Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film Yowis Ben (Fajar Nugros dan co-director Bayu Skak)

Review Film Yowis Ben (Fajar Nugros dan co-director Bayu Skak) - caraku.id Starvision Plus menghadirkan film komedi drama bertajuk Yowis Ben. Film drama komedi ini disutradarai oleh Fajar Nugros dan co-director Bayu Skak akan meramaikan pasar komedi-drama di layar lebar Indonesia. Seperti film atmosfer lokal lainnya yang masuk bioskop nasional, Yowis Ben 95% menggunakan bahasa Jawa dalam keperluan menghantarkan cerita.

Bertemakan soal butuh pengakuan, pencarian jati diri, dan mengejar cinta adalah tema yang paling sering muncul dalam film remaja. Kisah ini pun dengan sangat rapi dan baik diceritakan lewat skenario buatan Bagus Bramanti (Dear Nathan, Talak 3, Kartini), Gea Rexy (Dear Nathan), dan Bayu Skak. Cerita juga dibumbui pesan-pesan moral, mulai jangan bolos sekolah, rajin ibadah, hingga toleransi antarumat beragama dan antarkelas sosial.

Bayu punya banyak alasan memilih bahasa Jawa sebagai dialog filmnya. Salah satunya adalah faktor kecintaan pada tanah kelahirannya. Selain itu, dia terinspirasi dengan film serupa asal Makassar yang meledak di pasaran berjudul Uang Panai (2017).

Review Film Yowis Ben (Fajar Nugros dan co-director Bayu Skak)

Review Film Yowis Ben (Fajar Nugros dan co-director Bayu Skak)

Berawal dari keinginan mendapatkan pengakuan diri dari lingkungannya, Bayu (Bayu Skak) dan Doni (Joshua Suherman. Terutama Bayu yang pengen dapat perhatian dari Susan, sang pujaan hatinya. Bayu lalu memutuskan mendirikan sebuah band untuk meningkatkan kepopuleran mereka di sekolah. Bayu yang di-bully karena ditolak cinta dan disebut “Pecel Boy” serta Doni yang ingin mendapat pengakuan dari orang tuanya, akhirnya mereka mengadakan sayembara untuk mencari personel band. Masuklah Yayan (Tutus Thomson) dan Nando (Brandon Salim).

Sampai pada suatu ketika band mereka terkenal melalui YouTube, Susan (Cut Meyriska) kepincut dengan Bayu. Namun ternyata kedekatannya dengan susan tersebut justru membawa petaka bagi hubungan dengan bandnya “Yowis Ben”.

Sinopsis Film

Bayu seorang anak SMA sederhana berwajah desa. Dia populer di sekolah, tetapi bukan karena prestasi, apalagi tampang kece, melainkan karena julukan "Pecel Boy" yang disandangnya. Nama itu didapat karena dia ikut membantu ibunya berjualan pecel bungkus yang dibawa ke sekolah. Dengan hidup dan wajah pas-pasan, sayangnya selera dan ambisi Bayu sangat tinggi. Dia naksir perempuan cantik di sekolah dan tentu saja langsung ditolak mentah-mentah di depan kelas.

Tidak kapok, dia malah naksir perempuan yang lebih cantik lagi, namanya Susan (Cut Meyriska). Lagi-lagi, Susan cuma memandangnya sebelah mata. Satu-satunya sikap manis yang ditunjukkan Susan adalah waktu dia berharap diskon pecel dari Bayu.

Susan  (Cut Meyriska), tidak pernah dianggap serius, Bayu lalu berinisiatif membentuk ban untuk melakukan pembuktian diri. Dia mengajak sahabatnya, Doni (Joshua Suherman), untuk merekrut personil, dari hasil menyebar pamflet seadanya, dua sahabat ini berhasil merekrut pemukul bedug masjid yang diam-diam memiliki bakat terselubung sebagai drummer, Yayan (Tutus Thomson). Turut bergabung bersama mereka yakni murid pindahan yang digilai karena tampangnya, Nando (Brandon Salim).

Petualangan pencarian pengakuan dari lingkungan pun dimulai,  Mengusung nama Yowis Ben yang tercetus dari musyawarah berujung pertikaian, band ini mengusung satu misi: pembuktian diri. Empat serangkai ini pun mendadak menjadi hits di dunia maya, membuat mereka menjadi terkenal se-sekolah bahkan se-kota Malang. Karena kepopuleran band mereka yang terkenal melalui YouTube, akhirnya Susan (Cut Meyriska), wanita yang diidamkan oleh Bayu mulai mendekati bayu.

