Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Perkembangan Dakwah Sebagai Ilmu Pengetahuan

Sejarah Perkembangan Dakwah Sebagai Ilmu Pengetahuan - caraku.id Aktivitas dakwah sebenarnya telah ada sejak adanya upaya menyampaikan dan mengajak manusia ke jalan Allah, namun kajian akademik keilmuannya masih tertinggal dibandingkan dengan panjangnya sejarah dakwah yang ada. Sebagai sebuah realita, dakwah merupakan bagianyang senantiasa ada sebagai aktivitas keagamaan umat Islam. Sementara sebagai kajian keilmuan pastinya hal ini memerlukan spesifikasi yang berbeda dan persyaratan tertentu.Dewasa ini terdapat beberapa fenomena yang kemudian menempatkan kesadaran umat bahwa dakwah sebagai suatu aktivitas keagamaan memang memiliki kekutan yang besar dalammem bentuk kecendrungan masyarakat. Hal ini sekaligus menumbuhkan secara jelas dan tegassehingga ilmu ini dapat memberikan inspirasi yang baik bagi kecendrungan masyarakat.

Maraknya dakwah, ternyata belum mampu menahan masuknya beberapa ajaran atau pemahaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran agama secara hedonistik, matrealistik,dan sekuleristik. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kesalahpahaman dalam memahamidan menghayati pesan simbolis keagamaan. Sehingga ritualitas perilaku kesalehan dalam beragama masyarakat tidak menerangkan tentang perilaku keagamaan yang sesungguhnya dimana nilai-nilai keagamaan menjadi pertimbangan dalam berfikir maupun bertindak olehindividu maupun sosial.Ilmu dakwah mengalami proses perkembangan yang positif sehinnga semakin hari semakin sehingga semakin waktu mendapat sambutan dan pengakuan darimasyarakat mengenai eksistensinya
Sejarah Perkembangan Dakwah Sebagai Ilmu Pengetahuan

Sejarah Perkembangan Dakwah Sebagai Ilmu Pengetahuan

A. Sejarah Awal Dakwah

1. Konsep Dakwah di Masa Awal Islam

Rasulullah SAW mulai menyebarkan Islam di Makkah pada suku Quraisy melalui tiga tahap yakni:

a. Tahap secara diam-diam

Pada tahap ini Rasulullah SAW baru mengajak kerabat dan para sahabat terdekan guna meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan berpaling menuju jalan Allah

b. Tahap semi terbuka

Melalui praktek menyerukan islam dalam lingkup yang lebih luas

c. Tahap terbuka/terang-terangan

Rasulullah mulai meningkatkan dan memperluas jangkaun dakwahnya sehigga tidak lagi terbatas pada penduduk makkah saja tetapi juga kepada setiap pengunjung yang datang kemakkah teritama apada musim haji. 

Dalam pengembangannya usaha dakwah yang dilakukan Rasulullah dimulai dari diri sendiri sehingga segala perilakunya dapat menjadi contoh atau suri tauladan bagi perubahan yang akan terjadi di masyarakat. Walaupun pada periode makkah ini dakwah Rasul kurang berhasil akan tetapi pada periode ini pengikutnya telah mempunyai dasar-dasar yang kokoh dalam beragama dan dalam kehidupan. inilah yang menjadi bahan dasar bagi pola pengembangan masyarakat dawakh pada masa-masa selanjutnya. 

Dalam periode madinah telah mengalami perubahan dan perkembangan dari periode sebelumnya yang hanya melakukan seruan. Di madian dakwah dilakukan dalm rangka pembinaan umat dan masyarakat isalm yang baru terbentuk. Rasulullah mulai menanamkan nilai-nilai dan norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dan hubungn masyarakat sekitar dalam hal peribadatan, sosial, ekonomi, dan politik yang bersumber pada al-quran dan Hadis.

