Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Agama dan Ekonomi

Agama dan Ekonomi - caraku.id Sejak berabad-abad lalu, ketika manusia mengenal peradaban mereka juga mengenal keyakinan dan agama. Seiring perkembangan zaman, manusia menempatkan agama (dan keyakinan) dalam posisi yang penting dalam kehidupan mereka.

Bahkan, kemudian hak kebebasan untuk memeluk agama menjadi bagian dari hak asasi yang dilindungi oleh peraturan perundangan di beberapa negara. Namun, manusia bukan hanya hidup dengan Tuhan atau dewa atau sesuatu lain yang ia sembah. Ia juga merupakan mahluk sosial atau homo socius yang hidup bersama manusia lain dalam masyarakat. Lalu bagaimana hubungan dengan ekonomi, suatu aktifitas kehidupan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara lebih spesifik ekonomi merupakan studi tentang prilaku orang dan masyarakat dalam memilih cara menggunakan sumber daya.

Agama dan Ekonomi

Agama dan Ekonomi

A. Thesis Weber

Max Weber seorang sosiolog modern kelahiran Efrut, Jerman, 21 April 1864. Nama lengkapnya Maxilian Weber. Berasal dari keluarga menengah ke atas. Kedua orang tuanya me miliki latar belakang dan kecen derungan berbeda, dan itu mem bentuk karakter pemikiran Weber. Ayahnya politikus kaya, ibunya calvinis saleh. Saat usia 16 tahun, Weber belajar di universitas Heilderberg. Saat perang dunia I, Weber ikut dinas militer. Tahun 1884 kembali kuliah di universitas Berlin. Setelah 8 tahun, lulus, menjadi pengacara dan pengajar di universitas.

Minat Weber berubah ke sosiologi dan ekonomi. Weber lalu mengalami fase gila kerja, yang mengantarkannya menjadi professor ekonomi di universitas Herlburg di tahun 1896. Tahun 1893 dia menikah de ngan seorang perempuan bernama Marianne Schnitger. Tahun 1897 ayahnya meninggal dunia. Tak lama kemudian Weber mengalami gangguan syaraf. Baru ditahun 1904 ia pulih dan kembali aktif di dunia akademis, hingga pada akhirnya meninggal dunia pada 14 Juni 1920 akibat sakit pneumonia.

Selain menulis buku dan menjadi dosen, Weber juga membantu mendirikan German Sociological Society d itahun 1910, konsultan dan peneliti. Rumahnya dijadikan pertemuan pakar berbagai cabang ilmu seperti Georg Simmel, Alfred maupun Georg Lukacs. Weber hidup dimasa pertumbuhan kapitalisme modern, ketika kapitalisme telah berkembang jauh dan menunjukkan eksistensi bentuk dan pola produksi yang telah berubah dengan bentuk awal yang diperhatikan Karl Marx. 

Max Weber merupakan salah satu sosiolog Jerman yang pemikirannya berada di bawah paradigma definisi sosial (paradigma ini mengutamakan analisis fenomena dari dalam diri individu subjektif Pemaknaan, perspektif, dan pendapat seseorang menjadi sangat penting dalam meneliti sebuah fenomena). Meskipun sebagian besar paradigma ini berada dalam kategori sosiologi mikro, namun analisis Weber terhadap tindakan sosial masih memperhatikan fakta sosial dan struktur (dalam porsi tertentu). 

Weber menganalisis agama dengan analogi ekonomi. Konsep utama yang diadopsi dalam sosiologi agama Weber adalah perpaduan antara agama dan Calvinisme yang keduanya dihubungkan oleh rasionalitas. Rasionalisasi merupakan hal penting sebelum bertindak. Rasionalisasi secara sederhana dimaknai sebagai segala macam pertimbangan yang dilakukan oleh seseorang sebelum ia akhirnya berbuat sesuatu atau bertindak. Pemikiran ini tentu tidak lepas dari pengaruh tren pemikiran abad 19 dimana positivistik begitu dominan. Weber membagi tindakan rasional menjadi empat, yakni rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai, rasionalitas agama, dan rasionalitas tradisional. Bagi Weber, rasionalitas yang paling tinggi adalah rasionalitas instrumental: rasionalitas yang berbentuk pertimbangan untung dan rugi.

