Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembinaan Kancah Umat dalam Kehidupan

Pembinaan Kancah Umat dalam Kehidupan - caraku.id Orang yang hidup pasti selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Begitu pula dengan umat. Umat adalah kumpulan manusia dalam jumlah besar, yang juga mengalami perubahan. Perubahan itu tentu saja bisa ke arah lebih baik, atau ke arah lebih buruk. Sangat tergantung siapa pemimpin umat yang memberi pengarah dan pengaruh dominan. Disinilah peran dalam membina umat.

Jika pengarah dan pengaruh dari pembina tidak baik, maka kualitas umat tentu bisa lebih buruk, busuk dan tidak bermoral. Begitu pula sebaliknya, bila pengarah dan pengaruh dari pemimpinnya berkualitas, maka bisa ditebak akan lahirlah umat yang cerdas, intelektual, emosional, spiritualnya, berani dan punya daya kritis terhadap pemimpinnya. Maka antara pemimpin dan umat satu sama lain saling mempengaruhi.

Kewajiban untuk membina saudara-saudara kita yang lain selain sebagai rasa syukur kita kepada Allah, juga merupakan perintah dari agama Islam yang kita anut. Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya bahwa siapa yang tidak memperhatikan masalah orang-orang mukmin, maka dia tidak termasuk golonganku.  Sebenarnya orang yang paling baik bukanlah orang yang berpendidikan dan punya banyak ilmu pengetahuan atau orang kaya yang punya banyak harta, dan belum tentu orang yang paling baik adalah orang yang rajin beribadah, tapi orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama. Dalam makalah ini akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan pembinaan umat? bagaimana metodenya?

Pembinaan Kancah Umat dalam Kehidupan

Pembinaan Kancah Umat dalam Kehidupan

A. Pengertian dan Pembinaan Umat Rasulullah

Kata pembinaan berasal dari bahasa Arab “bina” artinya bangunan. Setelah dibakukan kedalam bahasa Indonesia, jika diberi awalan “pe-“ dan akhiran “an” menjadi pembinaan yang mempunyai arti pembaruan, penyempurnaan usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Menurut Muhammad Azmi, pembinaan adalah proses perbuatan, tindakan, penanaman nilai-nilai prilaku budi pekerti, perangai, tingkah laku baik terhadap Allah SWT, sesama manusia, diri sendiri dan alam sekitar, yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dan umat  yang dimaksudkan di sini adalah umat Islam, yaitu sekumpulan orang-orang Islam yang hidup dalam suatu jama’ah pada suatu daerah tertentu, mereka beribadah mengamalkan syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari seoptimal mungkin

Dengan demikian defenisi pembinaan umat yang dimaksudkan adalah membina dan mengarahkan umat (jama’ah) muslim dengan intensif dan berkesinambungan, agar mendapatkan pemahaman, pengetahuan dan pembelajaran tentang Islam secara benar berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah 

Rasul membawa risalah kedalam realita hidup, ketengah-tengah Kancah hidup manusia dengan 1001 macam persoalannya. Risalah dibawakan, justru untuk memecahkan persoalan-persoalan hidup yang real itu dalam berbagai aspeknya. Dalam rangka ini Rasulullah s.a.w  dikonfrontasikan langsung dengan persoalan yang nyata itu sendiri, persoalan hidup orang seseorang laki-laki dan wanita, persoalan hidup rumah tangga, persoalan hidup berjama’ah dan bermasyarakat, persoalan hidup bernegara, persoalan hidup di dunia yang luas terbentang ini, berisikan manusia-manusia yang menganut bermacam-macam pendirian dan kepercayaan, persoalan-persoalan dalam perang, dalam damai, dalam suka dan duka.

Dapatlah dikatakan, bahwa Semenjak beliau menerima wahyu ilahi yang pertama kali, sampai terakhir hayat beliau, seluruh hidupnya sebagai pembawa risalah merupakan satu drama; drama konfrontasi risalah dengan perikehidupan manusia, drama pelaksanaan dan penjelmaan risalah dalam ruang dan waktu.

Seluruh sunnah Rasul yang berupa perkataan atau berupa perbuatan tumbuh dari sehari kesehari dari saat ke saat, dalam konfrontasi dengan peristiwa demi peristiwa, besar ataupun kecil.

Dalam rangka ini pula pembawa risalah berjumpa dengan kawan dan berhadapan dengan lawan: kawan yang setia sehidup semati, dari awal sampai akhir; lawan yang secara terang-terangan memusuhinya dari awal sampai akhir; dan lawan yang bermain pura-pura menjadi kawan sambil menunggu saat untuk menikam dari belakang. berjumpa juga dengan kawan yang selalu melihat arah angin ingin berkawan dengan siapa yang lebih kuat sewaktu-waktu; dengan yang mana saja, asal badan selamat, selera lepas. berjumpa pula dengan golongan yang memang tidak sependirian, tetapi sudah mengadakan perjanjian untuk hidup berdampingan secara damai, tetapi tiba-tiba mengkhianati janji secara rendah dan penakut.

