Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apa Itu Studi Islam( Dirasah Islamiyah)

Apa Itu Studi Islam( Dirasah Islamiyah) - caraku.id Islam merupakan agama yang umum, sempurna, dinamis, elastis, serta senantiasa bisa membiasakan dengan suasana serta keadaan. Islam diketahui selaku salah satu agama yang akomodatif terhadap tradisi lokal, non lokal serta ikhtilaf ulama dalam menguasai ajaran agamanya. Sebagaimana kita tahu bersama bersamaan pertumbuhan era ilmu pengetahuan serta teknologi jadi suatu yang sangat berarti untuk tiap penganut agama. Hingga dari itu, berkembangnya era tidak dapat lepas dari konsep- konsep agama dengan artian tiap ilmu pengetahuan wajib di sesuaikan dengan objek keagamaan spesialnya Islam.

Dalam masa moderen ini studi keislaman wajib jadi landasan serta tolak ukur hendak pertumbuhan ilmu pengetahuan yang disesuaikan ataupun diselaraskan dengan historisitas serta normatifitas, apakah ilmu pengetahuan tersebut sejalan? ataupun apalagi menyimpang? hingga penjelasan ulasan ini hendak dipaparkan biar ilmu pengetahuan tidak bertabrakan dengan Islam. Serta warga Islam menyadari, mengetahu, serta menguasai manakah ilmu pengetahuan yang cocok dengan Islam dengan sumber- sumber yang terdapat ataupun kebalikannya.

Lewat tulisan ini pula hendak dipaparkan gimana berartinya studi keislaman serta pemikiran Islam terhadap pertumbuhan ilmu pengetahuan hingga sepatutnya untuk kita seluruh buat mengenali tentang studi keislaman serta bisa meningkatkan pola pikir terhadap pertumbuhan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Apa Itu Studi Islam (Dirasah Islamiyah)?

Apa Itu Studi Islam( Dirasah Islamiyah)

A. Pengertian Studi Islam

Studi Islam secara etimologis ialah terjemahan dari Bahasa Arab Dirasah Islamiyah. Yang dalam Bahasa Inggrisnya merupakan Islamic Studies. Dengan demikian, Studi Islam secara harfiah merupakan kajian tentang perihal perihal yang berkaitan dengan keislaman. Hingga ini sangat universal, karna seluruh sesuatu

yang berkaitan dengan islam dikatakan Studi Islam. Oleh sebab itu, butuh terdapat spesifikasi pengertian terminologis tentang Studi Islam dalam kajian ini, ialah kajian sistematis serta terpadu buat mengenali, menguasai serta menganalisis secara mendalam perihal perihal yang berkaitan dengan agama Islam baik yang menyangkut sumber- sumber ajaran Islam, sejarah Islam, ataupun kenyataan penerapannya dalam kehidupan.

Dengan demikian usaha siuman serta sistematis buat mengenali serta menguasai dan mangulas secara dalam tentang seluk- beluk ataupun hal- hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah ataupun praktik- praktik penerapannya secara nyata dalam kehidupan tiap hari, sejauh sejarahnya. Jamali Sarodi dalam bukunya metodologi studi islam, melaporkan kalau kajian keislaman( Islamic Studies) ialah sesuatu disiplin ilmu yang mangulas Islam baik ajaran, kelembagaan, sejarah, ataupun kehidupan umatnya. Dalam prosesnya, usaha kajian itu mencerminkan sesuatu transmisi doktrin- doktrin keagamaan dari generasi kegenerasi, dengan menjadikan tokoh- tokoh agama, mulai dari rasullullah hingga dengan ustadz serta para da’ i selaku perantara sentral yang hidup. Secara kelembagaan, proses ini berlangsung diberbagai institusi, mulai keluarga, warga, masjid, madrasah, pesantren, hingga dengan al- jamiah. Dismping proses transmisi, kajian agama pula ialah usaha untuk para penganut agama yang bersangkutan buat membagikan reaksi, baik dalam pengertian ofensif ataupun defensif, terhadap ajaran, ideology ataupun pemikiran dari luar agama yang diyakininya.