Calvinisme mendorong asketisisme, pengumpulan kekayaan demi memperoleh perkenan tuhan yang lebih besar, dan bukan demi kemewahan duniawi. Akumulasi modal ini memungkinkan demi terjadinya transisi dari feodalisme menuju kapitalisme. Kini logika pengejaran kekayaan duniawi demi Tuhan itu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Jika agama membantu lahirnya kapitalisme, sedangkan kapitalisme sendiri segera mulai mengahancurkan agama. Webber mengutip Goethe: asketisisme sebenarnya hendak mengupayakan kebaikan, tapi akhirnya menciptakan kejahatan (Webber 1904-5: 172) dan itulah tema yang tampil dan di bahas sepanjang karyanya. Penalaran Hegelian yang cerdik atau ironi sejarah, atau sesuatu yang ada dalam kehidupan sehari-hari kita sebut dengan perasaan getir sebagai konsekuensi tak di sengaja. Rasionalitas kapitalis menciptakan kosmos yang cukup diri dan berdiri sendiri., sampai batas dimana warganya lantas melupakan kemajemukan rasionalitas. 

Dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan pemikiran Puritan memengaruhi perkembangan kapitalisme. Bukti keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan duniawi, termasuk pengejaran eko nomi. Mengapa hal ini tidak terjadi dalam Pro testa nisme? Weber menjelaskan paradoks tersebut dalam esainya.

Ia mendefinisikan “semangat kapitalisme” sebagai gagasan dan kebiasaan yang mendukung pengejaran yang rasional terhadap keuntungan ekonomi. Di antara kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasikan oleh Weber adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimum, gagasan bahwa kerja adalah kutukan dan beban yang harus dihindari, khususnya apabila hal itu melampaui apa yang secukupnya dibutuhkan untuk hidup yang sederhana. Agar suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik dengan ciriciri khusus kapitalisme, demikian Weber menulis, dapat mendominasi yang lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu tempat, dan bukan dalam diri individu yang terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup yang lazim bagi keseluruhan kelompok manusia” 

Selain analogi ekonomi, karya Weber The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism, menurut Turner, juga memuat analisis pertukaran dan stratifikasi dalam agama. Menurut Weber “dalam hubungan antara Tuhan dan manusia, dan antara para santo dengan orang awam, selalu terjadi pertukaran bentuk kekayaan yang berbeda-beda” (Turner, 2012: 173).  Stratifikasi yang dimaksud Weber adalah startifikasi religius. Dasar dari stratifikasi religius adalah hasil kualifikasi atas tingkat religiusitas. Tingkat religiusitas dapat menjadi prestise dalam stratifikasi semacam ini. Tentu saja kualifikasi ini tidak berlaku secara universal, karena kriteria dan nilai terhadap kharismatik bisa berbeda menurut pada nilai kelompok tersebut.

Pertama, adanya startifikasi dalam sisi sakral secara religius. Religiusitas dibedakan menjadi religiusitas elit dan religiusits massa. Terdapat orang-orang yang termasuk dalam religius elit, yakni mereka yang memiliki pengetahuan religius tinggi dan memiliki kharisma untuk itu. Untuk menjadi bagian dari religius elit, membutuhkan banyak waktu yag digunakan untuk melakukan praktek-praktek religius. Hal ini tidak bisa diraih oleh orang-orang awam yang menyibukkan diri untuk mengejar kepentingan profan, seperti bekerja. Kedua, karena sebagian besar waktu kelompok religius elit digunakan untuk praktek religius, mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukan hal-hal yang sifatnya profan. Akhirnya, mereka menjadi „parasit‟ bagi kelompok religius massa atau juga disebut kaum awam.

B. Teori Pilihan Rasional

Menurut Coleman, sosiologi memusatkan perhatian pada sistem sosial, dimana fenomena makro harus dijelaskan oleh faktor internalnya, khususnya oleh faktor individu. Alasan untuk memusatkan perhatian pada individu dikarenakan intervensi untuk menciptakan perubahan sosial. Sehingga, inti dari perspektif Coleman ialah bahwa teori sosial tidak hanya merupakan latihan akademis, melainkan harus dapat mempengaruhi kehidupan sosial melalui intervensi tersebut. Fenomena pada tingkat mikro selain yang bersifat individual dapat menjadi sasaran perhatian analisisnya. Interaksi antar individu dipandang sebagai akibat dari fenomena yang mengemuka di tingkat sistem, yakni, fenomena yang tidak dimaksudkan atau diprediksi oleh individu. 

