Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Mengenali Tingkatan Tasawuf dan Amaliyahnya

Tingkatan Tasawuf dan Amaliyahnya - caraku.id Tasawuf ialah salah satu fenomena dalam islam yang memusatkan atensi pada pembersihan aspek rohani manusia, yang berikutnya memunculkan akhlak mulia. Lewat tasawuf ini seorang bisa mengenali tentang cara- metode melaksanakan pembersihan diri dan mengamalkannya secara benar.

Tinjauan analisis terhadap tasawuf menampilkan kalau para sufi dengan bermacam aliran yang dianutnya mempunyai sesuatu konsepsi tentang jalur( Toriqot) mengarah Allah. Jalur ini diawali dengan latihan rohaniah( Riyadoh), kemudian secara bertahap menempuh bermacam fase, yang diketahui dengan maqam( tingkatan), dan perihal( kondisi), dan berakhir dengan memahami ma’ rifah( kepada Allah). Tingkatan pengenalan( ma’ rifah) jadi tujuan yang biasanya banyak dikejar oleh para sufi. Kerangka watak dan prilaku sufi diwujudkan lewat amalan dan tata cara tertentu yang diucap Toriqot, ataupun jalur buat menciptakan pengenalan( Ma’ rifah kepada Allah).

Ekspedisi mengarah Allah ialah tata cara pengenalan ma’ rifah secara rasa( Rohaniyah) yang benar terhadap Allah. Manusia tidak hendak ketahui banyak menimpa penciptanaya apabila belum melaksanakan ekspedisi mengarah Allah. Perbandingan yang dalam antara iman secara aqliyah ataupun logis teoritis meski dia merupakan orang yang beriman secara aqliayah. Perihal ini sebab terdapatnya percava( Al- Iman Al- Aqli An- Nazhori) dan iman secara rasa( Al- Iman Asy- Syu’ ury Adz- Dzauqi).

Lingkup‘ Irfani tidak bisa dicapai dengan gampang, namun wajib lewat proses ekspedisi yang sangat panjang. Proses yang diartikan merupakan maqam- maqam( tingkatan ataupun stasiun) dan ahwal( jama’ dari perihal). 2 perkara ini wajib dilewati oleh orang yang mau berjalan mengarah Tuhan.

Cara Mengenali Tingkatan Tasawuf dan Amaliyahnya

Tingkatan Tasawuf dan Amaliyahnya

A. Pengertian Maqamat

Maqamat merupakan wujud jamak dari kata maqam, yang secara bahasa berarti pangkat ataupun derajat. Dalam bahasa Inggris, maqamat diucap dengan sebutan stations ataupun stages. Sedangkan bagi sebutan ilmu tasawuf, maqamat merupakan peran seseorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh dengan lewat peribadatan, mujahadat dan lain- lain, latihan spritual dan( berhubungan) yang tidak putus- putusnya dengan Allah swt. ataupun secara teknis maqamat pula berarti kegiatan dan usaha optimal seseorang sufi buat tingkatkan mutu spiritual dan perannya( maqam) di hadapan Allah swt. dengan amalan- amalan tertentu hingga terdapatnya petunjuk buat mengganti pada konsentrasi terhadap amalan tertentu yang lain, yang diyaini selaku amalan yang lebih besar nilai spirituanya di hadapan Allah swt.

Dalam rangka mencapai derajat kesempurnaan, seseorang sufi dituntut buat melampaui tahapan- tahapan spiritual, mempunyai sesuatu konsepsi tentang jalur( tharikat) mengarah Allah swt., jalur ini diawali dengan latihan- latihan rohaniah( riyadhah) kemudian secara bertahap menempuh bermacam fase yang dalam tradisi tasawuf diketahui dengan maqam( tingkatan).

Ekspedisi mengarah Allah swt. ialah tata cara pengenalan( makrifat) secara rasa( rohaniah) yang benar terhadap Allah swt. Manusia tidak hendak mengenali penciptanya sepanjang belum melaksanakan ekspedisi mengarah Allah swt. Meski dia merupakan orang yang beriman secara aqliyah. Karena, terdapat perbandingan yang dalam antara iman secara aqliyah ataupun logis- teoritis( al- iman al- aqli an- nazhari) dan iman secara rasa( al- iman asy- syu’ ri adzdzauqi).

Tingakatan( maqam) merupakan tingkatan seseorang hamba di hadapan Allah tidak lain ialah mutu kejiwaan yang bertabiat senantiasa, inilah yang membedakan dengan keaadaan spiritual( perihal) yang bertabiat sementara

Bersumber pada pengertian di atas bisa dikatakan kalau maqam dijalani seseorang salik lewat usaha yang serius, beberapa kewajiban yang wajib ditempuh buat jangka waktu tertentu

B. Tingkatan/ Maqam- maqam dalam Tasawuf

1. Syariat

Syaria’ t berasal dari kata syara’, secara etimologi memiliki makna“ jalan- jalan yang dapat ditempuh air”, artinya merupakan jalur yang wajib ditempuh manusia buat mengarah jalur Allah SWT.