Pengertian- pengertian diatas membagikan arahan kalau Studi Islam ialah kajian keislaman yang melampaui batas- batas islam dalam pada aspek normatifitas ajaran semata, tetapi pula merambah aspek historisitasnya. Studi Islam diharapkan sanggup membawakan terhadap uraian islam yang komprehensif ataupun kaffah. Uraian yang bertabiat persial hendak menjadikan pengertian Islam salah dimengerti.

Studi terhadap Islam dalam kenyataannya tidak haya memonopoli intrn umat Islam saja. Hendak namun pula dicoba oleh orang- orang yang terletak diluar Islam. Oleh karena itu, paling tidak dalam Studi Islam seperti dicoba dengan memakai 2 sisi pendekatan, ialah dari intern umat Islam serta pula dari luar Islam perihal ini dalam rangka buat mempertegas perbandingan yang kerap dicoba umat Islam sendiri maupun oleh dunia akademik Barat. Para pakar studi keislaman diluar golongan umat Islam tersebut diketahui dengan kalangan orientalis, ialah orang- orang barat yang mengadakan studi tentang dunia Timur, tercantum digolongan dunia orang Islam. Dalam prakteknya studi keislaman yang dicoba oleh mereka, paling utama pada masa awal- awal Islam mereka melaksanakan studi dunia timur, lebih memusatkan serta menekankan kelemahan- kelemahan ajaran agama Islam serta praktik- praktik pengalaman ajaran agama Islam dalam kehidupan tiap hari umat Islam. Tetapi demikian, pada masa akhir- akhir ini banyak pula diantara para orientalis yang membagikan pandangan- pandangan objektif serta bertabiat ilmiah terhadap agama Islam serta umatnya. Pasti saja pandangan- pandangan yang demikian itu hendak dapat berguna untuk pengambangan- pengembangan studi- studi keislaman digolongan umat islam sendiri.

Dalam riset studi Islam, Al- Qur’ an serta Hadis tidak bisa terlepas sebab ialah sumber ajaran Islam itu sendiri sebab Al- Qur’ an serta Hadis bertabiat normatif, tetapi digolongan para ilmuan masih ada perbandingan pemikiran dalam permasalahan apakah studi Islam bisa dimasukkan dalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat perbandingan karakteristik antara ilmu pengetahuan serta agama berbeda. Bagi Amin Abdullah kesukaran seorang dalam menguasai studi Islam berakar pada kesukaran seorang agamawan buat membedakan mana yang normativitas serta historitas.

Ada pula ruang lingkup studi Islam secara garis besar ada 2 wujud pendekatan dalam kajian Islam: teologis serta sejarah agama- agama. Pendekatan kajian teologis, yang bersumber dari tradisi dalam kajian tentang Kristen di Eropa, menyodorkan uraian normatif menimpa agama- agama. Sebab itu kajian- kajian diukur dari kesesuaianya dengan khasiatnya untuk keimanan. namun dengan terbentuknya“ marjinalisasi” agama dalam warga Eropa ataupun Barat biasanya, kajian teologis yang normatif ini cenderung ditinggalkan para pengkaji agama- agama.

Sebaliknya pendekatan sejarah agama- agama berangkat dari uraian tentang fenomena historis serta empiris, selaku perwujudan serta pengalaman masyarakat- masyarakat agama. Penggambaran serta analisis dalam kajian wujud kedua ini tidak ataupun kurang memikirkan klaim- klaim keimanan serta kebenaran sebagaimana dihayati para penganut agama itu sendiri. Serta cocok dengan pertumbuhan keilmuan di Barat yang semenjak abad ke- 19 terus menjadi fenomenologis serta positivis, hingga pendekatan sejarah agama ini jadi paradigma dominan dalam kajian- kajian agama, tercantum Islam di Barat.

B. Objek serta Sasaran Kajiannya

Studi Islam tidak lepas dari objek sasaran keagamaan serta keilmuan.

