industri ethno- grafis di tahun 1980- an serta 1990- an. Dampaknya, etnografi media mengalami tantangan yang lingkungan selaku tata cara utama penyelidikan dalam teori komunikasi internasional: gimana meningkatkan etno- grafi yang lebih kontekstual sedangkan pada dikala yang sama memperluas gagasan lapangan buat menanggulangi dilema yang unik dari riset lokal di kaitannya dengan permasalahan global yang dinaikan oleh proses media transnasional. Ini merupakan tantangan yang sangat menuntut etnografer buat menanggulangi, pada kesimpulannya, interaksi antara pandangan hidup serta pengalaman( ataupun, dalam sebutan etnografis, antara sejarah serta biografi) dengan mencari ketahui apa yang diucap oleh ahli komunikasi Kolombia Jesús Martín- Barbero( 1993) selaku gaung hegemoni dalam budaya terkenal.

Ini merupakan tujuan berarti dalam kajian media global sebab sedangkan globalisasi bisa jadi terletak secara samar- samar dalam perihal tren ekonomi, politik, serta budaya yang luas, mengkonsumsi media merupakan salah satu aktivitas yang memastikan dari nexus global- lokal sebab bisa jadi ialah metode yang sangat kilat, tidak berubah- ubah serta menyebar di mana" globalitas" dirasakan. Sebagian besar perawatan tadinya dari dinamika ini sudah menghalangi diri pada ranah teori( misalnya Ang, 1990; Ferguson, 1995; Sreberny- Mohammadi, 1985), ataupun kala donasi Dari penyelidikan etnografi dilibatkan, mereka kerap timbul semacam lampiran pada" nyata" w Ork of theorizing globality( Skovmand serta Schrøder, 1992; Sreberny- Mohammadi et angkatan laut(AL)., 1997). Kebalikannya, Riset Media Global: Suatu kontributor Etnografi Perspektif menyajikan lanskap yang lebih lengkap tentang kedudukan berarti etnografi dalam menguak artikulasi global- lokal yang dikemukakan bermacam penulis terletak di jantung media transnasional serta dinamika budaya( misalnya Kraidy, 1999; Sreberny- Mohammadi, 1985; Thussu, 1998). Sedangkan sebagian memperluas debat teoritis dengan membangun campuran konseptual fresh ataupun memikirkan kembali domain riset yang didirikan( Algan; Couldry; Clua; Juluri; Kraidy; Larsen serta Tufte; Law; Strelitz), kontributor lain menawarkan" dongeng dari lapangan" yang berdialog dengan dialogis dinamika kerja lapangan jangka panjang serta observasi partisipan yang berkepanjangan( Akindes; Buarque de Almeida; Darling- Wolf; La Pastina; Murphy; Podber).

Lewat bab- bab ini diskusi yang unik terbentang antara teori serta praktek serta antara penyelidikan etnografi serta komunikasi internasional: suatu interparadigmatic meminjam yang menyingkapkan koneksi pusat serta implikasi yang lebih luas dari riset media global yang berakar pada lokalitas. Makna berarti dari koleksi semacam itu terletak pada artikulasi 3 bidang komunikasi serta kajian media yang sudah hadapi kesusahan mereka sendiri: ialah( 1) krisis representasi dalam penyelidikan etnografi;( 2) kompleksitas locational yang menandai seluruh fenomena sosial serta budaya; serta( 3) kegelisahan teori imperialisme pasca- budaya dalam komunikasi internasional. Buat membingkai kemampuan serta batas- batas pendekatan bersumber pada etnografis buat riset media global, bagian selanjutnya dari bab ini menarik atensi pada sebagian lintasan, perdebatan serta titik ketegangan yang sudah membentuk etnografi media yang dihasilkan dalam 2 puluh tahun terakhir serta memberi warna pekerjaan yang dikemukakan. dalam novel ini.

