Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian - caraku.id Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Disamping itu kepribadian sering diartikan sebagai ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”.

Berdasarkan psikologi, Gordon Allport menyatakan bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.

Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Secara garis besar ada dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, yaitu faktor hereditas (genetika)dan faktor lingkungan (environment).

1. Faktor Genetika (Pembawaan)

Pada masa konsepsi, seluruh bawaan hereditas individu dibentuk dari 23 kromosom dari ibu, dan 23 kromosom dari ayah. Dalam 46 kromosom tersebut terdapat beribu-ribu gen yang mengandung sifat sifat fisik dan psikis/mental individu atau yang menentukan potensi-potensi hereditasnya. Dalam hal ini, tidak ada seorang pun yang mampu menambah atau mengurangi potensi hereditas tersebut.

Masa dalam kandungan dipandang sebagai saat (periode) yang kritis dalam perkembangan kepribadian, sebab tidak hanya sebagai saat pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai sebagai masa pembentukan kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran.

Pengaruh gen terhadap kepribadian, sebenarnya tidak secara langsung, karena yang dipengaruhi gen secara langsung adalah (1) kualitas sistem syaraf, (2) keseimbangan biokimia, dan (3) struktur tubuh

Lebih lanjut dapat dikemukaan, bahwa fungsi hereditas dalam kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah (1) sebagai sumber bahan mentah (raw material) kepribadian seperti fisik, inteligensi, dan temperamen (2) membatasi perkembangan kepribadian  (meskipun kondisi lingkunganna sangat baik/kondusif, perkembangan kepribadian itu tidak bisa melebihi kapasitas atau potensi hereditasnya), dan mempengaruhi keunikan kepribadian.

2. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang mempengaruhi kepribadian diantaranya, keluarga, kebudayaan, dan sekolah

a. Keluarga

Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian anak. Alasannya adalah (1) keluarga merupakan kelompok sosial utama yang menjadi pusat identifikasi anak, (2) anak banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, dan (3) para anggota keluarga merupakan “significant people” bagi pembentuk kepribadian anak

Keluarga juga dipandang sebagai lembaga yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Melalui perlakuan dan perawatan  yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik-biologis, maupun kebutuhan sosio-psikologisnya. Apabila anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, maka dia cenderung berkembang menjadi seorang pribadi yang sehat.

Perlakuan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan nilai-nilai kehidupan, baik nilai agama maupun nilai sosial agama yang diberikan kepada anak merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan warga masyarakat yang sehat dan produktif.

Suasana keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis, yaitu suasana yang memberikan curahan kasih sayang, perhatian, dan bimbingan dalam bidang agama, maka perkembangan kepribadian anak tersebut cenderung positif, sehat. sedangkan anak yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang broken home, kurang harmonis, orangtua bersikap keras kepada anak, atau tidak memperhatikan nilai-nilai agama, maka perkembangan kepribadiannya cenderung mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam penyesuaian dirinya.

b. Faktor Kebudayaan

Kluckhohn berpendapat bahwa kebudayaan meregulasi (mengatur) kehidupan kita mulai dari lahir sampai mati, baik disadari maupun tidak disadari. Kebudayaan mempengaruhi kita untuk mengikuti pola-pola perilaku tertentu yang telah dibuat orang lain untuk kita.

Pola tingkah laku yang sudah terlembagakan dalam masyarakat (bangsa) tertentu (seperti dalam bentuk adat istiadat) sangat memungkinkan mereka untuk memiliki karakteristik kepribadian yang sama. kaaesamaan karakteristik ini mendorong berkembangnya konsep-konsep tipe kepribadian dasar (basic personality type, dari Kardiner, 1945), dan karakter nasional atau bangsa (national Character, dari Gorer, 1950).

Setiap suku dan bangsa di dunia ini masing-masing memiliki tipe kepribadian dasar yang relatif berbeda (meskipun dalam banyak hal, dengan pengaruh globalisasi perbedaan karakteristik kepribadian itu cenderung berkurang). Contoh: bangsa indonesia memiliki karakteristik kepribadian dasar: religius, ramah, namun kurang disiplin; bangsa jepang: ulet, kreati, dan berdisiplin; dan bangsa Amerika: optimis, perfeksi, berdisiplin, ulet dalam menyelesaikan sesuatu, namun individualistik.