1. Objek Sasaran Keagamaan

Wacana keagamaan bisa ditransformasikan secara baik serta menjadikan landasan kehidupan dalam berperilaku tanpa membebaskan kerangka normatif. Selaku kerangka pijakan, terdapat sebagian elemen dasar keislaman yang haarus dijadikan pegangan. Awal, Islam selaku dogma pula ialah pengalaman umum dari kemanusiaan. Dari konsep ini, doktrin keislaman dijadikan dasar perbuatan untuk pertumbuhan manusia kearah tingkatan kehidupan yang lebih besar. Oleh sebab itu, sasaran studi Islam ditunjukan pada aspek- aspek praksis- empirik yang membuat nilai- nilai keagamaan supaya dijadikan pijakan. Kedua, Islam tidak haya terbatas pada kehidupan sehabis mati, namun orientasi utama merupakan dunia saat ini. Manusia dengan perantaraan perbuatan baik didunia, bisa mendapatkan pemahaman tentang eksistensinya yag lebih besar. Dengan demikian, sasaran studi Islam ditunjukan pada uraian terhadap sumber- sumber ajaran Islam, pokok- pokok ajaran Islam, sejarah Islam, aplikasiya dalam kehidupan. Kedua perihal tersebuat selaku sandaran dalam konteks ikatan, baik ikatan vertikal dengan Allah ataupun ikatan horizontal dengan manusia serta makhluk yang lain.

Dalam pemaknaan diatas, agama biasanya memiliki ajaran- ajaran yang diyakini hingga kepada warga lewat wahyu yang berasal dari Tuhan. Oleh sebab itu, dia bertabiat absolut serta benar.

2. Objek Sasaran Keilmuan

Studi keilmuan membutuhkan pendekatan yang kristis, analitis, metodologis, empiris, serta historis. Oleh sebab itu, konteks ilmu wajib mencerminkan ketidakberpihakan pada satu agama, namun lebih menuju kepada kajian yang bertabiat objektif. Dengan demikian, studi Islam selaku aspek sasaran keilmuan memerlukan bermacam pendekatan.

Tidak hanya itu, ilmu pengetahuan tidak tahu serta tidak terikat pada wahyu. Ilmu pengetahuan beranjak serta terikat pada pemikiran rasional. Ide hendak mencari kebenaran, mengenakan data- data yang diperoleh memalui panca indra selaku bahan pemikiran. Data- data yang dipakai selaku bahan- bahan eksperimen ilmiah serta tidak selamanya sama. Dalam bidang ilmiah, perihal yang dikira benar hari ini, pada hari besok dapat berganti. Itu bergantung pada informasi serta eksperimen. Jika informasi serta eksperimen baru bawa kepada kesimpulan berbeda dari kesimpulan yang diperoleh dari informasi serta eksperimen tadinya, kesimpulan lama mesti diganti. Kebenaran dalam bidang ilmiah tidak bertabiat absolut oleh sebab itu, dalam lapangan ilmiah tidak ada absolutism serta dogmatisme.

Dalam studi Islam, kerangka pemikiran ilmiah diatas ditarik dalam konteks keislaman. Pengkajian terhadap Islam yang bernuansa ilmiah tidak cuma terbatas pada aspek- aspek yang normatif serta dogmatis, namun juaga pengkajian menyangkut aspek sosiologis, serta empiris. Pengkajian Islam ini bisa dicoba secara paripurna dengan pengujian secara terus menerus atas fakta- fakta empiric dalam warga yang dinilai sebaai kebenaran nisbi dengan mempertemukan pada nilai agama yang bersumber dari wahyu selaku kebenaran mutlak. Dengan demikian, kajian keislaman yang bernuansa ilmiah meliputi aspek keyakinan normatif- dogmatif yang bersumber dari wahyu serta aspek prilaku manusia yang lahir dari dorongan keyakinan.

Hingga dari itu timbulah penggolongan pengetahuan manusia( ilmiah) antara lain.

a. Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu alam ialah ilmu yang menekuni tentang fenomena alam. Ikatan agama Islam dengan ilmu pengetahuan dalam bidag alam, Islam berlagak terbukan serta selektif. Dari satu segi Islam terbuka buat menerima bermacam masukan dari luar, namun dengan bertepatan dengan itu Islam pula selektif, ialah tidak begitu saja menerima segala tipe ilmu alam yang tidak sejalan dengan islam. Dalam bidang ilmu da teknologi, islam mengarahkan kepada pemeluknya buat berlagak terbuka. Sekalipun islam bukan timur serta bukan barat, ini tidak berarti islam wajib menutup diri dari keduanya. Bagaimanapun islam ialah suatu suatu paradigma terbuka. Dia ialah mata rantai peradaban dunia ilmu serta teknologi.