3. Web, tempat, ruang serta ritual

Posisi suara, ikatan, pertemanan serta pengalaman bisa berikan kesan kalau etnografi media, atas nama posisi globalisasi di lokal, wajib membetulkan dirinya pada uraian internal yang koheren tentang budaya lokal. Namun sebagaimana Geertz( 1973) menegaskan sebagian tahun yang kemudian, kami tidak menekuni web riset, kami belajar di dalamnya. Dengan kata lain, keterpusatan lokal tidaklah web, tempat ataupun ruang cuma buat menjabarkan serta menangkap, namun lebih ialah titik acuan yang dilalui buat mengaitkan ukuran globalisasi yang timbul. Buat tujuan etnografi pemirsa, ini merupakan kunci sebab ini menampilkan suatu tentang gimana kerja lapangan butuh selalu berdialog dengan gimana biografi berhubungan dengan sejarah, serta gimana perwujudan performatif, ritual, berbeda serta jamak dari kehidupan lokal senantiasa menggemakan budaya hegemonik. Interogasi global ini lewat lensa lokal mensyaratkan kalau kita tidak, semacam Marcus( 1998b) memperingatkan,“ menyerah buat tergantung pada visi kaleng tentang semacam apa sistem sejarah dunia( misalnya sangat tergantung pada pemikiran Marxis tentang kapitalisme), daripada mengambil pemikiran etnografi yang pas kalau istilah- istilah analisis sistem makro wajib ditinjau kembali secara radikal dari dasar ke atas”( hlm. 39–40). Mengambil pengetahuan mikro tentang tempat, ruang, ritual serta kinerja yang berasal dari penyelidikan etnografis serta artikulasi. itu dengan metode yang memelihara, menopang serta pada dikala yang sama menantang kerangka teoritis makro- tingkat media, globalisasi serta tuntutan budaya kalau kita" berisiko" membuat sebagian klaim yang lebih luas tentang ikatan antara pandangan hidup serta pengalaman. Livingstone( 1998, pp. 202- 203) mencatat kalau tugas ini sudah secara tidak berubah- ubah ditolak oleh/ audiens lewat klaim kalau pembangunan generalisasi tentang audiens memaksakan jenis buatan pada bermacam- macam, kontingen serta aplikasi yang susah dimengerti. Tetapi, intinya senantiasa kalau sedangkan pakar teori media yang bekerja lewat etnografi selaku fasilitas buat" menuntaskan permasalahan"( buat menggemakan Geertz) bisa jadi ragu- ragu dalam mengambil inisiatif( beresiko) buat membuat generalisasi semacam itu, yang lain- terutama mereka yang bekerja di zona komersial global.- akan melaporkan tidak gentar semacam itu. Terlebih lagi, bila etnografer media mempunyai komitmen politik terhadap etnografi kritis- yang berkaitan dengan gimana kekuasaan tercipta serta mengganti kehidupan warga dalam skala global- maka mereka wajib menanggulangi rasa mual mereka dengan mungkin membuat generalisasi serta menjadikan objek/ komodifikasi/ menuliskan yang Yang lain. Memanglah, butuh, sebagaimana yang dikehendaki oleh Fine( 1998), buat" barter privilege for justice" dalam upaya buat" mewakili kisah- kisah yang dikisahkan oleh Orang Lain yang ditundukkan, kisah- kisah yang bila tidak hendak dibuang"( p. 150)

