Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Membersihkan Diri Terhadap Harta Riba

Membersihkan Diri Terhadap Harta Riba - caraku.id Merupakan pendapatan yang di peroleh secara tidak adil. Riba telah berkembang sejak zaman jahiliyah hingga sekarang ini. Sejak itu banyaknya masalah-masalah ekonomi yang terjadi di masyarakat dan telah menjadi tradisi bangsa arab terhadap jual beli maupun pinjam-meminjam barang dan jasa. Sehingga sudah mendarah daging, bangsa arab memberikan pinjaman kepada seseorang dan memungut biaya jauh di atas dari pinjaman awal yang di berikan kepada peminjam akibatnya banyaknya orang lupa akan larangan riba.

Sejak datangnya Islam di masa Rasullullah saw. Islam telah melarang adanya riba. Karena sudah mendarah daging, Allah SWT melarang riba secara bertahap. Allah SWT melaknat hamba-hambanya bagi yang melakukan perbuatan riba. Perlu adanya pemahaman yang luas, agar tidak terjerumus dalam Riba. Karena  Riba menyebabkan tidak terwujudnya kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Oleh karena itu penulis menyusun makalah ini bertujuan untuk membahas dengan mendalam tentang apa itu Riba.

Membersihkan Diri Terhadap Harta Riba

Membersihkan Diri Terhadap Harta Riba

A. Konsep Riba dan  Macam-Macam Riba

1. Pengertian Riba

Riba adalah penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat mengembalikan berdasarkan presentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang yang dibebankan pada peminjam, riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar. Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil.  Ada beberapa pendapat tdalam menjelaskan tentang riba, tetapi secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengabilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun minjam-peminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip mamalat dalam islam. Secara etimologiriba berarti tumbuh, menyuburkan, berkemang dan menjadi lebih besar. Secara Terminologi riba adalah melebihi keuntungan sebuah harta sseorang dari salah satu pihak terhadap pihakk lain dalam akadjual beli atau barang yang ditukar sejenis tanpa memberi imbalan terhadap kelebihan tersebut.

2. Macam-macam Riba

a. Riba Fadli yaitu pertukaran antar barang sejenisdengan kadar an takaran yang berbeda, sedangkan barang yng dipertukarkan itu termasuk dalambarang yang ribawi.

b. Riba Qardh yaitu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap kreditur.

c. Riba Jhiliyyah yaitu utang dibayar dari pokoknya, karena kreditur tidak mampu membayar utangya pada waktu jauh tempo.

d. Riba Nasi’ah yaitu penangguha penyerahan atau peneriman jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan barang ribawi lainnya. Rib dalam nasi’ah muncul karena adany perbedaaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahan saat ini danyang diserahkan kemudian.

B. Landasan Hukum dan Pelanggaran Riba 

1. Landasan Hukum Riba

Beberapa dasar landasan hukum islam tentang larangan riba dalam al-quran antara lain:

1. Ar-Ruum ayat 39

وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن رِّبٗا لِّيَرۡبُوَاْ فِيٓ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ فَلَا يَرۡبُواْ عِندَ ٱللَّهِۖ وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن زَكَوٰةٖ تُرِيدُونَ وَجۡهَ ٱللَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُضۡعِفُونَ  

"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah padaharta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai ke-ridhoan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-rang yang melipat gandakan (pahalanya)" 

Kanndungan ayat ini yaitu : riba menghilangkan pahala disisi Allah,sedangkan zakat menambah pahala disisi Allah atau berlipat ganda.

2. Al-Baqarah ayat 276

يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ  

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekhafiran, dan selalu berbuat dosa"

Kandungan ayat ini: riba menghilangkan kebaikan, sedangkan sodakoh menyuburkan pahala kebaikan.

