Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Islam di Nusantara dan Akulturasi Islam dengan Budaya Nusantara

Sejarah Islam di Nusantara dan Akulturasi Islam dengan Budaya Nusantara

Sejarah Islam di Nusantara dan Akulturasi Islam dengan Budaya Nusantara

A. Kedatangan Islam di Nusantara

Sejarah Islam di Nusantara dan Akulturasi Islam dengan Budaya Nusantara- caraku.id Kedatangan Islam di Nusantara berlangsung secara damai dan sangat cepat beradaptasi dengan budaya Nusantara, tidak ada benturan dengan budaya setempat. Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Para pedagang dari Arab datang melalui rute laut sehingga tidak heran penduduk Indonesia di daerah-daerah pesisir mayoritas memeluk agama Islam. Beberapa daerah pantai, kota-kota pelabuhan menjadi kota-kota yang bercorak Islam, seperti: Samudera Pasai, Pidie di Aceh, Palembang, Malaka, Jambi, Demak, Gresik, Tuban, Cirebon, Banten, Gowa, Makassar, Banjarmasin, Ternate, Tidore dan sebagainya. Di antara kota-kota tersebut ada yang berfungsi sebagai pusat kerajaan yang bercorak Islam, kadipaten dan sebagai kota pelabuhan. Kerajaan di pinggiran pantai bercorak maritim sedangkan kerajaan di pedalaman bercorak agraris. Selain bercorak Islam, adapula yang merupakan percampuran antara unsur-unsur magis-religius budaya setempat sehingga Islam di Sumatera berbeda dengan Islam di Jawa.

Ada perdebatan mengenai kedatangan Islam di Nusantara, ada empat tema pokok yang berkaitan dengan kedatangan Islam ke Nusantara: Pertama, Islam dibawa langsung dari Arab; kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyiar profesional (da’i; zondig), ketiga, pihak yang mula-mula masuk Islam adalah penguasa, dan keempat, mayoritas para penyebar Islam profesional ini datang ke Nusantara pada abad ke 12 dan 13. Jadi Islam sudah diperkenalkan ke Nusantara sejak abad pertama Hijriyah dan abad 12 M Islam semakin tampak secara nyata.

B. Akulturasi Islam dan Budaya Nusantara

Dalam perkembangannya, ada tiga periode akulturasi yang terjadi di Indonesia:

1. Periode Awal (abad 5-11 Masehi) Masih menguatnya budaya Hindu dan Budha dan kebudayaan asli Indonesia sendiri terdesak, terbukti dengan ditemukannya berbagai macam patung dewa Brahma, Siwa, Wisnu dan Budha yang tersebar di kerajaankerajaan  seperti Tarumanegara, Kutai dan Mataram Kuno. 

2. Periode Pertengahan (Abad 11-16 Masehi) Dalam periode ini, budaya Indonesia mulai menguat bersamaan dengan budaya Hindu Budha sehingga cenderung terjadi sinkretisme (perpaduan antara dua atau lebih aliran budaya). Hal ini bisa kita lihat melalui peninggalan candi-candi berciri khas Hindu Budha, peninggalan zaman kerajaan di Jawa Timur (Kediri, Singasari, dan Majapahit). Aliran Tantrayana adalah contoh aliran religi yang merupakan sinkretisme dari kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu-Budha. Mereka mengakui dewa-dewa yang sama dengan Hindu namun tidak mengakui sistem kasta seperti keyakinan Hindu sehingga mereka dikeluarkan dari agama Hindu dan mereka memiliki akar pandangan yang sama dengan Mahayana, ajaran Budha yang mendewakan Buddha Sidharta. Ajaran ini menyimpang dari Budha karena penggunaan minuman keras dan mengutamakan makanan-makanan lezat dan mewah padahal Budha melarang minuman keras dan berfoya-foya. Bersamaan dengan masuknya Islam abad ke 12 - 13, menawarkan budaya baru dalam masyarakat Indonesia yang menyesuaikan dengan budaya lokal dan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan yang setara dan gaya hidup sopan dan sederhana.