4. Hubungan

merupakan dengan sebagian ironi, bisa jadi, kalau dalam pertandingan gulat teoritis dikala ini atas" Diri" serta" Yang lain" serta proses mikro ataupun makro- budaya yang etnografi menciptakan tujuannya buat riset media global. Antropolog Paul Willis( 2000) berkomentar kalau terdapat kebutuhan buat menghindar dari" pemikiran individualistis dominan" dari perundingan budaya, serta selaku gantinya mengaitkan kembali gagasan kalau kreativitas budaya umumnya bertabiat kolektif serta sosial, serta pembuatan arti secara intrinsik dibingkai, diaktifkan, serta dibatasi oleh determinan struktural eksternal yang kokoh. Untuk periset komunikasi internasional, kembalinya ke permasalahan struktural dalam pembuatan arti butuh mengaitkan komitmen gabungan terhadap persoalan makro serta mikro tentang kekuasaan serta budaya. Penyelidikan etnografis, dengan basisnya dalam praktik- praktik lokal serta fitur- fitur performatif dari budaya, menawarkan bahan buat menjembatani kesenjangan antara arti serta struktur tanpa mengabaikan kompleksitas, konteks serta ketidakseimbangan kekuatan yang menempel dari mengkonsumsi budaya. Donasi ini buat riset media global tidak boleh diremehkan, paling utama pada dikala sebagian sarjana media, terencana ataupun tidak, memperingati perbandingan lewat evaluasi mikro dari lokal postkolonial serta pluralitas budaya tanpa berupaya buat memikirkan kekhawatiran struktural global. Apalagi, rendering bermacam mediasi interaksi budaya merupakan apa yang etnografi sangat baik lewat persoalan yang ditanyakannya, prosedur yang digunakan buat menjawabnya, serta kisah- kisah yang kesimpulannya diceritakannya. Malah lewat multiplisitas ini, perasaan bernegosiasi tentang gimana audiens media dalam bermacam konteks ikut serta ataupun menanggung kekuatan transformatif globalisasi lewat aplikasi budaya lokal, etnografi media diposisikan buat menanggulangi gema hegemonik kekuatan global. Fokus etnografi pada lokal, oleh sebab itu, tidak boleh didasarkan pada oposisi ontologis terhadap proses ses dari globalisasi. Kebalikannya, komitmen kepada lokal yang ialah inti dari kerja etnografi wajib ditunjukan pada menghasilkan, membagikan perwujudan konkret kepada kekuatan besar globalisasi. Selaku penutup, pendekatan etnografi terhadap riset media global merupakan jejak heuristik mengarah uraian yang lebih baik tentang dinamika antara kekuatan global serta kekhususan lokal.

B. Etnografi Media( Lokal, global, ataupun translokal?),( Marwan Meter. Kraidy serta Patrick D. Murphy)

“ Tugas etnografi,” Appadurai( 1991) menulis, merupakan“ misteri yang terurai: apa watak lokalitas, selaku pengalaman yang hidup, di dunia yang terinternasionalisasi serta terdistorsi?”( Perihal. 196). Dalam kajian media, kemampuan etnografi buat membuat pengalaman lokal tentang globalisasi bisa dimengerti senantiasa dieksploitasi seluruhnya. Supaya adil, ini merupakan tugas yang menantang, yang memerlukan komitmen antar- disiplin buat kreativitas teoretis serta metodologis. Buat gimana lagi etnografi, dengan etos dasarnya yang mendasar, menerangi pengalaman globalisasi, walaupun diwujudkan di tingkatan lokal? Komitmen etnografi terhadap bentrokan mendalam dengan luas epistemologis yang dibutuhkan buat menguasai kompleksitas globalisasi yang multifaset. Novel ini sudah mengambil tantangan buat mengartikulasikan etnografi serta globalisasi di suatu nexus di mana kita berpikir banyak orang yang hidup di modernitas akhir hadapi global dalam kehidupan lokal mereka: mengkonsumsi budaya yang dimediasi.