Intervensi merupakan sebuah campur tangan yang dilakukan oleh seseorang, dua orang atau bahkan yang dilakukan oleh Negara. Dari adanya intervensi tersebut lah yang kemudian diharapkan mampu menciptakan sebuah perubahan sosial. Individu memang memegang peranan yang sangat penting di dalam sebuah sistem sosial. Karena pada dasarnya, individu lah yang menentukan berjalan tidaknya suatu sistem tersebut. Bahkan sebelum sistem itu terbentuk, dari tiap individu   lah yang dikumpulkan dan dijadikan satu kemudian disusun untuk menghasilkan sebuah sistem.  

Teori pilihan rasional Coleman ini tampak jelas dalam gagasan dasarnya bahwa tindakan perseorangan mengarah pada suatu tujuan dan tujuan tersebut adalah tindakan yang ditentukan oleh nilai atau preferensi (pilihan). Coleman menyatakan bahwa memerlukan konsep tepat mengenai aktor rasional yang berasal dari ilmu ekonomi yang melihat aktor memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan ataupun keinginan serta kebutuhan mereka. Ada dua unsur utama dalam teori Coleman, yaitu aktor dan juga sumber daya.  

Sumber daya ialah setiap potensi yang ada atau bahkan yang dimiliki. Sumber daya tersebut dapat berupa sumber daya alam, yaitu sumber daya yang telah disediakan atau potensi alam yang dimiliki dan juga sumber daya manusia, yaitu potensi yang ada dalam diri seseorang. Sedangkan aktor ialah seseorang yang melakukan sebuah tindakan. Dalam hal ini ialah individu yang mampu memanfaatkan sumber daya dengan baik yaitu aktor.

Aktor dianggap sebagai individu yang memiiki tujuan, aktor juga memiliki suatu pilihan yang bernilai dasar yang digunakan aktor untuk menentukan pilihan yaitu menggunakan pertimbangan secara mendalam berdasarkan kesadarannya, selain itu aktor juga mempunyai kekuatan sebagai upaya untuk menentukan pilihan dan tindakan yang menjadi keinginannya. Sedangkan sumber daya adalah dimana aktor memiliki kontrol serta memiliki kepentingan tertentu, sumber daya juga sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan oleh aktor.

Coleman juga menjelaskan mengenai interaksi antara aktor dengan sumber daya ke tingkat sistem sosial. Basis minima untuk sistem sosial adalah tindakan dua orang aktor, dimana setiap aktor mengendalikan sumber daya yang menarik perhatian bagi pihak lain. Aktor selalu mempunyai tujuan, dan masing-masing bertujuan untuk memaksimalkan wujud dari kepentingannya yang memberikan ciri saling tergantung pada tindakan aktor tersebut.

Pada kehidupan nyata, Coleman mengakui bahwa individu tidak selalu bertindak atau berperilaku rasional. Tetapi dalam hal ini akan sama saja apakah seorang aktor dapat bertindak dengan tepat menurut rasionalitas seperti yang biasa dibayangkan ataupun menyimpang dari cara-cara yang diamati. Tindakan rasional individu dilanjutkan dengan memusatkan perhatian pada hubungan mikro-makro, ataupun bagaimana cara hubungan tindakan individual menimbulkan perilaku sistem sosial. 

Teori pilihan rasional berangkat dari tujuan atau maksud aktor, tetapi pada teori ini memiliki pandangan terhadap dua pemaksa utama tindakan. Pertama adalah keterbatasan sumber daya, bagi aktor yang mempunyai sumber daya besar, maka pencapaian tujuan cenderung lebih mudah. Hal ini berkorelasi dengan biaya, pemaksa utama, dan yang kedua adalah tindakan aktor individual, tindakan aktor individual disini adalah lembaga sosial.

