Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perdebatan Faham Jabariyah, Qodariyah Serta Asy’ ariyah

Perdebatan Faham Jabariyah, Qodariyah Serta Asy’ ariyah - caraku.id Tulisan ini hendak menyajikan pengalaman penulis dalam membelajarkan salah satu modul ajar dalam mata kuliah Ilmu Kalam dengan tata cara Debat Aktif. Modul tersebut merupakan modul pendidikan yang bagi penulis menuai sepakat ataupun tidak sepakat serta terdapat yang bertabiat tengah- tengah. Perhatikan misalnya permasalahan perbuatan serta nasib manusia, siapa yang memastikan, manusia sendiri ataupun didetetapkan seluruhnya oleh Allah? Kala terdapat statment yang berkata kalau nasib manusia seluruhnya didetetapkan manusia, dia ingin senang ataupun ingin sengsara, ingin miskin ataupun ingin kaya, ingin ke syurga ataupun ke neraka, tentu menuaikan polemik. Terdapat yang sepakat serta terdapat yang tidak sepakat. Tiap kubu tentu mempunyai dalil serta alasan buat menunjang pendapatnya serta terdapat kubu yang menengahi perdebatan tersebut. Buat memaksimalkan uraian terhadap modul semacam itu dibutuhkan tata cara pendidikan yang berkesan.

Modul semacam di atas bisa ditemui antara lain dalam mata kuliah Ilmu Kalam pokok bahasan Jabariyah, Qadariyah serta Asy’ ariyah. Apabila kuliah di informasikan cuma dengan ceramah serta tanya jawab hasil perkuliahan yang didapat tidak optimal. Masih banyak yang masih sulit membedakan antara komentar dari Faham Qadariyah, Faham Jabariyah serta Asy’ ariyah. Salah satu aspek yang memastikan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan merupakan perilaku mahasiswa yang baik terhadap proses perkuliahan. Membetulkan perilaku bisa dicoba dengan bermacam metode antara lain memperjelas khasiat dari modul yang hendak dibelajarkan ataupun pelaksanaan tata cara pendidikan yang berkesan

Perdebatan Faham Jabariyah, Qodariyah Serta Asy’ ariyah

Perdebatan Faham Jabariyah, Qodariyah Serta Asy’ ariyah

Pada bagian ini penulis hendak menyajikan informasi tentang model perkuliahan modul Faham Jabariyah, Faham Qadariyah serta Faham Asy’ ariyah dengan model Debat Aktif dalam matakuliah Ilmu Kalam. Pemaparannya meliputi tentang cerminan penerapan perkuliahan buat Pokok Bahasan Faham Jabariyah, Faham Qadariyah serta Faham Asy’ ariyah dengan model Debat Aktif, cerminan kondisi serta perilaku mahasiswa dikala perkuliahan berlangsung dengan pelaksanaan model debat aktif tersebut serta cerminan tentang hasil belajar tentang uraian mahasiswa dalam modul faham qadariyah, Faham Jabariyah serta Faham Asy’ ariyah sehabis pelaksanaan model pendidikan debat aktif.

Ada pula modul yang dibelajarkan dalam 2 pertemuan tersebut merupakan faham Jabariyah, Faham Qadariyah serta Faham Asy’ ariyah. Isue yang diperdebatkan merupakan kalau manusia dalam hidupnya mempunyai kebebasan buat memastikan nasibnya sendiri, ingin senang ataupun ingin sengsara, ingin miskin ataupun ingin kaya. Buat regu yang pro berarti wajib memakai dalil- dali yang dipakai aliran Qadariyah dalam menunjang komentar mereka, sebaliknya regu yang kontra otomatis memakai dalil serta alasan faham Jabariyah serta yang menengahi permasalahan ini merupakan dalil yang digunakan oleh Faham Asy’ ariyah. Keadaan semacam ini membawakan mahasiswa buat menguasai faham ke 3 aliran tersebut. Gimana sesungguhnya faham dari ke 3 aliran tersebut.

Mula- mula dosen membagikan statment,“ menusia mempunyai kebebasan namun gimana dengan Allah bertabiat Maha Kuasa serta memiliki kehendak serta bertabiat absolut” Di mari timbullah persoalan hingga dimanakah manusia selaku ciptaan Allah, tergantung pada kehendak serta kekuasaan absolut Allah dalam memastikan ekspedisi hidupnya? Diberi Allah kah manusia kemerdekaan dalam mengendalikan hidupnya? Ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak serta kekuasaan absolut Allah? Dalam menjawab pertanyaan- pertanyaan semacam ini, kelompok Qadariah berkomentar kalau manusia memiliki kemerdekaan serta kebebasan dalam memastikan ekspedisi hidupnya. Bagi mengerti ini manusia memiliki kebebasan serta kekuatan sendiri buat mewujudkan perbuatan- perbuatannya. Dengan demikian nama Qadariah berasal dari penafsiran kalau manusia memiliki qudrah ataupun kekuatan buat melakukan kehendaknya. kelompok Jabariah berkomentar kebalikannya. Manusia tidak memiliki kemerdekaan dalam memastikan kehendak serta perbuatannya. Manusia dalam mengerti ini terikat pada kehendak absolut Allah. Jadi nama Jabariah berasal dari kata jabara yang memiliki makna memforsir. Memanglah dalam aliran ini ada mengerti kalau manusia mengerjakan perbuatannya dalam kondisi terpaksa. Kemudian kelompok Asy’ ariyah berkomentar Kalau nasib manusia juga sudah didetetapkan Tuhan tadinya di dalam qodo’ serta qodar- Nya. Hingga aksi manusia sudah didetetapkan terlebih dulu dengan perintahNya, biar orang melaksanakan aksi itu di mana manusia cuma memiliki keahlian buat memperolehnya dengan perlengkapan energi yang sudah diberikan Tuhan kepadanya.

