Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ulumul Qur’an Tentang Ilmu Makkiyah dan Madaniyah

Ulumul Qur’an Tentang Ilmu Makkiyah dan Madaniyah - caraku.id Dalam sejarah Islam, al-Qur’an disampaikan Rasulullah Saw. secara berangsur-angsur dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun dengan dua fase, fase Mekkah sekitar 13 tahun dan fase Madinah sekitar 10 tahun. Pemilahan historis ini sering dikaitkan dengan perbedaan sifat Nabi dan karakter umat Islam di kedua tempat itu dan bahkan mengandung prinsip vital untuk memahami kronologi pewahyuan (revelation) al-Qur’an.

Seiring dengan al-Qur’an, hadith pun secara otomatis mulai tersebar dalam dua fase tersebut. Sebab mustahil pengajaran al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah tidak melibatkan hadith-hadith sebagai tafsiran (interpretasi) terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Ulumul Qur’an Tentang Ilmu Makkiyah dan Madaniyah


Ulumul Qur’an Tentang Ilmu Makkiyah dan Madaniyah

A. Pengertian Makkiyah dan Madaniyah

Di kalangan para ulama terdapat beberapa pendapat tentang dasar untuk menentukan suatu surat atau ayat bahwa surat atau ayat itu Makkiyah dan Madaniyah. Banyak yang menyebutkan bahwa Makkiyah turun di kota Makah dan surat Madaniyah turun di kota Madinah, atau juga apabila awal surat Makkiyah dimulai dengan kata ya ayuha al-nas disebut surat Makkiyah, dan dimulai dengan ya ayyuha al-ladzina amanuu itu disebut surat Madaniyah.

Para ulama tersebut ada yang membedakan ayat-ayat dan surat-surat Makkiyah dan Madaniyah dalam al-Qur’an. Ada juga yang menjadikan khihtab (sasaran pembicaraan) yang ada di dalam ayat sebagai dasar untuk membedakan keduanya. Dan ada juga yang bersandar kepada hijrah rosul SAW.
Umumnya, para pakar ilmu alQur’an klasik seperti al-Suyuti, al-Zarkashi, yang kemudian diikuti ulama belakangan semisal al-Zarqani dan al-Qattan, mendefinisikan terminologi Makkiyah dan Madaniyah dalam tiga perspektif, yaitu masa turun (tartib zamani),  tempat turun (tahdid makani), dan obyek pembicaraan (ta’yin shakhshi).

Pertama, dari perspektif masa turun, Makkiyah  adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, sekalipun tidak turun di Mekkah, dan Madaniyah  adalah ayatayat yang diturunkan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, sekalipun tidak turun di Madinah, seperti surah al-Nisa’/4:58 termasuk kategori Madaniyah kendati turunnya di Mekkah, yaitu pada peristiwa Fath al-Makkah  yang terjadi setelah hijrah. Dari perspektif ini, dapat dinyatakan bahwa hadith-hadith yang muncul sebelum hijrah Rasulullah disebut Makkiyah dan yang muncul setelahnya disebut Madaniyah.

Kedua, dari perspektif tempat turun, Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah sekalipun itu terjadi setelah hijrah, kemudian Madaniyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Qubā, dan Sul’a. Definisi ini menurut para ulama seperti al-Zarqani memiliki kelemahan karena sebab terdapat ayat-ayat tertentu yang tidak diturunkan di Mekkah maupun di Madinah dan sekitarnya. Umpamanya surat al-Tawbah/9:42 diturunkan di Tabuk, surat alZukhruf/43:45 diturunkan di Bayt al-Muqaddas, dan surat al-Fath/48:48 diturunkan di tengah perjalanan antara Mekkah dan Madinah.

