Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Jurnal Dakwah di Era Digital

Review Jurnal Dakwah di Era Digital - caraku.id Dewasa ini dakwah jangan hanya dimaknai sebagai proses transformasi ilmu agama, akan tetapi, nilai-nilai Islam yang disyiarkan adalah nilai-nilai yang dapat bersinggungan dengan perkembangan zaman, salah satunya era digital. Era digital merupakan era di mana masyarakat masuk ke dalam gemuruh banjir infromasi yang mengakibatkan masyarakat mengalami gegar budaya dan kesulitan mengambil makna dari setiap informasi yang bertebaran.

Dakwah di era digital harus mampu mengakomodir kepentingan masyarakat yang bergerak ke arah “budaya massa”. Maka dari itu, perlulah dilakukan strategi dan metode dakwah yang humanis dan “terbarukan”. Metode “dakwah” terbarukan adalah dakwah melalui media digital. Konsekuensinya adalah da’i harus mampu mengembangkan soft skill dan menguasai teknologi, sehingga metode dan materi dakwah yang disampaikan bersifat modern dan praktis.

Review Jurnal Dakwah di Era Digital, KOMUNIKA (Vol. 11, No. 2, Juli - Desember 2017)

Review Jurnal Dakwah di Era Digital

Review Jurnal

Di era modern ini, mengajar agama Islam tidak lagi menjadi otoritas seorang ulama. Di mana saja, kapan saja dan dengan berbagai cara, orang bisa belajar agama Islam. Masyarakat sekarang ini tidak hanya mengandalkan ulama sebagai sumber satu-satunya untuk mendapatkan pengetahuan keagamaan. Masyarakat bisa memanfaatkan televisi, radio, surat kabar, handphone, video, CD-Rom, buku, majalah, dan buletin. Bahkan, internet sekarang ini menjadi media yang begitu mudah dan praktis untuk mengetahui berbagai persoalan keagamaan, dari masalah-masalah ringan seputar ibadah sampai dengan persoalan yang pelik sekali pun, semua sangat mudah untuk diketahui dan didapatkan. “Mbah Google” seringkali dijadikan sebagai sumber dan rujukan utama dalam memperoleh pengetahuan keagamaa

Era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi seperti sekarang harus menuntut da’i memiliki kecakapan dalam mengelola teknologi sebagai media dakwahnya. Da’i tidak boleh hanya menunggu “masalah datang” untuk berdakwah. Ziauddin Sardar menyebut bahwa da’i harus “jemput bola” guna membangun interaksi, komunikasi, dan kelekatan terhadap umat/mad’unya. Dengan media teknologi, da’i mampu melakukan masivikasi kajian dan syiar kepada seluruh umat muslim dengan lebih praktis.

Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, pada zaman modern ini sebagian besar manusia di negara maju dan sebagaian lainnya bergantung kepada teknologi komunikasi, terutama media komunikasi massa. Tingkat kebutuhan terhadap teknologi ini telah demikian menjadi suatu yang menentukan. Baik dalam interaksi antar individu, komunitas, lembaga maupun hanya sekedar mencari hiburan dan alternatif untuk mendapatkan informas

Melihat kenyataan semacam ini sesungguhnya dakwah Islam memiliki peluang besar untuk berdialektika dengan modernisasi dan globalisasi. Fenomena anak muda mengaji al-Quran dengan menggunakan handphone, seorang muslimah menggunakan jilbab yang modis, umrah sebagai trend wisata religi, curhat masalah agama dengan menggunakan twitter dan facebook, pengajian di kantor-kantor dan hotel-hotel, training keagamaan dengan biaya mahal, gerakan shalat dhuha di perusahaan-perusahaan, gerakan wakaf uang dan lain sebagainya merupakan adanya perubahanperubahan dalam keberagamaan seorang muslim

Pada periode postmodern seperti sekarang ini, manusia hidup di era yang oleh Jalaluddin Rakhmat disebut sebagai era “kebanjiran informasi”. Paradigma kehidupan masyarakat bergeser dengan cukup drastis. Dahulu, interaksi secara langsung kepada individu atau kelompok guna memenuhi kebutuhan hidup berlangsung dengan cara konvensional (tatap muka), akan tetapi, pola tersebut sekarang mulai digeser oleh budaya digital. Yasraf Amir Piliang menyebutnya sebagai “Kota Digital” atau “Cyberspace City”.

Kritik

Berbicara mengenai dakwah dan peradaban, romantisme memori umat Islam akan menyasar kepada proses dakwah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasulullah SAW. Tidak sedikit narasi yang terjadi ketika itu adalah benturan kepentingan, baik itu politik, agama, ideologi, dan ekonomi yang berakibat hilangnya nyawa banyak syuhada akibat peperangan

Dan kini mulai beralih menjadi peradaban baru dakwah Islam harus bisa berbaur dengan teknologi. Secara teologis, Islam tidak menjadi hambatan untuk menjadikan umatnya maju dan berkembang. Bahkan Islam sangat mendorong umatnya untuk menjadi umat yang terbaik di muka bumi (Q.S ali-‘Imran: 110) (Basit, 2006). Atas dasar semangat teologis tersebut, maka perlu adanya bekal pengetahuan dan praktik penguasaan teknologi bagi para da’i . Paradigma da’i yang “hanya” pandai berbicara soal agama namun alpa dengan perkembangan teknologi harus diubah. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama juga perlu memberikan fasilitas yang memadai bagi terselenggarakannya technological education bagi para da’i , agar dakwah Islam yang disyi’arkan lebih berwarna dan modern.

Dakwah yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi harus memunculkan sebuah gerakan, pemikiran, dan temuan-temuan baru dalam bidang dakwah guna kemaslahatan umat manusia. Dakwah Islam pada era digital idealnya mampu menerjemahkan isu-isu aktual yang sedang terjadi dengan memasukkan nilai-nilai dan paham Islam yang inklusif, seperti isu pendidikan, gender, ekonomi, dan multikulturalisme. Dakwah Islam tidak boleh “hanya” bersifat tekstual, akan tetapi harus selalu dinamis dan berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban umat.

Dialektika dakwah Islam dengan perkembangan teknologi digital ini menjadi peluang emas agar bisa bersaing “melawan” hegemoni Barat yang sudah merasuk ke berbagai pemikiran dan ideologi umat manusia. Islam harus menunjukkan “wajah sejuk”, karena selama ini yang tampil di media adalah Islam yang diposisikan sebagai gerakan terorisme, sehingga muncul kredo “ Islam is a terorist ”.