1. Hibriditas serta nexus global/ lokal dalam riset media

Orientasi donasi orang terhadap novel ini tidak terdapat kelainannya, kami menganggapnya selaku upaya kerja sama yang menanggulangi pengalaman hidup yang kokoh namun kerap tidak berurat- berakar dalam dunia yang terus menjadi tersambung serta termediasi. Semacam Appadurai( 1996) yang populer mengatakannya, masa kita dicirikan oleh disjunc- tures antara serta lintas etnoscapes, ideoscapes, mediascapes serta lain- lain. Bermacam scaling yang silih terpaut ini sudah tingkatkan kontak lintas budaya serta melahirkan proses ganda perpaduan budaya serta fragmentasi yang terus menjadi digali oleh para ilmuwan dengan kosakata hibriditas, yang dipelopori oleh Nestor García- Canclini( 1989) serta Homi Bhabha( 1994). Kalau pertemuan lokal- global senantiasa telah hibrida relatif jelas. Kurang jelas merupakan implikasi epistemologis, ontologis serta politik dari hibriditas. Bila etnografi merupakan buat mengambil kedudukan utama dalam menerangi artikulasi globalisasi serta lokalisasi, sangat berarti kalau etnografer membuat komitmen buat mengeksplorasi serta menguasai kekuatan yang membentuk bermacam wujud hibriditas.

Komitmen ini berarti buat pengembangan riset media global. Tidak penuhi ketentuan secara teoritis serta empiris, alasan kalau hibriditas serta ketidakterbatasan yang memiliki resistensi serta bukannya akomodasi tampaknya sangat diharapkan di masa globalisasi tergantung pada ekonomi manusia yang terjerat dalam institusi yang membagikan basis ideologis buat budaya konsumen. Dalam riset postkolonial, konsep hibriditas sendiri terletak di pusat perdebatan panas menimpa kooptasi konsep kekhususan budaya oleh kapitalisme global( Kraidy, 2002). Buat menciptakan ikatan antara pandangan hidup serta pengalaman, ataupun dalam sebutan etnografis, antara sejarah serta biografi, sangat berarti buat menguasai gimana pengaruh budaya sudah dimengerti dalam teori komunikasi internasional serta riset, serta gimana gagasan hibriditas itu sendiri sudah digunakan buat pengaruh teori dalam budaya global.

Pengaruh media massa pada warga serta budaya ialah isu yang diperebutkan di bidang komunikasi internasional. Pada 1940- an, eksponen teori dini pengaruh media, umumnya diucap selaku teori" peluru ajaib" ataupun" jarum suntik", yakin kalau media, paling utama televisimemiliki dampak kokoh pada pemirsa. Semenjak itu, perdebatan tentang pengaruh sosio- budaya media massa belum menemui konvensi di antara para sarjana menimpa tingkatan, ruang lingkup, serta implikasi dari pengaruh media. Sehabis dominasi riset komunikasi internasional serta teori yang berfokus pada pembangunan bangsa serta pembangunan nasional sepanjang tahun 1940- an serta 1950- an, imperialisme media/ budaya timbul pada tahun 1960- an selaku alternatif kritis terhadap rasionalitas instrumental dari paradigma modernisasi di mana komunikasi pembangunan