Faham Qodariyah

Faham Qadariah kelihatannya ditimbulkan oleh awal kali ialah seseorang yang bernama Ma‟bad al- Juhani. Bagi Ibnu Nabatah, Ma‟bad al- Juhani serta temannya Ghaylan al- Dimasyqi mengambil mengerti ini dari seseorang Kristen yang masuk Islam di Irak. Serta bagi al- Zahabi, Ma‟bad merupakan seseorang tabi‟in yang baik. Namun dia merambah lapangan politik serta memihak kepada Abdu ar- Rahman Ibnu al- Asy‟as, Gubernur Sajistan dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah dalam pertempuran dengan al- Hajjaj. Ma‟bad mati terbunuh pada tahun 80- an H. Senmentara teman- temannya Ghaylan terus menyiarkan faham Qadariahnya di Damaskus, meski menemukan tantangan dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Sehabis Umar meninggal, Ghaylan meneruskan aktivitas lamanya, sehingga kesimpulannya dia mati dihukum oleh Hisyam bin Abdul Malik( 724- 743 Meter). Saat sebelum dijatuhkan hukuman mati diadakan perdebatan antara Ghaylan serta al- Audha‟i yang dihadiri oleh Hisyam sendiri.

Bagi Ghailan, manusia berkuasa atas perbuatan- perbuatannya. Manusia sendirilah yang melaksanakan perbuatan- perbuatan baik atas kehendak serta kekuasaannya sendiri. Serta manusia sendiri pula mengerjakan ataupun menghindari perbuatan- perbuatan jahat atas keinginan serta dayanya sendiri. Dalam faham ini manusia merdeka dalam tingkah lakunya. Dia berbuat baik merupakan atas keinginan serta kehendaknya sendiri, demikian pula dia berbuat jahat atas keinginan serta kehendaknya sendiri. Di mari tidak ada faham yang berkata kalau nasib manusia sudah didetetapkan terlebih dulu, serta kalau manusia dalam perbuatan- perbuatannya cuma berperan bagi nasibnya yang sudah didetetapkan sejak azali.

Sebagian dalil yang digunakan ialah, Dalam QS ar- Ra‟d: 11 disebutkan yang maksudnya:„Tuhan tidak merubah apa yang terdapat pada suatu bangsa, sehingga mereka merubah apa yang terdapat pada diri mereka‟. Dalam QS al- Kahfi disebutkan yang maksudnya:“ Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sebetulnya dia memandang apa yang kalian perbuat”. Amati pula QS ali Imran: 164 yang maksudnya:“ Gimana? Apabila musibah mengenai diri kalian lagi kalian sudah menimpakan musibah yang berlipat ganda( pada kalangan musyrik di Badar) kalian bertanya:“ Dari mana datangnya ini?” jawablah:“ Dari kalian sendiri”

Faham Jabariyah

Aliran yang kebalikannya ialah faham Jabariah, kelihatannya ditonjolkan awal kali dalam sejarah teologi Islam oleh al- Ja’ d ibnu Dirham. Namun yang menyiarkannya merupakan Jaham ibnu Safwan dari Khurasan. Sebagaisekretaris dari Suraihah ibnu al- Harits, dia ikut dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan itu Jaham sendiri bisa ditangkap serta setelah itu dihukum mati pada tahun 131 H. 8 Faham yang dibawa Jaham merupakan lawan ekstrim dari faham yang disarankan Ma‟bad serta Ghaylan. Manusia, bagi Jaham tidak memiliki kekuasaan buat berbuat apa- apa; manusia tidak memiliki energi, tidak memiliki kehendak sendiri serta tidak memiliki opsi, manusia buat melaksanakan perbuatannya merupakan dituntut dengan tidak terdapat kekuasaan, keinginan serta opsi menurutnya( huwa majburun fi af‟alihi la qudrata lahu wala iradata wala ikhtiyar). Perbuatan- perbuatan diciptakan Allah di dalam diri manusia tidak ubahnya dengan gerak yang diciptakan Allah dalam benda- benda mati.