Ikatan agam islam dengan ilu pengetahuan dalam bidang alam, bisa pula dilihat dari 5 ayat surah Al- alaq yang diturunkan allah SWT. Kepada nabi Muhammad SAW. Di gua hira yang maksudnya:“ bacalah dengan( menyebut

nama allahmu yang menghasilkan, Ia sudah menghasilkan manusia dari segumpal darah. Bacalah, serta allahmulah yang maha pemurah, dialah yang mengarahkan menusia dengan pena, Ia mengarahkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( QS Al- alaq[96]: 1- 5)

b. Ilmu-ilmu social

Ilmu- ilmu social, ialah ke- ilmu- ilmu yang menekuni sikap manusia dalam kehidupan mereka. Watak ilmu- ilmu social itu khusus sebab diiringi kajian mendalam. Ilmu- ilmu social ialah terjemahan dari social sciences. Diantara ilmu- ilmu social itu terdapat:( 1) Geografi, yang menekuni kehidupan bersama manusia dalam ikatan ataupun interaksinya dengan area alam serta social;( 2) Ekonomi, yang menekuni bagaiman warga memnuhi kebutuhan- kebutuhan hidup mereka;( 3) Sejarah, yang menekuni tingkah laku( aktifitas manusia pada masa kemudian;( 4) Antropologi, yang menekuni kehidupan warga tradisional( 5) Sosiologi, yang menekuni interaksi antar masyarakat warga;( 6) Hukum, yang menekuni gimana kehidupan warga diatur dengan undang- undang;( 7) Politik, yang menekuni gimana penyelenggaraan negeri dilaksanakan biar tujuan bernegara dapar decapai.

c. Ilmu humaniora

Ilmu- ilmu humaniora ialah ilmu- ilmu pengetahuan yang dikira bertujuan membuat menusia lebih manusiawi, dalam makna membuat manusia lebih berbudaya, contoh: Teologi, Filsafat, Hukum, Sejarah, Fiologi, Bahasa, Kesusastraan, serta Kesenian.

Humaniora ataupun Humanities ialah bidang- bidang studi yang berupaya menafsirkan arti kehidupan manusia serta berupaya menaikkan martabat kepada penghidupan serta eksistensi manusia bagi elwood mendefinisikan” Humaniora” selaku seperangkat dari sikap moral manusia terhadap sesamanya, dia pula mengisyaratkan pengakuan kalau manusia ialah makhluk yang memiliki peran agung( unique) dalam ekosistem, tetapi sekalian pula amat bergantung pada ekosistem itu serta dia sendiri apalagi ialah bagian bidang- bidang yang tercantum humaniora meliputi Agama, filsafat, Sejarah, Bahasa, Sastra, serta lain- lain. Khasiat pembelajaran humaniora ialah membagikan pengertian yang lebih mendalam menimpa segi manusiawi.

Terdapat ikatan sangat erat antara antropologi serta humaniora yang kesemuanya membagikan sumbangan kepada keduanya selaku kajian universal menimpa manusia. Untuk para humanis, bahan antropologis pula sangat berarti. Dalam deskripsi biasa menimpa kebudayaan primitive pakar etnografi tradisional umumnya merekam selaku berbagai mite serta folktale, menguraikan artifak, music serta bentuk- betuk karya seni, barangkali pula jadi subjek analisi untuk para humanis dengan memakai alat- alat konseptual mereka sendiri.

C. Studi Islam Yang Benar

Studi Islam telah dicoba semenjak Islam itu sendiri diturunkan. Cocok dengan perkembangannya hingga wujud studi Islam hadapi pergantian dari tata cara yang palling simpel sampai tata cara yang sangat modern. Tata cara yang sangat simpel merupak sistem mengaji kerumah kiai, langgar ataupun surau. pada sistem ini tata cara yang digunakan ialah tata cara menghafal secara individual ataupun tata cara halaqah dalam wujud kelompok( wujud bundaran). tujuannya ialah buat memperoleh ilmu pengetahuan agama guna pengamalan ibadah selaku seseorang muslim. menggali khazanah karya- karya ilmiah ulamak klasik. disamping buat membuat landasan ilmu- ilmu universal supaya mempunyai pangkal serta landasan tauhid( sinkronisasi) dengan ilmu pengetahuan.