Ketiga, dari perspektif obyek pembicaraan, Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi penduduk Mekkah, kemudian Madaniyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi penduduk Madinah. Definisi ini menurut para ulama didasarkan atas asumsi bahwa kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an yang dimulai dengan ungkapan ya ayyuha al-nas menjadi kriteria Makkiyah mengingat orang-orang Mekkah banyak yang tidak beriman meskipun ada pula sebagian yang sudah beriman. Kemudian ayat-ayat yang dimulai dengan ungkapan ya ayyuha al-ladhiīna amanu menjadi kriteria Madaniyah mengingat orang-orang Madinah banyak yang beriman meskipun ada pula sebagiannya yang belum beriman. Namun definisi inipun tegas al-Zarqani juga tidak sepenuhnya tepat, sebab surat al-Baqarah yang termasuk kategori Madaniyah memiliki dua ayat (yaitu ayat 21 dan ayat 168) yang dimulai dengan ungkapan ya ayyuha al-nas . Selain itu, banyak pula ayat al-Qur’an yang tidak dimulai kedua ungkapan tersebut, seperti surat al-Ahzab yang dimulai dengan ya ayyuha al-nabi.  Terlepas dari kelemahan tersebut, dalam perspektif ini, dapat dinyatakan bahwa hadith-hadith yang menjadi khitab bagi orang-orang Mekkah disebut Makkiyah dan yang menjadi khitab bagi orang-orang Madinah disebut Madaniyah.

Namun pendapat itu mempunyai kelemahan-kelemahan,di antaranya:

a. Tidak selalu ayat atau surat dimulai dan ada dengan seruan ya ayyuha al-nas dan ya ayuha al-dziina amanu. Misalnya surat al Ahzhab ayat 1.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ٱتَّقِ ٱللَّهَ وَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَۚ  

“Hai Nabi, bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik.”

b. Tidak selalu ayat atau surat yang dimulai dengan seruan ya ayuha al-nas adalah Makkiyah, dan tidak pula selalu ayat atau surat yang dimulai dengan seruan ya ayuha al-adziina amanuu adalah surat Madaniyah. Misalnya surat an-Nisa’ adalah Madaniyah permulaannya adalah ya ayuha al-nas (perhatikan suratan-nisa’ayat 1):

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ 

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri.”

Dan suratal-Hijr adalah Makkiyah meskipun pada bagian akhir surat pada ayat 77 dengan seruan ya ayyuha al-adzina amanuu.

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ  

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

Kadang sebagian surat atau ayat termasuk Madaniyah, akan tetapi di dalamnya dijumpai ciri-ciri gaya pengungkapan Makkiyah. Misalya al-Baqarah. Suratnya Madaniyah namun ada ayat 21 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ  

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa.”

Dan suratal-Zumar adalah Makkiyah namun ada ayat yag ciricirinya dimiliki oleh Madaniyah, misalnya ayat 52:

أَوَ لَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ  

“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.”

Dan dari beberapa devinisi di atas devinisi ketiga yang popular atau dianggap benar di kalangan ulama’, karena mengandung pembagian Makkiyah dan Madaniyah secara tepat dan safe. Seperti surat Madaniyah ayat 4, disebut Madaniyah, meskipun diturunkan di arafah pada hari jum’at ketika Nabi melakukan haji wada’.

Para ulama’ yang mendefinisikan tentang Makkiyah dan Madaniyah yaitu surat Makkiyah ialah surat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunya di luar kota Makah, sedangkan surat Madaniyah ialah surat yang diturunkan sesudah rosulullah hijrah, meskipun turunya di Makah.
Jumlah surat Madaniyah di dalam Al-Qur’an menurut para ulama’ ada dua puluh surat, di antaranya: al-Baqarah, ali ‘Imron, an-Nisa’, al-Maidah, al-Anfal, at-Taubat, an-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Hadid, al-Mujadalah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Jumu’ah, al-Munafiqun, al-Talaq, at-Tahrim, an-Nasr.

Sedangkan yang masih diperselisihkan para ulama’ ada dua belas surat, yaitu: al-Fatihah, ar-Ra’d, ar-Rahman, as-Saff, atTagabun, al-Muthofifin, al-Qadar, al-Bayyinah, az-Zalzalah, alIkhlas, al-Falaq, an-Nas.