3. Al-Baqarah ayat 275

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ 

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapatberdiri melaikan seperti berdirinya orang yang masukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesumgguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba"

4. Al-Baqarah ayat 278-279

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ 

"Hai, orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rosul-Nya akan memerangimu"

5. Al-Imron ayat 130

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ  

"Hai, orang-orang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berlit ganda dan bertaqwalah kamu kepada allah supaya kamu mendapat keberuntungan"

6. An-Nisa’ ayat 161

وَأَخۡذِهِمُ ٱلرِّبَوٰاْ وَقَدۡ نُهُواْ عَنۡهُ وَأَكۡلِهِمۡ أَمۡوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَٰطِلِۚ 

"Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan krena merka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil"

2. Pelanggaran Riba    

1. Tahap pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba pada zahirnya menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT.

2. Tahap kedua, riba di gambarkan sebagai suatu yang buruk dan ballasan yang keras kepada orang yahudi yang memkan riba.

3. Tahap ketiga, riba itu diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda.

4. Tahap akhir sekali, ayat riba di turunkan oleh Allah SWT. Yang dengan jelas sekali mengharamkan sebarang jenis tambahan yang diambil daripada jaminan.

C. Perbedaan Sistem Bunga Bank Konvensional dan Sistem bagi Hasil Bank Syariah

Bungan merupakan batas jasa yang diberikan oleh pihak bank (konvensional) untuk nasabah yang memiliki simpanan dan yang harus dibayarkan nsabah kepada pihak bank jika nasabah memiliki pinjaman kepada bank. Sistem bunga yang digunakan pada bank konvensional termasuk kedalam riba.  Hal ini di karenakan adanya peningkatan yang berlipat. Sistem bunga konvensional diantaranya:

1. Bunga flat, bunga jenis ini  system pembayaran untung pokok dan bunga dan bunga kredit besarnya akan sama setiap bulannya. Nilai bunga akan sama setiap bulannya karena system ini menghitung dari awal.

2. Bunga efektif, dimana besar bunga dihitung berdasarkan bunga pokok yang belum di bayar dan dilakukan di setiap akhir periode. Nilai bunga yang dibayar akan semakin mengecil sehingga angsuran perbulan juga akan semakin menurun dari waktu ke waktu.

3. Bunga anuitas, pada bunga ini porsi atau komposisi bunga dan pokok akan berubah setiap periodenya akan tetapi besar angsuran akan sama setiap periodenya .

Bagi hasil merupakan suatu alternative dalam pembiayaan dimana system ini berdasarkan dari penetapan awal atau sesuai akad yang di sepakati, dan akan meningkat seiring dengan keuntungan dari perusahaan. Beberapa bentuk skema  dari bagi hasil, diantaranya:

1. Provit sharing, dimana system system ini dilakukan dengan membagikan keuntungng yang di dapat dari suatu usaha. Keuntungan yang didapat berasal dari selisih antara pendapatan dari usaha yang telah dikurangi dengan biaya lainnya, jadi bisa dibilang laba bersih.

2. Gross profit sharing, system ini dilakukan dengan membagikan keuntungan uang  didapat darilaba kotor (pendapatan usaha yang dikurangi biaya produksi)

3. Revenue sharing, system ini mengunakan pendapatan usaha saja yang dijadikan dasar perhitungan pembagian.

Perbedaan bunga konvensional dan bagi hasil yakni:

a. Bunga konvensional

1. Penetapan bunga dibuat di awal pembukaan rekening dan harus selalu untung.

2. Perhitungannya didasarkan pada jumlah pokok dana yang disimpan nasabah dibank tersebut.

3. Jumlah pembayaran Bungan untuk tabungannya selalu tetap sekalipun pihak bank sedang mendapatkan untung besar.

b. Bagi hasil bank syariah.

1. Besar rasio yang disepakati pada awal akad dibuat yang berpedoman kemungkinan untung dan rugi.

2. Besar ratio didasarkan pada jumlah keuntungan yang di peroleh

3. Besar laba yang diperoleh bergantung pada keuntungan yang didapat pihak bank dan akan semakin meningkat ketika keuntungan bank juga meningkat.