Lagi tata cara studi islam modern di Barat ialah tata cara yang telah mempunyai sistem, lembaga yang dikoordinir oleh yayasan ataupun negeri. tujuan studi islam tersebut dapat buat menggali ilmu- ilmu keislaman, mengkritisi, apalagi cuma buat menekuni islam selaku ilmu( islamologi).

Bagi Charles J Adam, tata cara ataupun pendekatan yang dicoba sarjana Barat dalam mengkaji islam mempunyai 2 pendekatan ialah: pendekatan normatif serta pendekatan deskriptif dari segi segi pendekatan normatif ialah:

1. Pendekatan misionaries dengan metode tradisional

2. Pendekatan apologetik dari sarjana muslim terhadap pendekatan yang awal.

3. Pendekatan yang balance yang menampakkan simpatik terhadap islam.

Dari segi pendekatan deskriptif, Adam mengelompokkan pada pendekatan filologis, sejarah, pendekatan ilmu- ilmu sosial serta pendekatan fenominologis. lagi dari daerah bahasanya adam mengelompokkan studi bahasanya pada: 1. pra islamic arabia, 2. study of the prophet, 3. Quranic studies

4. prophetic tradisition, serta lain- lain.

Pada sarjana Barat yang mengkaji islam cuma semata- mat dengan pertimbangan akademik murni, mereka mengkaji islam selaku objek akademik, sama kala mereka mengkaji kristen selaku objek akademik. apa yang dicoba sarjana Barat ialah kajian akademik murni. berbeda dengan kajian islam yang dicoba oleh sarjana muslim yang mempunyai tujuan akhir buat mengamalkan.

Studi Islam diharapkan sanggup membawakan terhadap uraian islam yang komprehensif ataupun kaffah. Uraian yang bertabiat persial hendak menjadikan pengertian Islam salah dimengerti.

Studi terhadap Islam dalam kenyataannya tidak haya memonopoli intrn umat Islam saja. Hendak namun pula dicoba oleh orang- orang yang terletak diluar Islam. Oleh karena itu, paling tidak dalam Studi Islam seperti dicoba dengan memakai 2 sisi pendekatan, ialah dari intern umat Islam serta pula dari luar Islam perihal ini dalam rangka buat mempertegas perbandingan yang kerap dicoba umat Islam sendiri maupun oleh dunia akademik Barat.

Paling tidak sehabis kita memperoleh pengetahuan tentang islam lewat studi islam kita sanggup buat mempraktekkan serta mengamalkannya sebab kita selaku orang muslim wajib sanggup buat mengamalkannya, berbeda dengan dunia Barat ataupun orientalis mereka mempelajari ajaran islam cuma dalam pemikiran historitas saja tidak pada normatifitasnya ataupun sumber- sumber ajaran agama islam. serta tidak sedikit dari mereka yang cuma memandang islam cuma dari sisi kelemahannya saja. sebabnya mereka cuma buat memperoleh sarjana akademik hingga untuk mereka tidak lah berarti menekuni islam dengan kaffah.

D. Tujuan serta Urgensi Studi Islam

1. Tujuan

Ada pula arah serta tujuan studi Islam bisa diformulasikan selaku berikut: Awal, Buat menekuni secara mendalam tentang apa tentang apa sesungguhnya( hakikat) agama Islam itu, serta gimana posisi dan hubungannya dengan agama- agama lain dalam kehidupan budaya manusia.