Selain yang disebutkan di atas adalah Makkiyah, yaitu delapan puluh dua surat. Seperti surat al-An’am, Ibrahim, Yusuf, Hud, bani Isroil, al-Furqon, dan lain sebagainya. Maka jumlah surat-surat semuanya seratus empat belas.

B. Ciri-Ciri dan Cara Mengetahui Surat Makkiyah dan Madaniyah

Studi Makkiyah adalah studi sejarah, studi sirah, dan studi tentang kejadian tertentu yang memerlukan penyaksian langsung. Oleh karena itu, tak ada jalan lain yang dapat membantu di dalam memahami ayat-ayat mana saja yang terbilang Makkiyah dan ayatayat mana saja yang termasuk Madinayyah, kecuali riwayat dari para sahabat Rosullullah SAW., karena mereka lah yang mengikuti perjalanan hidup Rosullullah SAW., baik Madaniyah sama saja dengan Sabab Nuzul, artinya Makkiyah maupun diturunkan secara estafet dari satu generasi ke generasi berikutnya sebelum kemudian dibukukan atau ditulis dalam suatu bentuk catatan. Sekalipun demikian, ada semacam “isyarat-isyarat” yang bisa ditangkap untuk membedakan ayat Makkiyah dengan ayat Madaniyah. Isyarat-isyarat yang bisa disebut dhawabith itu adalah sebagai berikut.

1. Ciri-Ciri Surat Makkiyah:

1. Terdapat kata kalla di sebagian besar atau seluruh ayatnya.
2. Terdapat sujud tilawah di sebagian atau seluruh ayat-ayatnya.
3. Diawali huruf tahajji  seperti   qaf), nun dan ha mim
4. Memuat kisah Adam dan iblis (kecuali surat al-Baqarah).
5. Memuat kisah para nabi dan umat-umat terdahulu.
6. Di dalamnya terdapat khithab (seruan) kepada semua manusia (wahai semua manusia).
7. Menyeru dengan kalimat “Anak Adam”.
8. Isinya memberi penekanan pada masalah akidah.
9. Ayatnya pendek-pendek.

Karakteristik yang terdapat pada umumnya Makkiyah menurut buku perspektif baru ilmu al-Qur’an, antara lain:

1. Seruan terhadap prinsip-prinsip akidah, seperti iman kepada Allah, hari Akhir, gambaran tentang hari 
pembalasan, penghuni surga dan neraka.
2. Seruan untuk berpegang pada aklak luhur dan berbuat baik.3. Secara umum surat dan ayat-ayatnya pendek-pendek.
4. Bantahan terhadap kaum musrikin, penegasan tentang batilnya akidah mereka.
5. Banyaknya menggunakan ya ayyuha al-nas dan jarang menggunakan ungkapan ya al ladzina amanuu.
6. Banyak kisah para nabi-nabi dan umat.
7. Setiap surat yang mengandung lafal kalla, di dalam al-Qur’an kurang lebih disebutkan sebanyak tiga puluh kali.
8. Setiap surat yang di buka dengan huruf-huruf singkatan seperti: alif lam mim, alif lam ra, hamim dan lain-lainnya.

2. Ciri-Ciri Surat Madaniyah:

1. Terdapat kalimat “orang-orang yang beriman” pada ayat-ayatnya.
2. Terdapat hukum-hukum faraidh, hudud, qishash dan jihad di dalamnya.
3. Menyebut “orang-orang munafik” (kecuali Al-Ankabut).
4. Membuat bantahan terhadap Ahlu Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani).
5. Memuat hukum syara’, seperti ibadah, mu’amalah dan al-ahwal dan al-syakhshiyah.
6. Ayatnya panjang-panjang.