Dan berjumpa dengan corak manusia yang dapat dimasukkan ke dalam masing-masing golongan itu, dalam berbagai taraf dan derajatnya. Begitulah realita hidup.

Diperkenalkannya sifat dan kelikat masing-masing golongan itu kepada umatnya, secara langsung sepanjang perjalanan risalahnya. Ditunjukkannya dan dibimbingkannyannya bagaimana menghadapi dan melayani mereka itu semua (dalam alam realita), secara praktis dan Real pula, menurut, masing-masing peristiwa dan situasi; masing-masing dengan cara yang sewajarnya dengan sifat masing-masing. Maka tidak sedikit risalah meninggalkan jejaknya dalam hal ini semua. 

Dalam Kancah kehidupan yang bergolak, dibawanya umat itu melalui dan mengatasi segala macam rintangan dan halangan; dilatihnya bagaimana gigih bertahan; diajarnya berdoa dan bertaqarrub kepada Ilahi dalam penderitaan; dilatihnya berhati gembira menempuh ujian silih berganti.

Diajarkannya dan dicontohkannya, bagaimana menghadapi musuh dalam peperangan berulang kali; diajarkan dan dicontohkannya, bagaimana melihat soal hidup dan mati duniawi itu sebagai soal kecil, malah tidak soal sama sekali, bilamana keselamatan aqidah dan kalimat Allah yang menjadi taruhan.

Maka terpelihara mereka dari putus asa di waktu sempit, lantaran keyakinan dan kebenaran dari apa yang mereka perjuangkan, sedangkan dalam kalbu senantiasa hidup harapan akan pertolongan Ilahi, yang menjamin sekali-kali tidak akan mensia-sia kan mereka selama mereka melakukan tugas semata-mata karena hendak mencapai keridhaan-nya.

Diajarkan dan dibimbingkanya, bagaimana memulihkan perdamaian, menghentikan perang, bilamana lawan cenderung kepada perdamaian; dan bagaimana selanjutnya memenuhi tiap-tiap perjanjian satu kali perjanjian itu telah diperbuat walaupun bagaimana pahitnya dengan bertawakkal kepada Allah s.w.t.

Akhirnya pembawa risalah dapat juga mengantarkan umat itu sampai kepada Titik kemenangan, kemenangan tauhid atas syirik, kemenangan hak atas batil, kemanangan kalimatullah hilya-ulya. Telah diajarkannya pula, bagaimana cara menghadapi kemenangan. Terpelihara mereka dari lupa daratan di waktu menang:

Kemenangan adalah karunia dari ilahi.

إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا  

“Manakala sudah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berduyun duyun masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, serta memohon ampun kepada-Nya; sesungguhnya Dia amat menerima taubat". (An-Nashr 1-3).

Yang meliputi seluruh alam perasaan mereka adalah puji dan syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, Maha Adil dan Maha Rahman, serta harapan akan kemampuan-Nya atas kesalahan kesalahan dan kekeliruan yang mungkin ada dalam berjihad pada jalan-Nya. 

B. Konsep Pembinaan Umat

Konsep pembinaan umat dalam Islam adalah suatu kegiatan penting  yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing. Pembinaan umat adalah fardhu ‘ain yang dibebankan kepada setiap individu. Seorang muslim berusia 18 tahun yang sudah tahu bahwa shalat adalah wajib, kalau dia melihat kawannya tidak shalat, dia punya kewajiban untuk memberitahukan dan mengajak temannya tersebut untuk shalat. Kalau dia tidak melakukan kewajiban amar ma’rûf tersebut, dia mendapat dosa karena telah meninggalkan perbuatan wajib, meskipun  banyak orang belum menyadari kewajiban ini atau mungkin masih ada yang belum mengetahuinya. Kerugian atau resiko lain yang akan ditanggung oleh anak muda yang tidak memberitahukan dan mengajak temannya untuk shalat, temannya itu sangat rawan terjerumus kepada kemungkaran  dan berpotensi menjerumuskan dia dan orang-orang lain atau orang yang tidak didakwahkan untuk shalat akan terjerumus kepada kemungkaran yang merugikan dia dan orang-orang lain.

Sebaliknya kalau anak muda yang sudah tahu bahwa shalat adalah wajib dan ketika melihat temannya tidak shalat, dia melakukan amar ma’rûf  memberitahukan dan mengajak temannya untuk shalat, dia sudah memperoleh pahala dari Allah SWT. Kalau temannya itu mau melaksanakan shalat, anak muda tersebut akan memperoleh manfaat kedua yaitu dia dan orang-orang lain akan hidup tenang dan nyaman karena kawannya akan menjadi orang baik yang bisa memberikan manfaat kepada sesama.