Usaha dakwah Rasulullah di Madina lebih fokus pada optimalisasi peran masyarakat dalam membangun negara. Startegi dakwah dilakukan dengan gerakan amal ma’ruf yaitu gerakan untuk membangun mengembangkan tatanan sosial menjadi lebih baik atau membangun sistem sosial yang berdasarkan atas nilai-nilai positif yang terdapat dalam kepribadian Rasulullah SAW.  Dakwah secara amal ma’ruf ditunjukan untuk merealisasikan kebaikan dimasyarakat agar terwujudnya kemaslahatan dan kesejahteraan serta lebih memperhatian peran masyarakat. Dlam waktu singkat startegi amal ma’ruf berhasil mempersatukan masyarakat madinah, menumbuhkan peradaban baru, dan banya menghasilkan pendakwah handal yang nantinya menjadi penyebar islam setelah Rasulullah wafat.

Pada masa khuafaur rasyidi dakwah lebih bersifat amatir dalam arti penangannya. Pada saat itu umat islam masih disibukan dengan penataan internal yang sebelumnya telah dikacaukan oleh kaum munafik dan fasik untuk tujuan pribadi  maupun politik. Walaupun begitu bukan berarti dakwah mengalami stagnasi dan hampa dari karya-karya monumental sebaliknya terdapat momen penting yaitu penetapan tahun hijriyah, kondifikasi al-quran dan perluasan daerah islam. 

2. Konsep Dakwah di Massa Perkembangn Islam

Dakwah ini dimulai pada masa bani umayyah dan bani abbasiyah. Islam sebagai konsep daulah dalam menyelesaikan nberbagai masalh anatr negera menggunakan model diplomasi dan risalah (surat-menyurat atau pembritahuan secara tertulis) apabila hal tersebut tidak dapat dilakukan maka jalan terakhir adalah denagn penaklukan (perang) dari sinilah muncul istilah jihad walaupun pada akhirnya istilah tersebut menitikberatkan pada aspek kesungguhan dalam melaksanakan ajaran islam dan bahkah lebih tegas dikatakan kesungguhan dalam memrangi nafsu (jihad akbar).

Dalam rangka perluasan dakwah islam bani umayyah menerapkan sistem klasikal yakni da’i mengemban tugas dari khalifah untuk mengembangkan islam secara damai ketika seruan itu ditolah atau bahkan diperangi oleh suatu negeri maka khalifah akan mengambil jalan lain melaului pembayaran upeti (jizyah) ketika pemabyan upeti teatp ditolak maka jalan terakahir melalui peperangan. Pada bani ummayah juga mulai diberlakukan qiyas pada kalangan ulama sebagai langkah alternatif dalam rangka memecahkan masalah. 

3. Konsep Dakwah di Massa Kejayaan Islam

Ketika bani abbasiyah berkuasa berbagai kajian keilmuan telah terkonsep dengan baik ditandai denagn munculnya banyak tokoh atau ahli dari berbagai bidang sekolah dan universitas juga telah didirikan.

Dalam hal ini konsep dakwah juga dikembangkan baik dalam universitas maupun dikalangn ahli agama beberapa hal yang ditabnadi dimulainya profesionalisai dakwah yakni:

a. Sumber isi dalam pelaksanaan tugas dakwha dinilai sudah lengkap yakni terdiri dari al-quran, hadis, ilmu tafsir dan kumpulan-kumpulan hukum

b. Berbagai upayah pemeritah abbasiyah untuk penyiaran seni dan pengetahuan yang bernafaskan islm dalam menegmabngkan kultur islam sehingga pada masa ini dakwah melalui seni kaligrafi mulai dikenal.

c. Tumbuhnya sistem pendidikan model universits tinngi dari berbagai jurusan yang menumbuhkan ilmu-ilmu tafsir, hadis, hukum, filsafat, dan ilmu kalam

Pada masa ini merupakan embroi pengembangan dakwah dilihat dari strategi atau konsep pengembangannya dikenal dengan model dakwah bil kitabah. 

4. Konsep Dakwah di Massa Kemunduran Islam

Gerakan dakwah pada massa ini nampak pada aliran atau kelompok-kelompok keagaaman. Walaupun negara-negara islam mengalami kemuduran tetapi gerakn dakwah tetap berjalan dengan menjelma menjadi dua bentuk yakni, pertama, pada wilayah barat dengan bentuk dakwah formal (dakwah syar'iyah) yaitu gerakan dakwah yang dilakukan melaluiinstitusi resmi dlam melaksanakan atau merealisasika ajaran islam dalam kehidupan nyata. Sekarang dakwah ini dikenal denagn dakwah bil-hal.