Karakteristik yang terdapat pada umumnya Madaniyah menurutn buku perspektif baru ilmu Al-Qur’an, antara lain:

1. Banyak menjelaskan tentang hukum-hukum, seperti had, faraidh,
hak-hak, undang-undang politik, ekonomi, dam masalah kenegaraan
2. Surat-surat dan ayatnya panjang-panjang.
3. Berbicara mengenai orang-orang munafik, mengungkap kedudukan dan ancaman mereka.
4. Banyak menyebutkan tentang jihad, dan pemberian ijin berperang
dan hukum-hukumnya.
5. Penentangan terhadap ahli al-Kitab dan seruan terhadap mereka
untuk menghilangkan sikap berlebih-lebihan dalam agama mereka.
6. Banyaknya menggunakan ya al-ladzina amanuu dan jarang menggunakan ungkapan ya ayyuha al-nas.

Ada suatu hal yang perlu diingat, bahwa surat Makkiyah maupun surat Madaniyah tidak selalu bermuatan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Bisa jadi di dalam surat yang diklarifikasikan Makkiyah terdapat ayat-ayat Madaniyah. Demikian sebaliknya. Misalkan, surat al-Baqarah. Surat ini diklarifikasikan sebagai surat Madaniyah, tetapi pada surat tersebut terdapat kalimat yang menjadi dhawabith ayat-ayat Makkiyah. Demikian juga pada surat yang diklarifikasikan Makkiyah. Misalnya, surat al-Hajj. Di sana terdapat kalimat yang menjadi ciri surat Madaniyah.

Isyarat-isyarat atau ciri-ciri yang lazim disebut dhawabith, baik itu pada Madaniyah maupun Makkiyah, bukanlah sesuatu yang pasti. Ketetapan itu diambil berdasarkan taghlib, yakni kebanyakan atau kebiasaan. Dengan demikian, selanjutnya bisa disusun semacam pengelompokan surat-surat al-Qur’an sebagai berikut:

1. Surat Makkiyah yang keseluruhan ayat-ayatnya Makkiyah. Misalnya surat al Muddatstsir. Juga surat Madaniyah yang keseluruhan ayatnya Madaniyah pula. Misalnya surat Ali ‘Imron.

2. Surat Makkiyah yang sebagian besar ayat-ayatnya Makkiyah, kecuali beberapa ayat lainnya yang Madaniyah. Misalnya surat al-A’raf. Hampir keseluruhan ayat dalam surat ini adalah Makkiyah, kecuali ayat 163-171.

3. Surat Madaniyah yang hampir keseluruhan ayatnya Madaniyah, kecuali beberapa ayat. Misalnya, surat al-Hajj yang keseluruhan ayatnya Madaniyah, kecuali empat ayatnya yang Makkiyah, yaitu ayat 52-55.

3. Metode Identifikasi

Ada dua metode identifikasi ayat-ayat  Makkiyah  dan Madaniyah  yang digunakan para ulama; yaitu metode transmisi (al-manhaj al-sima‘i al-naqli )  dan metode analogi (al-manhaj al-qiyasi al-ijtihadi).

Pertama, metode transmisi (periwayatan), digunakan dengan merujuk kepada riwayatriwayat valid yang berasal dari para sahabat, yaitu orang-orang yang besar kemungkinannya menyaksikan turunnya wahyu, atau para generasi tabi‘in yang saling bertemu dan mendengar  langsung dari para sahabat tentang aspek-aspek yang berkenaan dengan proses pewahyuan al-Qur’an, termasuk informasi kronologis ayat-ayat al-Qur’an. Seperti yang dikutip al-Zarkashi, al-Zarqani, dan alQattan disebutkan bahwa informasi tentang Makkiyah dan Madaniyah hanya dapat dilacak pada otoritas sahabat dan tabi‘iīn saja, sebab Rasulullah sendiri tidak pernah menjelaskan hal itu, karena ilmunya memang bukan merupakan kewajiban umat.

Kedua, metode analogi (qiyas), dikembangkan oleh para ulama belakangan seperti alQattan dan al-Salih, dengan bertolak dari ciri-ciri khusus atau karakteristik ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Dalam hal ini, para ulama telah menentukan tema-tema sentral yang kemudian ditetapkan sebagai karakteristik dari dua klasifikasi ayat-ayat tersebut.