Sehubung dengan ini, studi Islam dilaksanakan bersumber pada asusmsi kalau sesungguhnya agama Islam diturunkan oleh Allah merupakan buat membimbing serta memusatkan dan menyempurnakan perkembangan serta pertumbuhan agama- agama serta budaya umat di muka bumi. Agama- agama yang pada mjulanya berkembang serta tumbuh bersumber pada pengalaman serta pemakaian ide dan budi energi manusia, ditunjukan oleh Islam jadi agama monotheisme yang benar. Sedangkan itu, Allah SWT. sudah merendahkan ajaran Islam semenjak fase dini dari perkembangan serta pertumbuhan ide serta budi energi manusia tersebut. Setelah itu silih berubah Rasul- rasul sudah diutus oleh- Nya, buat mengantarkan ajaran agama Islam, guna meluruskan serta menyempurnakan pertumbuhan ide serta budi energi manusia dan agama mereka jadi agama tauhid. Dengan demikian, bisa dikatakan kalau ajaran agama Islam sudah membagikan dorongan serta arahan terhadap pertumbuhan ide serta budi energi manusia tersebut buat mewujudkan sesuatu kehidupan budaya serta peradaban Islam. Sejauh sejarah perkembangannya, tidak terdapat pertentangan antara ide benak serta budi energi manusia dengan agama Islam. Jika pada sesuatu masa nampak terdapatnya pertentangan antara ajaran Islam dengan ide benak serta budi energi manusia, hingga bisa diprediksi kalau sudah terjalin kemacetan ataupun penyimpangan dalam perkembangannya. Dengan menggali kembali hakikat agama Islam, hingga hendak bisa digunakan selaku perlengkapan analisis terhadap kemacetan ataupun penyimpangan ide benak serta budaya manusiawi dan ajaran agama Islam sekalian.

Kedua, Buat menekuni secara mendalam pokok- pokok isi ajaran agama Islam yang asli, serta gimana penjabaran serta operasionalisasinya dalam perkembangan serta pertumbuhan budaya serta peradaban Islam sejauh sejarahnya.

Studi ini berasumsi kalau agama Islam merupakan agama fitrah sehingga pokok- pokok isi ajaran agama Islam pastinya cocok serta sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah merupakan kemampuan dasar, pembawaan yang terdapat, serta terbentuk dalam proses penciptaan manusia. Kemampuan fitrah inilah yang menimbulkan manusia hidup, berkembang serta tumbuh, memiliki keahlian buat mengendalikan serta menyusun sesuatu sistem kehidupan serta area budaya serta mewadahi kehidupan, serta sanggup penuhi kebutuhan- kebutuhan hidup bersama masyarakatnya. Selaku agama fitrah, hingga pokok- pokok isi ajaran agama Islam tersebut hendak berkembang serta berkembangan secara operasional serasi serta bersama dengan perkembangan serta pertumbuhan fitrah manusia tersebut. Dengan demikian, pokok isi ajaran agama Islam yang tumbuh tersebut hendak menyesuaikan diri serta berhubungan. Dengan tiap sistem hidup serta area budaya yang dijumpainya, hendak tumbuh bersamanya. Dengan kata lain, kalau pokok- pokok isi ajaran agama Islam tersebut memiliki energi menyesuaikan diri serta integrasi yang kokoh terhadap sistem hidup serta area budaya yang dimasukinya serta hendak tumbuh bersamanya. Jika saat ini ini nampak kalau aplikasi serta penerapan ajaran agama Islam tidak cocok ataupun dikatakan selaku ketinggalan era, hingga butuh dipertanyakan; kenapa terjalin demikian? yang jelas kalau kondisi tersebut ialah tanda- tanda kalau sudah terjalin penyimpangan dalam penjabaran serta operasionalisasi pokok- pokok isi ajaran agama Islam, serta wajib diluruskan kembali. Perihal ini ialah salah satu tantangan untuk studi agama Islam.

Ketiga, Buat menekuni secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang abadi serta dinamis, serta gimana aktulisasinya sejauh sejarahnya.