Teori pilihan rasional ini menekankan pada dua hal yaitu aktor dan sumber daya. Aktor disini misal petani miskin yang memiliki suatu tujuan tertentu untuk terus bertahan hidup meskipun musim tidak lagi mendukungnya untuk bercocok tanam. Bukan tanpa alasan ketika seorang  petani miskin memilih sebuah tujuan untuk tetap bisa melanjutkan kehidupannya.  Selain itu, inti dari teori ini juga terletak pada sumber daya.  

Teori ini lebih menekankan aktor yang disini diartikan sebagai individu yang melakukan sebuah tindakan. Tindakan tersebut diharapkan mampu menghasilkan sebuah perubahan sosial. Misal ketika para petani memilih suatu pilihan untuk bertahan dalam kondisi yang susah. Strategi bertahan hidup petani miskin merupakan sebuah pilihan, yang didalamnya memiliki sebuah tindakan yang dilakukan oleh individu dan dianggap rasional. Dan tindakan tersebut dapat membuat perubahan pada hidupnya, yaitu merubah cara untuk mempertahankan hidupnya di musim yang sangat tidak menguntungkan itu.

Teori pilihan rasional ini menekankan bahwa aktor menjadi kunci terpenting di dalam melakukan sebuah tindakan. Aktor disini bisa dikatakan sebagai individu atau Negara yang melakukan suatu tindakan untuk mencapai kepentingannya dan berusaha memaksimalkan kepentingannya. Hal tersebut dilakukan oleh aktor dengan cara mengambil atau memilih suatu pilihan yang dianggap membawa hasil untuk mencapai kepentinganya tersebut. Sebagai contoh, jika pilihan 1 dianggap lebih penting dan lebih bermakna dari pada pilihan 2, dan 3, maka aktor akan memilih pilihan 1.

Teori pilihan rasional merupakan alat untuk berpikir logis, berfikir rasional, didalam membuat suatu keputusan. Sama halnya dengan para petani miskin yang memilih suatu pilihan yang dianggap paling rasional (sesuai dengan akal) dibandingkan dengan pilihan-pilihan lainnya untuk tetap dapat mempertahankan hidupnya dan menyambung kehidupannya. Strategi atau cara yang diambil merupakan suatu hal yang telah dipikirkan dan dipertimbangkan sebelumnya hingga pada akhirnya menjadi suatu keputusan yang dipandang sangat rasional.

Dapat disimpulkan yang dimaksud dengan aktor ialah seorang individu atau bisa juga Negara yang melakukan sebuah tindakan sesuai dengan pilihannya, dan tentunya pilihan tersebut atas pertimbangan yang rasional. Maka dari itu, pilihan rasional ialah pilihan yang dianggap paling masuk akal dibandingkan dengan pilihan lainnya.

Secara umum teori pilihan rasional mengasumsikan bahwa tindakan manusia mempunyai maksud dan tujuan yang dibimbing oleh hirarki yang tertata rapi oleh preferensi. Dalam hal ini rasional berarti: 

1. Aktor melakukan perhitungan dari pemanfaatan atau preferensi dalam pemilihan suatu bentuk tindakan.  

2. Aktor juga menghitung biaya bagi setiap jalur perilaku.  

3. Aktor berusaha memaksimalkan pemanfaatan untuk mencapai pilihan tertentu. 

C. Agama Stratifikasi

Kehadiran agama dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan di semua tingkat lapisan di seluruh plosok dunia mau tidak mau adalah sebuah fakta sosial yang tidak terelakan. Berbagai bentuk tindakan baik secara individual maupun kolektif seringkali melibatkan unsur keagamaan yang mengikat

Pada abad pertengahan masyarakat berkembang pada dua fungsi penting yaitu pembentukan dan pemeliharaan hukum, dan pengaturan sandang dan pangan. Kedua fungsi inimengatur dan berperang di satu pihak dan pertanian dilain pihak, menimbulkan sistem stratifikasi yang terdiri dari bangsawan dan keluarga ningrat sebagai penguasa, mengawasi kegiatan pertaniansebagai tuan tanahdan rakyat jelata yang menggarap sawah dan mengusahakan keahlian berdagang kecil-kecilan sebagai syarat penting bagi masyarakat yang berdasarkan pada teknik sederhana. 