C. Macam-Macam Surat Makkiyah dan Madaniyah serta Dasarnya

1. Macam-macam Surat Makkiyah dan Madaniyah

Pada umumnya, para ulama membagi macam-macam surat alQur’an menjadi dua kelompok, yaitu surat-surat Makkiyah dan Madaniyah. Mereka berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah masing-masing kelompoknya. Sebagian ulama mengatakan, bahwa jumlah surat Makkiyah ada 94 surat, sedangkan Madaniyah ada 20 surat. Sebagian ulama lain mengatakan, bahwa jumlah surat Makkiyah ada 84 surat, sedangkan yang Madaniyah ada 20 surat. Sebagian ulama’ lain mengatakan, bahwa jumlah surat Makkiyah ada 84 surat, sedangkan yang Madaniyah ada 30.

Dr. Abdullah Syahhatah dalam bukunya al-Qur’an Wat Tafsir mengatakan, surat-surat al-Qur’an yang disepakati pada ulama sebagai surat Makkiyah ada 82, dan yang disepakati sebagai surat Madaniyah ada 20. Sedangkan yang 12 surat lagi masih di perselisihkan status Makkiyah atau Madaniyah.
Perbedaan-perbedaan pendapat para ulama itu dikarenakan adanya sebagian surat yang seluruh ayat-ayatnya Makkiyah atau Madaniyah, dan ada sebagian surat lain yang tergolong Makkiyah dan Madaniyah tetapi di dalamnya berisi sedikit ayat yang lain statusnya. Karena itu, dari segi Makkiyah dan Madaniyah ini, maka surat-surab al-Qur’an itu terbagi menjadi empat macam, sebagai berikut:

a. Surat-surat Makkiyah Murni

Yaitu surat-surat Makkiyah yang seluruh ayat-ayatnya juga berstatus Makkiyah semua, tidak ada satupun yang Madaniyah. Surat-surat yang berstatus Makkiyah murni ini seharusnya ada 58 surat, yang berisi 2.074 ayat. Contohnya seperti surat-surat alFatihah, Yunus, ar-Ra’du, al-Anbiya, al-Mu’minun, an-Naml, Shaad, Fatir dan surat-surat yang pendek-pendek ada juz 30 (kecuali surat An-Nashr).

b. Surat-surat Madaniyah Murni

Yaitu surat-surat Madaniyah yang seluruh ayat-ayatnya pun Madaniyah semua, tidak ada satu ayat pun yang Makkiyah. Suratsurat yang berstatus madaniyyah murni ini seluruhnya menurut penelitian penulis ada 18 surat, yang terdiri dari 737 ayat. Contohnya seperti surat-surat ali Imran, an-Nisa, an-Nur, al-Ahzab, al-Hujurat, al-Mumtahanah, al-Zalzalah, dan sebagainya.

c. Surat-surat Makkiyah yang Berisi Ayat Madaniyyah

Yaitu surat-suratnyang sebetulnya kebanyakan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, sehingga berstatus Makkiyah, tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Madaniyah. Surat-surat yang demikian ini dalam Al-Qur’an ada 32 surat, yang terdiri dari 2699 ayat. Contohnya: antara lain seperti surat-surat al-An’am,al-A’raf, Hud, Yusuf, Ibrahim, al-Furqan, az-Zumar, asy-Syura, al-Waqi’ah dan sebagainya.

d. Surat-surat Madaniyah yang Berisi Ayat Makkiyah

Yaitu surat-surat yang kebanyakan ayat-ayatnya berstatus Madaniyah. Surat-surat yang demikian ini dalam al-Qur’an hanya ada 6 (enam) surat, yang terdiri dari 726 ayat, yaitu surat-surat AlBaqarah, al-Maidah, al-Anfal, at-Taubah, al-Hajj, dan surat Muhammad atau surat al-Qital.