Studi ini bersumber pada anggapan kalau agama islam selaku agama samawi terakhir bawa ajaran- ajaran yang bertabiat final, serta sanggup membongkar masalah- masalah kehidupan manusia, menanggapi tantangan, serta tuntunannya sejauh era. Dalam perihal ini sumber dasar ajaran agama islam hendak senantiasa aktual serta fungsional terhadap kasus hidup serta tantangan dan tuntutan pertumbuhan era tersebut. Sedangkan itu, bersamaan dengan perkembangan serta pertumbuhan era yang berlangsung serta berkepanjangan, hingga kasus serta tantangan dan tuntutan hidup manusia juga bertumbuh kembang jadi terus menjadi lingkungan. pemecahan kasus serta jawaban terhadap tantangan serta tuntutan pertumbuhan era yang terus menjadi lingkungan itu memunculkan perkembangan serta pertumbuhan sistem kehidupan budaya serta peradaban manusia yang terus menjadi maju serta moderen. mampukah sumber dasar ajaran agama islam senantiasa aktual serta jadi aspek dinamis dari pertumbuhan sistem budaya serta peradaban manusia yang terus menjadi maju serta moderen tersebut? ataukah bisa jadi jadi kehabisan dinamikanya, sehingga jadi ketinggalan serta membatasi pembangunan? inilah tantangan selanjutnya dari studi Islam.

Keempat, Buat menekuni secara mendalam prinsip- prinsip serta nilai- nilai dasar ajaran agama islam, serta gimana realisasinya dalam membimbing serta memusatkan dan mengendalikan perkembagan budaya serta peradaban manusia pada era moderen ini.

Anggapan dari studi ini merupakan, kalau agama islam yang meyakini memiliki misi selaku rahmah li al- alamin pastinya memiliki nilai- nilai- serta prinsip- prinsip dasar yang bertabiat umum, serta memiliki energi serta keahlian buat membimbing, memusatkan, mengendalikan, serta mengatur faktor- faktor potensial dari perkembangan serta pertumbuhan sistem budaya serta peradaban moderen. Di dalam masa globalisasi umat manusia terus menjadi umum, yang diterima oleh segala umat manusia buat mengendalikan serta mengatur pertumbuhan ilmu pengetahuan serta teknologi moderen dan faktor- faktor dinamis yang lain dari sistem budaya serta peradaban manusia moderen buat mengarah terwujudnya keadaan kehidupan yang adil makmur, nyaman, serta sejahtera diantara bangsa- bangsa serta umat manusia. mungkinkah perihal itubisa terwujud? serta gimana triknya?

Dengan mengemukakan tujuan- tujuan tersebut, hingga tampaklah ciri dari studi islam yang sepanjang ini dibesarkan di akademi besar agama islam. Dalam makna, kalau studi islam diperguruan besar tersebut tidak bertabiat konvensional, namun lebih bertabiat memadukan antara studi islam digolongan luar islam yang bertabiat ilmiah. Sebab itu, hasilnya lebih banyak diwarnai oleh analisis kritis terhadap hasil- hasil studi dari kedua usaha studi Islam tersebut.

Berikutnya dengan tujuan- tujuan tersebut diharapkan supaya studi islam hendak bermenfaat untuk kenaikan usaha pembaruan serta pengembangan kurikulum pembelajaran islam pada umunya, dalam usaha transformasi kehidupan sosial- budaya dan agama umat islam saat ini ini, mengarah kehidupan sosial- budaya moderen pada generasi- generasi mendatang, sehimgga misi islam selaku rahmah li al- alamin bisa terwujud dalam kehidupan nyata didunia global.

2. Urgensi

Dikala ini, islam selaku agama serta peradaban hadapi posisi marjinal. Berapa banyak dikala ini pihak lawan Islam, menunggu buat runtuhnya islam. Apalagi soarang ilmuan barat bernama Samoel Huntington- seseorang profesor dalam ilmu pemerintahan, dalam karyanya yang bertajuk benturan peradaban( class civilization), menyebut kalau politik dunia sudah merambah babak baru serta islam malah dibenturkan dengan barat, baginya interaksi antara islam serta barat ditatap selaku benturan peradaban. Apalagi Bernard Lewis yang dalam tulisan tersebut dikutipnya mengatakan:“ kita mengalami suatu sentiimen serta gerakan yang tingkatannya jauh melebihi isu, kebijakan, dan pemerintahan yang membayangi mereka. perihal ini tidak lain merupakan benturan peradaban sesuatu reaksi yang bisa jadi tidak rasional tetapi historis dari seseorang lawan purba terhadap peninggalan budaya Yahudi- Kristen kita, kondisi sekular, serta perluasan keduanya”

Tetapi demikian, perkara kesalahpahaman terhadap islam selaku doktrin ataupun peradaban tidak sekedar berasal dari anggapan eksternal umat Islam, tetapi boleh jadi disebabkan uraian yang tidak utuh dari internal umat islam sendiri dalam menguasai ajarannya. kecenderungan uraian yang parsial serta eksklusif dan kecenderungan studi yang berorientasi normatifitas sentris, bisa membuat umat Islam menutup mata terhadap tantangan ril Islam dalam menanggapi problematika sosial serta kemanusiaan yang lebih luas.