Adanya kenyataan bahwa pada setiap masyarakat terdapat pelapisan sosial yang menunjuk kepada fenomena tinggi rendahnya kedudukan seseorang atau kelompok dalam suatu masyarakat. Pelapisan yang terdapat dalam masyarakat agama bisa terjadi karena faktor-faktor formatif tertentu, misalnya keturunan, penguasaan ilmu keagamaan, tingkat kesalehan, jabatan keagamaan, cara berpikir, dan lai-lain.

Contoh klasik pelapisan sosial, misalnya yang terdapat dalam agama Hindu, yaitu ada kelompok Brahma, Kstaria, Waisya, dan Sudra. Suatu pelapisan sosial yang didasarkan pada suatu jenis keahlian tertentu, tetapi berimplikasi pada keturunan. Contoh lain adalah adanya asumsi teologis yang diklaim oleh orang-orang Yahudi bahwa mereka lebih unggul dibanding ras-ras lainnya. Suatu pelapisan sosial yang didasarkan pada ras dan berimplikasi pada keturunan.

Contoh lain yang dikemukakan Max Weber bahwa masyarakat pedagang memiliki etika kehidupan yang lebih rasional dibandingkan dengan masyarakat petani. Adanya konsep hari pembalasan lebih mudah berkembang dan diterima oleh masyarakat pedagang dibandingkan masyarakat petani.

Menurut Glock dan Stark, bahwa kelas sosial mempunyai pengaruh besar terhadap partisipasi kegiatan keagamaan. Menurutnya, orang-orang miskin kurang terlibat dalam aktivitas gereja dan mereka juga kurang mendapat informasi keagamaan. Tetapi yang menarik justru mereka lebih emosional dalam beragama dibanding mereka yang kaya.

Hubungan antara stratifikasi sosial dengan institusi agama menurut Broom adalah:

1. Kaum wanita lebih banyak yang percaya kepada intuisi dibanding pria. 

2. Wanita menganggap ajaran agama sangat penting. 

3. Orang kulit hitam menganggap agama lebih penting dibanding kulit   putih. 

4. Dilihat dari segi usia: semakin tua semakin tebal kepercayaannya terhadap agama. 

5. Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin rendah pandangannya mengenai pentingnya agama. 

6. Pekerjaan yang memerlukan keahlian: agama sangat penting. Sedangkan mereka yang serabutan: agama tidak begitu penting. 

Simpulan

Weber menganalisis agama dengan analogi ekonomi. Konsep utama yang diadopsi dalam sosiologi agama Weber adalah perpaduan antara agama dan Calvinisme yang keduanya dihubungkan oleh rasionalitas. Rasionalisasi merupakan hal penting sebelum bertindak. Rasionalisasi secara sederhana dimaknai sebagai segala macam pertimbangan yang dilakukan oleh seseorang sebelum ia akhirnya berbuat sesuatu atau bertindak. Pemikiran ini tentu tidak lepas dari pengaruh tren pemikiran abad 19 dimana positivistik begitu dominan. Weber membagi tindakan rasional menjadi empat, yakni rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai, rasionalitas agama, dan rasionalitas tradisional. Bagi Weber, rasionalitas yang paling tinggi adalah rasionalitas instrumental: rasionalitas yang berbentuk pertimbangan untung dan rugi.

Teori pilihan rasional Coleman ini tampak jelas dalam gagasan dasarnya bahwa tindakan perseorangan mengarah pada suatu tujuan dan tujuan tersebut adalah tindakan yang ditentukan oleh nilai atau preferensi (pilihan). Coleman menyatakan bahwa memerlukan konsep tepat mengenai aktor rasional yang berasal dari ilmu ekonomi yang melihat aktor memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan ataupun keinginan serta kebutuhan mereka. Ada dua unsur utama dalam teori Coleman, yaitu aktor dan juga sumber daya. 

Adanya kenyataan bahwa pada setiap masyarakat terdapat pelapisan sosial yang menunjuk kepada fenomena tinggi rendahnya kedudukan seseorang atau kelompok dalam suatu masyarakat. Pelapisan yang terdapat dalam masyarakat agama bisa terjadi karena faktor-faktor formatif tertentu, misalnya keturunan, penguasaan ilmu keagamaan, tingkat kesalehan, jabatan keagamaan, cara berpikir, dan lai-lain.