Oleh sebab itu, manusia dikatakan berbuat bukan dalam makna sesungguhnya. Namun dalam makna majazi ataupun kiasan; tidak ubahnya sebagaimana diucap air mengalir, matahari terbit serta sebagainya. Segalaperbuatan manusia ialah perbuatan yang dipaksakan atas dirinya tercantum dalam perbuatan- perbuatan semacam mengerjakan kewajiban, menerima pahala serta menerima siksaan. Bagi faham ekstrim ini, seluruh perbuatan manusia tidak ialah perbuatannya sendiri yang mencuat dari kemauannya sendiri, tetapiperbuatan yang dipaksakan atas dirinya. Jika seorang mencuri semisal, hingga perbuatan mencuri itu bukan terjalin atas kehendaknya sendiri, namun mencuat sebab qadha serta qadar Tuhan yang menghendaki demikian. Dengan kata kasarnya dia mencuri tidaklah atas kehendaknya, namun tuhanlah yang memaksanya mencuri. Manusia dalam faham ini, cuma ialah wayang yang digerakkan dalang. Sebagaimana wayang bergerak cuma digerakkan dalang. Demikian pula manusia bergerak serta berbuat sebab digerakkan tuhan. Tanpa gerak dari tuhan manusia tidak dapat berbuat apa- apa.

Sebagian dalil yang digunakan ialah, dalam QS al- Shaffat ayat 96 yang maksudnya: Allah menghasilkan kalian serta apa yang kalian perbuat. QS. Al- Hadid ayat 22 disebutkan yang maksudnya: Tidak terdapat musibah yang mengenai bumi serta diri kalian, kecuali sudah didetetapkan di dalam novel saat sebelum kami wujudkan. Demikian pula Qs al- Anfal ayat 17 disebutkan yang maksudnya:” Tidaklah engkau yang melontar kala engkau melontar musuh, namun Allah lah yang melontar mereka. QS an- Nisa‟ ayat 30 disebutkan: Tidak kalian menghendaki kecuali Allah yang menghendaki.

Faham Asy’ ariyah

AlAsy’ ari merupakan nama suatu kabilah Arab terkemuka di Bashrah, Irak. Dari kabilah ini timbul sebagian orang tokoh terkemuka yang ikut pengaruhi serta memberi warna sejarah peradaban umat Islam. Nama Al- Asy’ ariyah diambil dari nama Abu Al- Hasan Ali bin IsmailAl- Asy’ ari yang dilahirkan dikota Bashrah( Irak) pada tahun 206 H/ 873 Meter. 2Pada awal mulanya Al- Asy’ ari ini berguru kepada tokoh Mu’ tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al- Jubai. Dalam sebagian waktu lamanya dia merenungkan serta mempertimbangkanantara ajaran- ajaran Mu’ tazillah dengan mengerti ahli- ahli fiqih serta hadist. Kala berusia 40 tahun, ia bersembunyi dirumahnya sepanjang 15 hari buat memikirkan perihal tersebut. Pada hari Jum’ at ia naik mimbar di masjid Bashrah secara formal serta melaporkan pendiriannya keluar dari Mu’ tazilah.

Dalam faham Asyari manusia di tempatkan pada posisi yang lemah. Dia di ibaratkan anak kecil yang tidak mempunyai opsi dalam hidupnya. Oleh karana itu, aliran ini lebih dekat dengan mengerti jabariah dari pada dengan faham Mutazilah. pendiri aliran asyariyah, mengenakan teori al- kasb( acquisition, perolehan). Teori Al- Kasb Asyari bisa di jelaskan selaku berikut. Seluruh suatu terjalin dengan perantaraan energi yang di mengadakan, sehingga jadi perolehan untuk muktasib yang memproleh kasab buat melaksanakan perbuatan. Selaku konsekoensi dari teori kasb ini, manusia kehabisan keaktifan, sehingga manusia bertabiat pasif dalm perbuatan- perbuatannya.

Dalil yang digunakan keyakinannya merupakan firman Allah:" Tuhan menghasilkan kalian apa yang kalian perbuaat".( Q. S. Ash- Shaffat[37]: 96) Wama tamalun pada ayat diatas di artikan al- asyari dengan apa yang kalian perbuat serta bukan apa yang kalian perbuat. denga demikian, ayat ini memiliki makna Allah menghasilkan kalian serta perbuatan- perbuatanmu. dengan kata lain, dalam faham asyari, yang mewujudkan kasb ataupun perbuatann manusia sesungguhnya merupakan Tuhan sendiri.

Pada prinsipnya aliran asyariyah berkomentar kalau perbuatan manusia diciptakan Allah, sebaliknya energi manusia tidak memiliki dampak buat mewujudkannya. Allah menghasilkan perbuatan buat manusia serta menghasilkan pula pada diri manusia, energi buat melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan di mari merupakan ciptaan Allah serta ialah kasb( perolehan) untuk manusia. Dengan demikian kasb memiliki penafsiran penyertaan perbuatan dengan energi manusia yang baru. Ini berimplikasi kalau perbuatan manusia di barengi oleh energi kehendaknya, serta bukan atas energi kehendaknya.