Dengan demikian konsep pembinaan umat dalam Islam adalah perbuatan wajib yang harus dilakukan oleh semua orang. Melalui pembinaan umat, manfaat yang diperoleh besar sekali, baik bagi umat/kelompok yang dibina, bagi orang/anggota masyarakat yang lain, dan juga bagi orang yang melakukan kegiatan pembinaan itu sendiri. Pembinaan umat bukanlah berarti melakukan perbuatanperbuatan besar yang hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang kaya atau orang-orang yang berpengaruh dan punya pengetahuan yang tinggi.

Pembinaan umat adalah melakukan amar ma’rûf nahi mungkar, mengajak orang berbuat baik dan mencegah orang berbuat mungkar. Mengajak orang berbuat baik harus dilakukan dalam semua situasi dan di setiap tempat tidak peduli sekecil atau sebesar apapun kebaikan itu. Demikian juga  mencegah orang berbuat mungkar harus dilaksanakan kapan pun dan dimana pun baik terhadap kemungkaran kecil maupun terhadap kemungkaran besar. Yang diminta kepada setiap muslim adalah melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab semata-mata mengharapkan keridhaan Allah. 

C. Model Pembinaan Umat

Menurut kamus umum besar bahasa Indonesia yang dikutip oleh amirulloh syarbini model adalah contoh, pola, acuan, ragam dan sebagainya yang dibuat menurut aslinya. sedangkan menurut Muhaimin yang dikutip oleh amirulloh dalam bukunya, pengertian model merupakan kerangka konseptual yang dipergunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan. model juga merupakan seperangkat prosedur yang sistematis untuk mewujudkan suatu proses kegiatan

Dengan demikian dapat dipahami bahwa model merupakan contoh, acuan atau gambaran realita yang memusatkan perhatian pada beberapa sifat dari kehidupan sebenarnya. model dalam pembahasan ini ialah model normatif yaitu model yang menyediakan jawaban terbaik terhadap suatu persoalan. model ini memberikan rekomendasi tindakan-tindakan yang perlu diambil, khususnya dalam proses pembinaan umat.

1. Model mekanik

Model mekanik dalam model penciptaan suasana religius adalah penciptaan suasana religius yang didasari oleh pemahaman bahwa kehidupan terdiri atas berbagai aspek dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan. model mekanik tersebut berimplikasi terhadap pengembangan pendidikan agama nama yang lebih menonjolkan fungsi moral dan spiritual.

2. Model organik

Penciptaan suasana religius dengan model organik yaitu penciptaan suasana religius yang disemangati oleh adanya pandangan bahwa pendidikan agama adalah kesatuan atau sebagai sistem yang terdiri atas komponen-komponen yang rumit yang berusaha mengembangkan pandangan atau semangat hidup agamis. 

D. Metode Pembinaan Umat

1. Metode andragogi dalam proses pembinaan

Secara terminologis andragogi adalah seni dan ilmu membantu orang dewasa untuk belajar. metode andragogi merupakan metode pembelajaran khusus dilakukan kepada orang dewasa sehingga dalam penanganannya dilakukan secara bertahap dan cenderung membutuhkan proses yang lama.

2. Metode teladan

Secara psikologis ternyata manusia memang memerlukan tokoh teladan dalam hidupnya, ini adalah sifat pembawaan. taqlid (meniru) adalah salah satu sifat pembawaan manusia. dalam pembinaan umat keteladanan atau pemberian contoh ini sangat penting.

3. Motivasi

Motivasi berasal dari keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertindak melakukan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan. dalam psikologi motivasi diartikan sebagai suatu kekuatan yang terdapat dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya untuk melakukan kegiatan.

4. Menumbuhkan kesadaran

Seseorang yang telah mempelajari unit pelajaran tertentu beberapa waktu kemudian tidak dapat lagi mengingat seluruh apa yang pernah dipelajarinya. bagian yang masih teringat makin lama makin berkurang dan menurun dengan cepat dan yang tersisa masih dapat teringat dalam waktu yang agak lama. dalam hal ini perlu adanya proses menumbuhkan kesadaran yang bertahap dan berkesinambungan agar umat mampu menerapkan akhlak mulia dan ajaran-ajaran lainnya yang dilakukan oleh pembina. 

Simpulan

Dengan demikian defenisi pembinaan umat yang dimaksudkan adalah membina dan mengarahkan umat (jama’ah) muslim dengan intensif dan berkesinambungan, agar mendapatkan pemahaman, pengetahuan dan pembelajaran tentang Islam secara benar berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah

Konsep pembinaan umat dalam Islam adalah perbuatan wajib yang harus dilakukan oleh semua orang. Melalui pembinaan umat, manfaat yang diperoleh besar sekali, baik bagi umat/kelompok yang dibina, bagi orang/anggota masyarakat yang lain, dan juga bagi orang yang melakukan kegiatan pembinaan itu sendiri. Pembinaan umat bukanlah berarti melakukan perbuatanperbuatan besar yang hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang kaya atau orang-orang yang berpengaruh dan punya pengetahuan yang tinggi. Model yang menyediakan jawaban terbaik terhadap suatu persoalan. model ini memberikan rekomendasi tindakan-tindakan yang perlu diambil, khususnya dalam proses pembinaan umat