Secara akademis, banyak cendikiawan serta intelektual muslim yang menawarkan paradigma Islam yang lebih inklusif. Mohammad Arkoun misalnya, dalam letaknya dalam pemikir Islam modernis dalam gagasan serta idenya, mau terletak dalam posisis melaksanakan rekonstruksi terhadap pemikiran Islam klasik, tetapi disamping itu pula mau mengalami serbuan pemikiran barat yang cenderung mencitrakan negatif terhadap dunia Islam.

Arkoun berupaya melepaskan wacana kritis menimpa islam serta apa yang diucap dengan warga islam dari seluruh pembatasan serta kontradiksi, dengan lebih memilah metode- metode yang digunakan oleh ilmu sosial daripada tata cara yang ditawarkan oleh yang lain serta memilah tata cara perbandingan dari pada pemikiran etnografi yang dipakai oleh mayoritas orang- orang yang cenderung memarjinalkan islam dalam‘ dalam kekhususan’, partikularisme, serta singularisme. Bagi arkoun budaya islam tidak bisa direduksi jadi semacam cerminan agama kristen serta budaya erapa semenjak abad ke- 13. sedangkan disisi lain, para apolog islam bersama militan muslim membuat pandangan hidup tertentu yang lahir akibat studi barat menimpa‘ keautentikan’ sejarah serta doktrin islam. dalam pemikiran mereka, cuma islamlha yang langgeng sejauh masa serta sanggup lewat bermacam- macam sosial budaya dimana islam terletak.

Simpulan

Kajian hal- hal yang berkaitan dengan keislaman ataupun studi Islam kajian yang sangat mendalam hendak ajara- ajaran islam dari bermacam berbagai sumbernya baik itu secara historisitas maupun kenyataan penerapannya dalam kehidupan tiap hari yang menjadikan Al- Qur’ an serta hadis selaku acuan utamanya. Dengan menjadikan tokoh- tokoh agama selaku sumber buat memperoleh ilmu pengetahuan seputar silam mulai dari rosulullah ustad- ustad sampai da’ i- da’ I yang berlangsung pada keluarga, masjid, madrosah, hingga dengan pesantren al- jamia’ h. objek serta sasaran kajiannya meliputi objek sasaran keagamaan serta keilmuan.

Studi islam yang baik dalah dengan metode mengkaji seluruh aspek- aspek keislaman baik secara normatifitas maupun historisitas supaya terhidar dari mengerti dangkal terhadap islam yang ini telah bayak terjalin pada sebagian besar orang barat yang digunakan cuma buat penuhi kebutuhan akademik saja tanpa pertimbanga normatifitasnya. Kita selaku pemeluk agama hurusnya sanggup buat melaksanakan tuntunan keagamaan sehabis mempelajarinya.

Ada pula tujuan kajian keislaman ialah pertama buat menekuni secara mendalam sesungguhnya( hakikat) agama Islam itu, serta gimana posisi dan hubungannya dengan agama- agama lain dalam kehidupan budaya manusia. kedua Buat menekuni secara mendalam pokok- pokok isi ajaran agama Islam yang asli, serta gimana penjabaran serta operasionalisasinya dalam perkembangan serta pertumbuhan budaya serta peradaban Islam sejauh sejarahnya. Ketiga Buat menekuni secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang dinamis serta gimana aktulisasinya sejauh sejarahnya. Keempat Buat menekuni secara mendalam prinsip- prinsip serta nilai- nilai dasar ajaran agama islam, serta gimana realita dalam membimbing serta memusatkan dan mengendalikan perkembagan budaya. Yang seluruh itu mempunyai urgensi guna menanggapi hendak isu- isu agama serta kesalah pahaman.