Kedua, untuk wilayah timur aktivitas dakwah lebih bersiaft sufistik atau dikembangkan lewat jalur perdagangan. Model dakwah yang dikeanl adalah dakwah kultural. Dakwah yang dilakukan pendekatan kultur, yakni denagn memanfaatkan tradisi, adat istiadat, seni, dan kegemaran-kegemaran masyarakat. Aplikasi dakwah kultural ini dengan menggunakan pendekatan tabligh (bil-lisan).

5. Konsep dakwah di massa kebangkitan islam

Masa ini ditandai dengan adanya kesadaran umat islam atas kemunduran dan kelemahannnya. Para pemuka islam mulai berpikir dan menacari jalan untuk mengembalikan balance of power yang telah pinacang dan membahayakan islam denagn adanya kesadaran tersebut mulai muncul pembaharuan pemikiran dalam islam.

Dalam bidang dakwah mulai dikembangkan gerakan tajdid atau modernisasi islam. Gerakan ini merukapan kegarakan pembaharuan untuk menyatukan panadangan umat islam dalam bidang politik, aqidah, dan pendidikan. 

B. Sejarah Pengembangan Ilmu Dakwah

Sejarah perkembangan ilmu dakwah tidak dapat dipisahkan dari sejarah dakwah itu sendiri. Sejauh ini sejarah perkembangan ilmu dakwah jarang dibahas oleh literatur-literatur ilmu dakwah. Karena ilmu dakwah tergolong kedalam ilmu yang masih baru.

Di simpulkan beberapa tahap perkembangan ilmu dakwah  adalah:

1. Tahap  Konvensional

Pada tahap ini dakwah masih merupakan kegiatan kemanusiaan berupa seruan atau ajakan untuk menganut dan mengamalkan ajaran Islam yang dilakukan secara konvensional, artinya dalam pelaksanaan secara operasional belum mendasar pada metode-metode ilmiah, akan tetapi berdasarkan pengalaman orang perorangan. Oleh karena itu, tahapan ini juga disebut dengan tahapan tradisional.

2. Tahapan Sistematis

Tahap ini merupakan tahap pertengahan, pada tahap ini  dakwah juga ditandai dengan adanya perhatian masyarakat yang lebih luas terhadap pelaksanaan dakwah islam sehingga memunculkan seminar, diskusi sarasehan, dan pertemuaan-pertemuan ilmiah lainnya, yang secara khusus membicarakan masalah yang berkenaan dengan dakwah. Tahap ini merupakan tahap yang sangat menetukan dalam tahap atau pengembagan selanjutnya sebab tahap-tahap gejala ilmu dakwah mulia kelihatan.

3. Tahapan Ilmiah

Pada tahap ini dakwah telah berhasil tersusun sebagai ilmu pengetahuan setelah melalui tahap sebelumya dan memenuhi syarat-syaratnya yang objektif, metodik, sistematik, sebagaimana telah disinggung pada pembahasan-pembahasan sebelumnya. Ini adalah berkat jasa para Ulama’ yang telah banyak berupaya untuk menyusun dan mengembangkannya dengan jalan mengadakan pembahasan dan penelitian kepustakaan maupun secara lapangan tentang fenomena-fenomena dakwah yang dianalisis lebih jauh dan telah melahirkan beberapa teori dakwah. Walaupun demikian tidak berarti ilmu ini lepas dari keraguan tentang eksistensi keilmuannya.

Ilmu dakwah mengalami proses perkembangan yang positif sehinnga semakin hari semakin estabilished  sehingga semakin waktu mendapat sambutan dan pengakuan dari masyarakat mengenai eksistensinya.

Khusus untuk Indonesia, pengakuan ilmu dakwah ini pertama kali dapat dilihat dengan dibukanya jurusan dakwah pada fakultas yang ada di IAIN yang ada di sseluruh Indonesia dan ditambah dengan program pascasarjananya baik di S2 maupun S3 di seanatero Indonesia. Pengakuan masyarakat ilmiah tentang ilmu dakwah di atas juga diperkuat dengan hasil diskusi pembidangan ilmu agama Islam yang dilakukan oleh proyek pembinaan Perguruan Tinggi Agama Jakarta setelah mendapatkan dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bahwa dakwah Islamiah telah memiliki disiplin ilmu dakwah, bimbingan Islam, dll.