dilandasi. Sepanjang tahun 1960- an serta 1970- an, banyak riset menampilkan betapa aliran media yang sangat tidak balance antara yang kaya serta yang tidak memiliki, dengan Barat, paling utama Amerika Serikat, pengekspor media serta budaya terkenal, serta negara- negara tumbuh yang lebih kecil merupakan importir bersih dari Amerika. serta komoditas budaya Barat yang lain. Tetapi, sedangkan konstelasi riset imperialisme budaya( Galtung, 1971; Mattelart, 1972, 1977, 1983; Schiller 1969, 1976; serta banyak yang lain) silih terpaut gimana ketidakadilan ekonomi antara negara- negara Barat serta segala dunia tercermin dalam media internasional serta arus data, para periset yang sama ini menyudahi ikut serta dalam ketidakadilan" feudal" serta aplikasi budaya yang dialami pengguna media dalam kehidupan tiap hari mereka. Salah satu kritik dari kelemahan imperialisme budaya merupakan anggapannya tentang dampak di ranah" tiap hari" tanpa betul- betul menekuni gimana orang membuat arti dari pesan media. Ini diterjemahkan jadi teori yang lemah tentang isu" budaya" dalam riset imperialisme budaya( Fejes, 1981). Pula sudah diperdebatkan kalau tesis imperialisme budaya tidak berlaku dalam sebagian konteks nasional semacam Tiongkok( Lee, 1984) serta Brasil( Straubhaar, 1984). Yang lain mengkritik imperialisme budaya pada tingkatan ideologis( Rogers serta Schement, 1984), mengekspos bias ideologis mereka sendiri dalam prosesnya. Dalam dekade terakhir, komunikasi internasional sudah berganti jadi eklektisisme yang terfragmentasi di mana terdapat gerakan menghindar dari" imperialisme budaya" serta mengarah" globalisasi budaya." Sedangkan sebagian sudah menyongsong pertumbuhan ini( amati Tomlinson, 1991 serta 1999), yang lain sudah memperingatkan jebakannya( Curran and Park, 2000; Nordenstreng, 2001). Dalam area ini, pendekatan etnografi ke nexus lokal- global bermanfaat sepanjang dia mengkontekstualisasikan hibriditas yang berbeda serta dengan demikian bergerak menghindar dari teori- teori besar semacam“ imperialisme budaya" serta" globalisasi budaya" mengarah pendekatan yang lebih kontekstual serta komparatif terhadap pembedahan kekuasaan dalam budaya. Selaku lokal jadi terus menjadi terjerat dalam global serta kebalikannya, komunikasi internasional pula sudah memperluas batas- batasnya buat memasukkan pendekatan bersumber pada ilmu sosial interpretatif semacam sosiologi budaya serta antropologi, serta pada humaniora semacam kritik sastra. Perkembangan- perkembangan inilah yang menuntun kita pada jadikan" kajian media global" yang menampilkan masuknya spektrum pendekatan media serta budaya yang lebih luas daripada studi komunikasi massa internasional tradisional. Tantangan yang dihasilkan merupakan kalau sebab etnografi sudah dimasukkan, serta dengan demikian disesuaikan, buat riset media global, uraian kita tentang apa yang ialah riset etnografi pula berganti.