2. Dasar-Dasar Penetapan Makkiyah dan Madaniyah

Adapun dasar yang dapat menentukan suatu surat itu Makkiyah atau Madaniyah, yaitu:

a. Dasar aghalabiyah (mayoritas), yakni kalau sesuatu surat itu mayoritas atau kebanyakan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, maka disebut sebagai surat Makkiyah. Sebaliknya, jika yang terbanyak merupakan ayat-ayat dalam suatu surat itu adalah Madaniyah, atau di turunkan setelah Nabi Hijrah ke Madinah, maka surat tersebut disebut sebagai surat Madaniyah.

b. Dasar taba’iyah (kontinuitas), yakni kalau permulaan suatu surat itu didahului dengan ayat-ayat yang turun di Makah/turun sebelum hijrah, maka surat-surat Makkiyah. Begitu pula sebaliknya jika ayat-ayat pertama dari suatu surat itu di turunkan di Madinah atau yang berisi hukum-hukum syariat, maka surat tersebut dinamakan surat Madaniyah.

D. Faedah Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah

Dengan mengetahui ilmu Makki dan Madani ini akan banyak membawa hikmah dan faedah serta kegunaan yang bermacammacam, antara lain sebagai berikut:

a. Mudah diketahui mana ayat-ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab suci al-Qur’an.

b. Mudah diketahui mana ayat-ayat al-Qur’an yang hukum / bacaannya telah dinasakh (dihapus dan diganti, dan mana ayatayat yang menasakhkannya, khususnya bila ada dua ayat yang menerangkan hukum suatu masalah, tetapi ketetapannya bertentangan antara satu dengan yang lain.

c. Mengetahui dan mengerti sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam (Taarikhut Tasyri’) yang amat bijaksana dalam menetapkan peraturan-peraturan.

d. Mengetahui hikmah disyariatkanbnya suatu hukum (Hikmatul Tasyri’). Sebab, dengan ilmu makki dan madani dapat di ketahui tarikh tasyri’yang dalam mensyariatkan hukum-hukum Islam itu secara bertahap, sehingga dapat pula diketahui mengapa sesuatu hukum itu disyariatkan secara demikian.

e. Dengan mengetahui Ilmu makki dan madani yang dapat mengetahui hikmatul tasyri’ itu, akan bisa menambah kepercayaan orang terhadap kewahyuan al-Qur’an.

f. Meningkatkan keyakinan orang terhadap kesucian, kemurnian, dan keaslian al-Qur’an.

g. Mengetahui perbedaan dan tahap-tahap dakwah Islamiah.

h. Mengerti perbedaan ushlub-ushlub (bentuk bahasa) al-Qur’an, yang dalam surat-surat Makkiyah berbeda dengan yang dalam surat-surat Makkiyah.

i. Dengan mengetahui Ilmu makki dan madani situasi dan kondisi masyarakat kota Makah dan Madinah dapat diketahui, khususnya pada waktu turunya ayat-ayat al-Qur’an.

Simpulan

Para pakar ilmu alQur’an klasik mendefinisikan terminologi Makkiyah dan Madaniyah dalam tiga perspektif, yaitu masa turun (tartib zamani),  tempat turun (tahdid makani), dan obyek pembicaraan (ta’yin shakhshi).

Dan dari beberapa devinisi di atas devinisi ketiga yang popular atau dianggap benar di kalangan ulama’, karena mengandung pembagian Makkiyah dan Madaniyah secara tepat dan safe. Seperti surat Madaniyah ayat 4, disebut Madaniyah, meskipun diturunkan di arafah pada hari jum’at ketika Nabi melakukan haji wada’. Para ulama’ yang mendevinisikan tentang Makkiyah dan Madaniyah yaitu surat Makkiyah ialah surat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunya di luar kota Makah, sedangkan surat Madaniyah ialah surat yang diturunkan sesudah rosulullah hijrah, meskipun turunya di Makah.

Adapun dasar yang dapat menentukan suatu surat itu Makkiyah atau Madaniyah, yaitu: Dasar aghalabiyah (mayoritas) dan Dasar taba’iyah (kontinuitas), dan ada dua metode untuk mengidentifikasi ayat-ayat  Makkiyah  dan Madaniyah yaitu: metode transmisi (periwayatan) dan metode analogi (qiyas).