Secara universal, syaria’ at ialah hukum( seluruh syarat yang diresmikan Allah SWT) yang mengendalikan segala sendi kehidupan umat muslim di dunia, mulai dari urusan ikatan antar manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia( Habuminallah Habuminannas), kunci menuntaskan permasalahan kehidupan baik dunia dan akhirat, rukun, ketentuan, halal- haram, perintah dan larangan, dan sebagainya. Sumber syaria’ t sendiri terletak dalam Al- Quran dan As- Sunnah.

Bagi para sufi, syaria’ t berhubungan dengan amalan lahiriah yang mengendalikan seluruh urusan muamalat menimpa ikatan antara manusia dengan manusia, tanpa memegang aspek batiniah. Orang- orang sufi berkeyakinan ilmu batin tidak hendak dapat diperoleh apabila seorang tidak melaksanakan amalan lahiriah secara sempurna. Oleh sebab itu, sangat berarti menguasai syariat- syariat dalam islam.

2. Thariqat

Thariqat(طرق) berarti“ tata cara” ataupun“ jalur”, yang secara konseptual terpaut dengan haqiqah/ hakikat ataupun kebenaran sejati. Dalam aliran tasawuf ataupun sufisme, thariqat berarti jalan yang ditempuh oleh para sufi buat menggapai tujuan sedekat bisa jadi dengan Allah SWT, dengan mempraktikkan tata cara pengarahan moral dan jiwa.

Thariqat ditafsirkan selaku jalur yang berpangkal pada syariat. Jadi jalur utamanya merupakan Syar’, sebaliknya anak jalur diucap thariq. Sehingga bisa disimpulkan buat mengarah Thariq, seorang wajib melewati syar’. Artinya, saat sebelum menekuni thariqat para sufi harus menguasai syariat terlebih dulu, karena syariat merupakan pangkal dari sesuatu ibadah.

3. Hakikat

Secara etimologi, hakikat berasal dari kata“ Al- Haqq” yang berarti kebenaran. Secara garis besar, hakikat ialah ilmu yang digunakan buat mencari sesuatu kebenaran sejati menimpa Tuhan. Dalam kitab Al- Kalabazi, hakikat bagi ilmu tasawuf didefinisikan selaku aspek yang berkaitan dengan amal batiniah, ialah amalan sangat dalam dan ialah akhir ekspedisi yang ditempuh oleh para sufi.

Apabila diibaratkan dengan menanam tumbuhan, awal kita wajib menanam biji benih( syariat). Setelah itu kita terus menyirami sampai tumbuhan bercabang dan berkembang dedaunan dan buah( pada dikala ini kita menggapai sesi thareqat). Terakhir, kita wajib menjaga tumbuhan tersebut supaya diperoleh buah yang ranum( inilah yang dimaksud hakikat, sesuatu ekspedisi akhir). Intinya, hakikat tidak dapat dilepaskan dari syariat dan thariqat.

4. Ma’ rifah

Ditinjau dari segi bahasa, Ma’ rifat berasal dari kata‘ arafa- yurifu- irfan. Secara universal, ma’ rifat didefinisikan selaku kumpulan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan amalan ibadah yang ialah perpaduan dari syariat, thariqat, dan hakikat, dimanan nantinya ilmu ini digunakan buat memahami Allah SWT lebih mendalam lewat sanubari ataupun mata hati.

Bagi Imam Al- Ghozali, ma’ rifah merupakan memahami rahasia- rahasia Allah dan aturan- aturan- Nya yang melingkupi segala yang terdapat. Seorang yang telah hingga pada sesi ma’ rifah, hingga dia terletak sangat dekat dengan Tuhannya seolah tidak tabir penghalang

C. Macam-Macam Maqamat

Maqamat dipecah kalangan sufi ke dalam stasion- stasion, tempat seseorang calon sufi menunggu sembari berupaya keras buat mensterilkan diri supaya bisa melanjutkan perjalan ke stasion selanjutnya. Penyucian diri diusahakan lewat ibadat, paling utama puasa, shalat, membaca Alquran, dan dzikir. Tujuan seluruh ibadat dalam Islam yakni mendekatkan diri. Oleh sebab itu, terjadilah penyucian diri calon sufi berangsur- angsur

Tentang berapa jumlah stasion ataupun maqamat yang wajib ditempuh oleh seseorang sufi buat hingga mengarah Tuhan, di golongan para sufi tidak sama pendapatnya. Muhammad alKalabazy dalam kitabnya al- Ta’ arruf li Mazhab ahl al- Tasawwuf, selaku dilansir Harun Nasution misalnya berkata kalau maqamat itu jumlahnya terdapat 10, ialah al- taubah, al- zuhud, al- shabr, al- faqr, al- tawadlu’, al- taqwa, al- tawakkal, al- ridla, al- mahabbah dan al- ma’ rifah.

Sedangkan itu Abu Nasr al- Sarraj al- Tusi dalam kitab al- Luma’ mengatakan jumlah maqamat cuma 7, ialah al- taubah, al- wara’, al- zuhud, al- faqr, al- tawakkal dan al- ridla.