2. Mengamati etnografi translokal dalam riset globalmedia

Ketegangan teoritis serta epistemologis yang menempel dalam gerakan etnografi ke dalam media serta riset budaya( Murphy, 1999) timbul pada dikala yang pas kala kajian media bergulat dengan fenomena globalisasi. Dilema apakah pengorbanan luas yang berarti untuk uraian globalisasi buat mendapatkan dalam kedalaman etnografi membutuhkan pelaksanaan baru etnografi, yang berbasis lokal namun ikut serta secara global. Pada ikatan ini, kami yakin kalau ilham Marcus tentang“ etnografi multi- sisi”( 1998) merupakan opsi epistemologis produktif buat menekuni lingkungan, berlapis- lapis serta geographically bermacam- macam dinamika. Digabungkan dengan etnografi translokal, teori kritis hibriditas menolong fokus pada kerja difus kekuasaan serta kontra- kekuatan. Semacam yang Marcus( 1998) katakan, etnografi wajib menolong menguraikan" akomodasi" serta" perlawanan" dalam dinamika budaya, buat menguasai" penafsiran paradoks tanpa kompromi dalam terjalinnya keragaman serta homogenitas yang tidak hendak membolehkan penguraian yang gampang ini. 2 sebutan”( perihal. 61). Buat García- Canclini( 1989), menguasai paradoks kombinasi budaya tidak membutuhkan teori final hibriditas dengan ontologi normal serta epistemologi yang jelas disukai. Kebalikannya, semacam Rosaldo menulis dalam kata pengantar terjemahan bahasa Inggris dari Culturas híbridas," hibriditas sebutan, semacam yang digunakan oleh García- Canclini, tidak sempat menuntaskan ketegangan antara polaritas konseptual"( 1995, p. Xv). Sebab ketidakstabilan teoritis ini, pengecekan empiris konteks budaya hibrida wajib fleksibel serta komparatif. Sehabis seluruh, teori hibriditas menolong kita menguasai lokal bukan cuma selaku lokal, namun selaku persimpangan pengaruh transkultural. Dengan demikian kami yakin kalau etnografi translokal merupakan metodologi produktif buat menekuni proses budaya hibrida di jantung globalisasi. Memperkenalkan awalan" trans-" ke lokal selaku kualifikasi tipe etnografi kami menyarankan mengatakan kepercayaan kami kalau kebohongan etnografi terletak lebih dalam kapasitasnya buat menguasai artikulasi global dengan lokal, dari pada keahlian yang sepatutnya buat menguasai lokal dalam isolasi struktur serta proses berskala besar. Suatu etnografi translokal dibentuk di atasnya buat fokus pada koneksi antara sebagian ruang sosial lokal, menjelajahi artikulasi lokal- ke- lokal yang hingga saat ini diabaikan. Dalam perihal pengaruh budaya transnasional, etnografi translokal merumuskan" model roda" Galtung( 1971) dari imperi- alisme budaya dengan alihkan fokus riset pada ikatan antara sebagian titik di pinggiran roda, tanpa memastikan tadinya kalau koneksi semacam itu wajib lewat inti. Etnografi setelah itu merupakan opsi metodologis serta teoritis yang produktif yang sesuai buat menggali aplikasi sosio- budaya yang dihasilkan serta pada gilirannya mempertahankan kerja serta jadwal globalisasi. Berarti buat dicatat kalau etnografi yang kita diskusikan di mari bukan cuma etnografi tradisional antropologi, yang berfokus pada tradisi, ataupun etnografi sosiologi, dengan fokusnya pada modernitas, namun etnografi yang, dari keharusan epistemologis serta politik, secara fundamental multisitus serta interdisipliner. Berikutnya, gagasan etnografi translokal lahir dari paradoks yang pada dikala globalisasi, etnografi yang ketat wajib bertabiat lokal serta pada dikala yang sama tidak dapat cuma lokal. Dengan kata lain, komitmen etnografi buat spesifitas budaya serta kerja empiris in sana wajib ditegakkan pada dikala kala moniker" etnografi" digunakan buat menampilkan kesetiaan pada wacana tertentu dalam riset budaya( Nightingale, 1996), daripada komitmen empiris buat paham gimana kehidupan dijalani secara lokal. Walaupun kami mengakui berartinya etnografi kritis selaku wacana epistemologis, kami sangat percaya kalau komitmen metodologis terhadap etnografi lapangan empiris tingkatkan mutu riset serta meningkatkan jadwal politik yang progresif. Marcus( 1998, p. 71) mempunyai diferensiasi antara etnografi realis, ataupun tata cara etnografi tradisional, serta etnografi modernis yang lebih mementingkan proses internasional berskala besar, lebih jauh menolong kita dalam membiasakan perbandingan antara etnografi lokal serta translokal. Semacam yang kita amati, etnografi translokal dibutuhkan buat membuat globalisasi dipahami lewat lensa bermacam penduduk setempat. Gagasan kami tentang etnografi translokal setelah itu mendekati cita- cita Marcus tentang" etnografi berlapis- lapis". Marcus( 1998) menulis kalau“ dalam etnografi multi- bahasa, perbandingan timbul dari mengajukan persoalan ke objek riset yang timbul yang kontur, web serta hubungannya tidak dikenal. tadinya, namun ialah donasi buat membuat akun yang mempunyai posisi penyelidikan dunia nyata yang tersambung secara lingkungan serta berbeda.( perihal. 86)” Dalam konteks inilah kami yakin novel ini jadi etnografi yang banyak. Secara bersama- sama, donasi geografis serta epistemologis yang bermacam- macam terhadap novel ini bisa dikatakan selaku suatu skenario buat kerja etnografi multisitus yang mencakup bermacam- macam pengaturan" lokal" di Brasil, Denmark, India, Lebanon, Meksiko, Appalachia pedesaan, serta di tempat lain. Mereka mewakili proses dialogis serta akun polyvocalantara etnografer serta lewat teks- teks etnografi tentang apa serta di mana kerja lapangan serta gimana dia wajib berhubungan dengan pembuatan kajian media global.