3. Periode Akhir (Abad 16- Sekarang). Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya sedangkan unsur budaya Hindu Budha semakin menurun. Candi tidak lagi dipakai dipakai sebagai Pura tetapi kepada Shang Hyang Widhi sebagai perwakilan Tuhan yang Maha Esa

Budaya dan agama sebelum Islam masuk sangat mempengaruhi corak Islam di Nusantara, budaya tersebut juga sangat mempengaruhi metode dakwah Islam. Masuknya Islam ke Nusantara oleh para pedagang dari Timur Tengah  sekaligus menyampaikan dakwah Islam kepada masyarakat setempat. Pendekatan dakwah yang mereka lakukan dengan memahami budaya masyarakat setempat, membuat ajaran Islam dengan mudah diterima. Sebelum kedatangan agama-agama import seperti Hindu, Budha, Kristen dan Islam, Indonesia bukanlah ruang hampa atau realitas kosong melainkan sudah memiliki budaya sendiri (dalam bentuk agama atau tradisi) sehingga Hindu menjadi Hindu-Jawa begitu juga dengan Islam. Agama lokal pada saat Islam hadir adalah menganut kepercayaan animisme  dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan kepada anima, semua benda, yang bergerak atau tidak mempunyai roh termasuk roh nenek moyang yang bergentayangan yang bisa makan dan minum, bisa marah atau senang dan bisa dikendalikan oleh ahli sihir dan dukun. Dinamisme adalah percaya kepada “mana”, kekuatan gaib yang ada pada manusia atau hewan yang metap pada  kayu, batu, pohon yang dapat menimbulkan dampak baik atau buruk dan bisa dikendalikan oleh dukun dan upacara-upacara. Pemahaman animisme dan dinamisme dalam masyarakat Indonesia memiliki persamaan-persamaan yang menjadi peluang untuk didekati dalam mengenalkan ajaran Islam, misalnya: rasa persatuan yang besar sehingga menimbulkan rasa solidaritas yang tinggi, sifat individual yang tipis karena setiap orang saling terkait satu dengan yang lainnya, pelanggaran satu orang akan menyebabkan bahaya bagi seluruh masyarakat, semangat kerja sama dan gotong royong yang tinggi dalam kehidupan ekonomi dan aspek lainnya dan rasa tunduk dan penghormatan kepada pemimpin.

Kehadiran Islam semakin menyempurnakan nilai-nilai positif budaya yang ada di Nusantara. Kesempatan untuk berdakwah tentang ajaran egaliter di tengah pemahaman mengenai kasta dalam masyarakat Hindu-Budha ditambah dialog terhadap budaya lokal menjadi kunci keberhasilan dakwah Islam di Nusantara. Ajaran egaliter ini menjadi obat mujarab dari keterasingan dan ketersingkiran dari hirarki sosial dalam agama Hindu-Buddha. Kedatangan Islam di Nusantara mendorong perubahan besar pada masyarakat Indonesia dalam sejumlah aspek

Pengaruh Islam dalam masyarakat Indonesia juga berdampak pada ritual, peribadatan-peribadatan dan moral, seperti khotbah Hari Raya dan sholat Jumat semakin meningkat. Dakwah Islamiah terus berkembang di seluruh Nusantara, melalui pesantren-pesantren yang menganut aliran tradisional di pinggiran kota adanya percampuran antara pendidikan Islam dan budaya pribumi. Sementara untuk masyarakat kota didirikan madrasah-madrasah yang dibina dengan sistem pendidikan modern yang bekerjasama dengan lembaga-lembaga Islam seperti Muhammadiyah, NU, dan sebagainya sehingga terjadi percampuran antara budaya Indonesia dan pendidikan Barat