C. Dakwah Sebagai Disiplin Ilmu

Dakwah sebagai Disiplin Ilmu Perjalanan panjang dalam mendiskusikan fokus dan lokus ilmu dakwah diakui melalui Surat Edaran Departemen Agama RI No. E III/PP.00.10/Ed/88. Pada kurikulum 1988, pembahasan ilmu dakwah sudah mendekati sempurna karena dikupas secara rinci ke arah disiplin ilmu, mencakup topik-topik antara lain :

1. Definisi ilmu dakwah
2. Dasar hukum dan tujuan dakwah
3. Ruang lingkup pembahasan ilmu dakwah
4. Pertumbuhan dan perkembangan ilmu dakwah
5. Metodologi ilmu dakwah
6. Hubungan ilmu dakwah dengan ilmu lain yang erat kaitannya
7. Komponen dan faktor dalam kegiatan dakwah
8. Dakwah dalam pelaksanaannya.

Pada Maret 1990 Fakultas dakwah IAIN Walisongo Semarang mengadakan seminar nasional dengan tema “Pengembangan Ilmu Dakwah”. Dalam topik seminar tesebut mengetengahkan topik-topik sebagai berikut :

1. Sejarah perkembangan dakwah di Indonesia
2. Studi kasus beberapa pelaku dakwah
3. Ilmu dakwah kaitannya dengan ilmu-ilmu lain.

Dari seminar tersebut A. Chairul Bashori mengemukakan letak atau posisi ilmu dakwah dan mengklasifikasikannya menjadi 3 bagian:

1. Golongan pertama berpendapat bahwa ilmu dakwah telah memadai sebagai kajian sebuah ilmu yang  memperoleh –pembenarannya- secara normatif diambil dari nash al-Qur’an dan Hadits seperti yang lazim digunakan dalam kajian ilmu keislaman selama ini. Pendapat ini diperkuat oleh Jalaluddin rahmat bahwa ilmu dakwah yang ada pada saat ini berada dalam paradigma logis yang dikaji dalam al-Qur’an dan hadits.

2. Golongan kedua berpendapat bahwa ilmu dakwah yang ada sekarang belum bisa diterima sebagai disiplin ilmu, akan tetapi baru merupakan pengetahuan non sains.

3. Golongan ketiga berpendapat bahwa ilmu dakwah senada dengan ilmu komunikasi, mengingat yang beda hanya pada massagenya.

Dari ketiga pandangan terhadap ilmu dakwah, Jalaluddin Rahmat cenderung kepada pendapat yang ketiga, yakni apabila ingin dikaji secara empiris maka ilmu dakwah harus diletakkan dalam kelompok ilmu-ilmu perilaku (behavior-science) atau ilmu-ilmu sosial (social-science), dengan begitu ilmu dakwah erat kaitannya dengan ilmu komunikasi yang juga cross road.

Simpulan

Dalam pengembangannya usaha dakwah yng dilakukan Rasulullah dimulai dari diri sendiri sehingga segala perilakunya dapat menjadi contoh atau suri tauladan bagi perubahan yang akan terjadi di masyarakat. Walaupun pada periode makkah ini dakwah Rasul kurang berhasil akan tetapi pada periode ini pengikutnya telah mempunyai dasar-dasar yang kokoh dalam beragama dan dalam kehidupan. inilah yang menjadi bahan dasar bagi pola pengembangan masyarakat dawakh pada masa-masa selanjutnya

Sejarah perkembangan ilmu dakwah tidak dapat dipisahkan dari sejarah dakwah itu sendiri. Sejauh ini sejarah perkembangan ilmu dakwah jarang dibahas oleh literatur-literatur ilmu dakwah. Karena ilmu dakwah tergolong kedalam ilmu yang masih baru.

Dakwah sebagai Disiplin Ilmu Perjalanan panjang dalam mendiskusikan fokus dan lokus ilmu dakwah diakui melalui Surat Edaran Departemen Agama RI No. E III/PP.00.10/Ed/88. Pada kurikulum 1988, pembahasan ilmu dakwah sudah mendekati sempurna karena dikupas secara rinci ke arah disiplin ilmu.