Simpulan

Selaku implikasi dari media global lagi diperdebatkan, etnografi translokal bisa memainkan kedudukan berarti dalam meningkatkan bidang kajian media global. Tidak hanya perlunya penerjemahan budaya yang mutahir serta orientasi ulang etnografi ke fokus translokal, kami mau merumuskan dengan 2 isu yang lebih luas yang membingkai riset etnografi, serta menindaklanjuti dengan 2 jadwal terpaut. Kedua isu tersebut merupakan( 1) kepribadian komunal pengalaman pemirsa, serta( 2) keadaan material yang mendasari serta membentuk interaksi antar audiens dengan media massa. Komitmen terhadap uraian sosial khalayak memfokuskan kembali atensi etnografi dari perundingan orang jadi mediasi sosial- budaya, sedangkan keterlibatan dengan kekuatan material serta struktural yang membentuk proses translokal berarti pemulihan perspektif ekonomi politik yang berkualifikasi pada khalayak media.

Secara kolektif, bab- bab Dalam novel ini mengindahkan statment Willis( 2000) kalau terdapat kebutuhan buat menghindar dari" pemikiran individualistik dominan" perundingan budaya, serta kembali ikut serta gagasan kalau kreativitas budaya umumnya bertabiat kolektif serta sosial. Perihal ini membutuhkan uraian tentang aktivitas pembuatan arti yang secara intrinsik dibingkai, diaktifkan, serta dibatasi oleh determinan struktural eksternal yang kokoh. Kala diambil bersama, mereka menampilkan kalau buat media, semacam kembali ke permasalahan struktural wajib mengaitkan komitmen gabungan buat persoalan makro serta mikro kekuasaan serta bukti diri yang bergerak di luar bacaan tunggal ataupun tempat- fokus perlawanan serta akomodasi riset serta mengarah uraian translokal globalisasi.

Kalau budaya globalisasi merupakan hibrida jadi kebijaksanaan konvensional. Tetapi, apa yang lenyap merupakan pengecekan sistematis terhadap nuansa hibriditas budaya serta jadwal sosial, budaya, politik serta ekonomi dan kekuatan yang berkontribusi pada formasi mereka. Oleh sebab itu 2 jadwal terpaut yang wajib diawali buat membetulkan lubang yang menganga ini. Awal, beasiswa media global wajib membuat komitmen buat riset empiris buat memenuhi alasan teoretisnya. Ini tidak boleh disalahartikan selaku pemberhentian diskursif yang menunjang fetisisme metodologis. Kebalikannya, poin kami didasarkan pada kepercayaan kalau diskusi antara teori serta riset sangat berarti buat kegiatan intelektual yang mempunyai implikasi yang berarti untuk kehidupan tiap hari. Kedua, kami menyarankan kalau kajian media global merangkul interdisipliner nyata, sebab kompleksitas proses globalisasi serta prosesnya yang multifaset membutuhkan kemampuan yang bermacam- macam. Ialah, kami menyerukan riset serta teori yang memotong jenis politik, ekonomi serta budaya. Kapitalisme transnasional sudah sukses mengaburkan batas- batas di antara bidang- bidang ini, serta memperluas kenyataan kombinasi ini ke seluruh aspek kehidupan kita. Bila beasiswa kami mempunyai relevansi, sangat berarti untuk kita buat mengejar ketinggalan. Tempat terbaik buat mengawali merupakan kehidupan tiap hari, di mana politik, ekonomi serta budaya diartikulasikan lewat mediasi. Di sinilah letak janji etnografi translokal.