Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Prinsip-Prinsip dalam Dakwah Islam

Prinsip-Prinsip dalam Dakwah Islam - caraku.id Di dalam Islam, dakwah merupakan cara untuk menyerukan kebaikan dan nasihat kepada sesama dan berdakwah itu harus dimulai dari diri sendiri dan kemudian menjadikan keluarganya sebagai contoh bagi masyarakat. Dakwah juga harus dilakukan dengan cara yang elegan dan tidak memaksa. Anjuran untuk berdakwah ini merupakan salah satu peran penting risalah Nabi Muhammad saw. 

Prinsip-Prinsip dalam Dakwah Islam

Prinsip-Prinsip dalam Dakwah Islam

Rasulullah saw berdakwah di tengah masyarakat jahiliyah Arab. Masyarakat yang masih butah huruf, tidak menghargai keilmuan dan sebagainya. Sifat ekslusifitas agama kadang juga menjadi tantangan dan benalu dalam Islam. Pada fakta sejarah, Nabi tidak pernah memaksakan ajaran Islam kepada orang lain, bahkan sekalipun itu pihak keluarga dan saudaranya. seperti firman Allah:

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh telah tampak jelas kebenaran dan kebatilan.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Menurut Effendy (2006:x-xi) prinsip-prinsip dakwah  terbagi menjadi 7, yakni :

1. Secara mental, Da’i harus siap menjadi pewaris para nabi, yakni mewarisi kejuangan yang beresiko. Semua Nabi juga harus mengalami kesulitan ketika berdakwah kepada kaumnya meski sudah dilengkapi dengan mu’jizat.

2. Da’i harus menyadari bahwa masyarakat membutuh waktu untuk dapat memahami pesan dakwah, oleh karena itu dakwah pun harus memerhatikan tahapan-tahapan , sebagaimana dahulu Nabi Muhammad harus melalui tahapan periode mekah dan periode madinah.

3. Da’i juga harus menyelami alam pikiran masyarakat sehingga kebenaran Islam dapat bisa disampaikan dengan menggunakan logika masyarakat, sebagaimana pesan Rasul.

4. Dalam menghapapi kesulitan, Da’i harus bersabar, jangan bersedih atas kekafiran masyarakat dan jangan sesak nafas terhadap tipu daya mereka.

5. Citra postif dakwah akan melancarkan konmunikasi dakwah, sebaliknya citra buruk akan membuat semua aktivitas dakwah menjadi kontraproduksi. Citra positif bisa dibangun dengan kesungguhan dan konsistensi dalam waktu lama, tetapi citra buruk dapat terbangun seketika hanya oleh satu kesalahan fatal.

6. Da’i harus memperhatikan tertib urutan pusat perhatian dakwah, yaitu prioritas pertama berdakwah sehubungan dengan hal-hal yang bersifat universal, yakni al khair (kebijakan), yad’una ila al-khair, baru kepada amr maruf dan baru kemudian nahi munkar.

Menurut Sayyid Quthub bahwa kaidah umum itu ada dua. Pertama, kaidah yang menyatakan bahwa dakwah tidak boleh memaksa sesuai dengan prinsip “Tidak ada paksaan dalam agama” (la ikraha fi al-din). Kedua Kaidah yang menyatakan hidayah. (hidayah), hasil akhir kegiatan dakwah, bukan di tangan dai, tetapi ditangan Allah swt.

1. Dakwah dengan Tidak Memaksa

Prinsip dakwah semacam ini menurut Sayyid Quthub merupakan prinsip umum atau disebut (Kaidah kulliyyah) yang harus dipedomani oleh dai dalam melaksanakan dakwah, dan tidak boleh dilanggar oleh siapapun. Prinsip ini berdasarkan firman Allah dalam surah Al Baqarah QS : 2/ 256  yang artinya ; “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah”

Islam melarang keras pemaksaan agama itu. Hal ini menurut Sayyid Quthub, karena maslah agama (aqidah) adalah masalah menerima atau menolak setelah adanya penjelasan (albayan) dan pemahaman dan sama sekali bukan masalah pemaksaan. Itu sebabnya, Islam datang dengan mengetuk pikiran dan kognisi manusia serta semua potensi kesadaran yang dimiliki. Ia berbicara kepada akal dan kesadaran manusia yang aktif, sebagaimana ia berbicara pada fitrah yang merupakan hakikat primer manusia, tanpa sedikit pun menggunakan unsur paksaan. Kepercayaan agama itu tidak masuk ke dalam jiwa manusia dengan cara pemaksaan. Pemaksaan agama itu menurut Sayyid Quthub, selain dilarang, juga tidak ada artinya apa-apa.

2. Hidayah di Tangan Allah

Prinsip lain yang tak boleh dilupakan oleh para dai ialah prinsip bahwa hidayah berada di tangan Allah atau berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya yang mutlak. Ini berarti, di luar upaya maksimal yang dapat dilakukan para dai, terdapat semacam factor X yang turut menentukan sikap seseorang (mad’u) menerima atau menolak Islam. Hasil akhir dari proses dakwah sesungguhnya tidak berada di tangan para dai, melainkan di tanggan Allah swt

Prinsip ini, sama sekali tidak dapat dijadikan jastifik asi atau alat pembenaran bagi kegagalan para dai dalam melaksanakan dakwah, misalnya dengan mengatakan bahwa kewajiban dai hanya menyampaikan sedang petunjuk masuk Islam datang dari Allah swt.anggap an semacam ini pada titik yang paling akhir memang benar. Namun, seorang muslim diperintahkan oleh Allah swt agar melakukan berbagai upaya, karena Allah tidak akan tidak akan mengubah keadaan (nasib) suatu kaum tanpa ada usaha yang sungguh-sunguh dari yang bersangkutan untuk mengubahnya. Untuk itu, prinsip ini justru harus dijadikan sebagai kata akhir ketika semua usaha dalam proses dakwah telah tertutup dan menemui jalan buntu, sehingga para dai terhindar dari sikap apatis dan putus asa.