Linton (1945) mengemukakan tiga prinsip bagaimana karakteristik kepribadian  itu berkembang, yaitu: (1) Pengalaman awal kehidupan dalam keluarga, (2) pola asuh orang tua terhadap anak,dan (3) Pengalaman awal kehidupan anak dalam bermasyarakat. Apabila anak-anak memiliki pengalaman awal kehidupan yang sama dalam satu masyarakata, maka mereka cenderung akan memiliki karakteristik kepribadian yang sama

c. Sekolah

Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kepribadian anak. Faktor-faktor yang dipandang berpengaruh itu diantaranya sebagai berikut:

1. Iklim emosional kelas

Kelas yang iklim emosinya sehat (guru bersikap ramah, dan respek terhadap siswa dan begitu juga berlaku diantara sesama siswa) memberikan dampak yang positif bagi perkembangan psikis anak, seperti merasa nyaman, bahagia, mau bekerja sama, termotivasi untuk belajar, dan mau menaati peraturan..

Sedangkan kelas yang iklim emosinya tidak sehat (guru bersikap otoriter, dan tidak menghargai siswa) berdampak kurang baik bagi anak, seperti merasa tegang, nerveus, sangat kritis, mudar marah, malas untuk belajar, dan berprilaku yang mengganggu ketertiban.

2. Sikap dan perilaku guru

Sikap dan perilaku guru ini tercermin dalam hubungannya dengan siswa. Hubungan guru dengan siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor: (1) stereotype budaya terhadap guru (pribadi dan profesi), (2) sikap guru terhadap siswa, (3) metode mengajar, (4) penegakkan disiplin dalam kelas, dan (5) penyesuaian pribadi guru

3. Disiplin (tata tertib)

Tata tertib ini ditujukan untuk membentuksikap dan tingkah laku siswa. Disiplin yang otoriter cenderung mengembangkan sikap-sikap  pribadi siswa yang tegang, cemas, dan antagonistik. Disiplin yang permisif, cenderung membentuk sifat siswa yang kurang bertanggung jawab, kurang menghargai otoritas, dan egosentris. sementara disiplin yang demokratis, cenderung mengembangkan perasaan berharga, merasa bahagia, perasaan tenang, dan sikap bekerja sama

4. Prestasi belajar

Perolehan prestasi belajar, atau peringkat kelas dapat mempengaruhi peningkatan harga diri, dan sikap percaya diri siswa.

5. Teman Sebaya

Siswa yang diterima oleh teman-temannya, dia akan mengembangkan sikap positif terhadap dirinya, dan juga orang lain. dia merasa menjadi orang yang berharga.

3. Teori Kepribadian

Teori Psikoanalitik (Psikoninamika) Freud menekankan pentingnya ketidak sadaran (unconscious). Freud menggambarkan struktur kepribadian kepada tiga komponen (id, ego, dan super ego), yang satu sama lainnya sering terlibat dalam konflik internal, sehingga melahirkan kecemasan. untuk menghindari atau melindungi diri dari kecemasan atau perasaan tidak senang, individu sering melakukan mekanisme pertahanan (defence mechanism). Freud meyakini bahwa pengalaman hidup masa kecil, usia lima tahun pertama merupakan faktor utama penentu pembentukan kepribadian.

Teori Behavioristik memandang kepribadian. sebagai koleksi kecenderungan-kecenderungan respon yang terbentuk melalui belajar. Clasical conditioning dari pavlov menjelaskan tentang bagaimana individu memperoleh respon-respon emosional. sementara model operant conditioning menunjukkan tentang bagaimana dampak reinforcement terhadap pembentukan kebiasaan.

Teori humanistik memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, dan kemampuan rasional dalam merancang tingkah lakunya. manusia memiliki dorongan internal untuk berkembang ke arah kematangan, atau dorongan untuk mengaktualisasikan dirinya. menurut Maslow, kesihatan mental (psikologis) seseorang amat tergantung kepada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tersebut. sementara rojers berpendapat bahwa konsep diri (self consept) merupakan aspek utama dalam kepribadian. Apabila terdapat kongruensi antara konsep diri (ideal) dengan kenyataan, maka akan lahir kecemasan pada diri individu, yang cenderung menimbulkan perilaku yang defensif

Teori Kognitif Kelly mengemukakan bahwa kepribadian itu terkait dengan cara-cara individu untuk mempersepsi rangsangan, menginterpretasi dan mentransformasi ransangan, dan berprilaku sesuai dengan hasil persepsi, tafsiran, dan transformasi rangsangan tersebut. pada dasarnya teori ini, teori ini merupakan upaya manusia untuk mengkonsepsi atau mengkonstruk lingkungannya.