Hari-hari Bayu pun berubah sejak Susan mengirim voice chat ke Bayu. Sayangnya, Susan hanya manfaatin Bayu yang kemudian jadi populer lewat band bentukannya yang bernama Yowis Ben. Konflik kisah cinta Bayu pun makin memanas dengan adanya perselisihan antaranggota band tersebut. Kemunculannya pun berdampak pada keretakan empat serangkai ini.

Analisis

Bahasa Jawa yang digunakan seakan-akan sebagai roh dari setiap lawakan dan adegan konyol dalam film ini yang akan membuat penonton terpingkal bagi penonton yang paham terhadap bahasa jawa lalu bagaimana untuk penonton yang diluar Jawa? meskipun dihadirkan subtitle bahasa Indonesia bagi penonton yang tidak paham dengan bahasa Jawa tetap saja gaya, logat bahasa Jawa tidak bisa ditangkap secara utuh, sehingga penonton Jawa dan diluar Jawa akan menerima suasana yang berbeda dalam menonton Film Yowis Ben ini. Bisa dikatakan Film ini terlalu segmented, lebih lebih Yowis Ben juga mengangkat Budaya Jawa.

Di sisi lain pengangkatan Bahasa Jawa untuk memperkanalkan bahasa daerah ke penonton dan rakyat Indonesia menjadi hal positif. Meskipun penonton tidak paham dengan Bahasa Jawa tetapi mereka masih dapat menikmati lelucon-lelucan dan guyonan konyol yang dilontarkan dari film ini. Secara keseluruhan Yowis Ben merupakan film komedi segar di awal tahun. Alurnya yang simpel sangat membuat penonton yang suka dengan genre komedi-drama dengan bumbu romansa di dalamnya. Sebenarnya cerita dari film ini bukan andalan utama. Melainkan Senjata utamanya adalah unsur-unsur dan gimmick lokal yang menghiasi sepanjang film.

Gagasan yang dibawa juga menarik dan related dengan kehidupan kids zaman now. Film ini juga mengajak kita mengenali Budaya orang Jawa lebih spesifiknya Jawa Timur, baik perilaku orangnya, bahasa, dan pola candaannya. Film ini memang sangat kental dengan budaya khas Jawa Timur. Mulai dari setting tempat yang mengambil beberapa spot dari kota Malang dan Surabaya, bahasa Jawa Timuran, watak keras khas orang sana, sampai gaya bercandaannya.Hal ini baik agar penonton dan seluruh rakyat Indonesia mengetahui kekayaan budaya dan bahasa yang kita punya.

Seperti yang kita ketahui dari berbagai wilayah Pulau Jawa, Jawa Timur dikenal sebagai Jawa yang keras atau kasar. Hal ini sangat terlihat dari watak para pemeran dan gaya bicara mereka, maka jangan heran kalau kamu bertemu orang Jawa Timuran tiba-tiba mengucapkan kalimat “Jancok” dengan nada tinggi. Nggak selamanya ketika orang sana mengucapkan kata teresebut ketika sedang marah, kadang saat berkelakar pun tutur mereka mudah berkata semacam itu. Dalam film ini kalimat tersebut sering di ucapkan oleh para aktor, terutama pada aktor utama yaitu Bayu Skak.

Simpulan

Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai dipahaminya informasi oleh komunikan. Esensi dalam proses komunikasi adalah untuk memperoleh kesamaan makna diantara orang yang terlibat dalam proses komunikasi antar manusia, Dalam menyampaikan informasi atau pesan membutuhkan saluran atau media salah satunya media bioskop atau televisi dan film merupakan pesan yang disampaikan dalam bentuk audio visual kepada penonton dan komunikasi tersebut bersifat satu arah. Tersampaikannya pesan atau informasi dalam film bisa berupa komunikasi verbal maupun non verbal, dalam film biasanya lebih banyak menggunakan komunikasi verbal dalam bentuk bahasa

Bahasa dalam film Yowis Ben 95% menggunakan Bahasa Jawa, dimana bahasa ini akan mudah dipahami bagi masyarakat Jawa dan akan sulit dipahami oleh masyarakat di luar Jawa. Sutradara Fajar Nugros dan co-director Bayu Skak tetap bertekad membawa Bahasa Jawa kedalam film Yowis Ben dan solusi mengatasi penonton di luar Jawa yang tidak paham dengan Bahasa Jawa dengan memberikan subtitle Bahasa Indonesia ke dalam film. Di sisi lain film ini berusaha juga untuk memperkenalkan Budaya masyarakat Jawa kepada penonton, bagaimana kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari keseharian mereka, suasana, gaya, logat bahasa, dll.