Dalam pada itu Imam al- Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al- Din berkata kalau maqamat itu terdapat 8, ialah al- taubah, al- shabr, al- zuhud, al- tawakkal, al- mahabbah, alma’ rifah, dan al- ridla.

Kutipan tersebut memperlihatkan kondisi alterasi penyebutan maqamat yang berbedabeda, tetapi terdapat maqamat yang oleh mereka disepakati, ialah al- taubah, al- zuhud, al- wara, al- faqr, al- shabr, al- tawakkal dan al- ridla

1. Al- Taubah

Dalam bahasa Indonesia, tobat bermakna“ siuman dan menyesal hendak dosa( perbuatan yang salah ataupun jahat) dan beniat hendak membetulkan tingkah laku dan perbuatan”. Maqam tobat( al- taubah) ialah maqam awal yang wajib dilewati tiap salik dan diraih dengan melaksanakan ibadah, mujahadah, dan riyadhah. Nyaris seluruh sufi setuju kalau tobat merupakan maqam awal yang wajib dilalui tiap salik. Sebutan tobat berasal dari bahasa Arab, taba, yatubu, tobatan, yang berarti kembali, dan diucap Alquran sebanyak 87 kali dalam bermacam wujud. Muhammad fu’ angkatan darat(AD)‘ abd al- Baqi mengatakan kalau sebutan tobat diucap Alquran kesekian kali dengan bermacam- macam wujud kata, semacam tâbâ, tâbu, tubtu, tubtum, atubu, tatuba, yabtu, yatûbu, yatûbû, yatûbûn, tub, tûbû, al- taubi, taubah, taubatuhum, ta’ ibat, al- ta’ ibûn, tawwab, tawwaba, al- tawwabin, matab, dan matâbâ. 6 Sebutan tobat dimaksud selaku berputar dan kembali kepada Allah dari dosa seorang buat mencari pengampunannya.

Seseorang ulama, al- husain al- maghazili, membedakan tobat kepada 2 berbagai, ialah: taubat al- Inabat dan taubat al- Istijabat. Taubat yang awal sebab didorong oleh rasa khawatir kepada Allah swt. Lagi yang kedua sebab merasa malu kepada- Nya

Maqam al- taubat menempati posisi sangat depan untuk seorang salik ataupun thalib, walaupun secara syar’ i sebetulnya ialah perintah agama Islam secara universal. Tetapi yang membedakan antara tobat dalam syariat biasa dengan maqam tobat dalam tasawuf diperdalam dan dibedakan antara tobatnya orang awam dengan tobatnya orang khawas. Sebab tobat orang khawas tercantum sufi dari kelalaian mengingat Allah, hingga kesempurnaan taobat dalam ajaran tasawuf merupakan apabila seorang yang bertobat telah menggapai maqam: al- Taubatubmin taubatih, ialah tobat terhadap pemahaman kondisi dirinya dan pemahaman hendak tobatnya itu sendiri. Bagi Ibn Qayyim al- Jauziyah terdapat 3 ketentuan tobat: penyesalan, meninggalkan dosa yang dicoba, dan memperlihatkan penyesalan dan ketidakberdayaan.

2. Al- Istiqamah

Ialah satu tahapan berarti di antara tahapan berarti lain dalam tasawuf. Mengingat berartinya tahapan ini, Al- Qusyairi berkata,“ orang yang tidak istiqamah dalam keberadaannya, tidak hendak sempat bertambah dari satu tahapan ke tahapan maqam selanjutnya, dan ekspedisi mistis( suluk)- nya tidak hendak kukuh”. Baginya ciri istiqamah dari orang yang mulai menempuh suluk merupakan; amal- amal lahiriyahnya tidak dicemari oleh kesenjangan. Untuk orang yang terletak pada sesi pertengahan( ahl al- wasath) merupakan, tidak terdapat kata“ menyudahi”. Sedangkan untuk orang yang terletak pada sesi akhir merupakan, tidak terdapat tabir yang melidunginya dari kelanjutan wushul( berjumpa dengan Tuhan)- nya. Dalam kaitan ini, terdapat sebagian ayat Alquran yang bisa dijadikan petunjuk buat beristiqamah, ialah:

“ Sebetulnya orang- orang yang mengatakan," Tuhan kami merupakan Allah” setelah itu mereka menenguhkan pendirian mereka hingga malaikat- malaikat hendak turun kepada mereka( dengan mengatakan),“ Janganlah kami merasa khawatir dan janganlah kalian bersedih hati; dan bergembiralah kalian dengan( mendapatkan) surga yang sudah dijanjikan kepadamu”( Q. S. Fushshilat( 41): 30).

Syeikh Abu‘ Ali ad- Daqqaq menarangkan 3 terminologi dalam kata al- istiqamah, yang dikatakan selaku tingkatan istiqamah tersebut, ialah( 1) menegakkan seluruh suatu( al- taqwim);( 2) meluruskan seluruh suatu( al- iqamah);( 3) berlaku teguh( al- istiqamah). Attaqwim menyangkut disiplin jiwa; al- iqamah berkaitan dengan aktivitas mendekatkan diri kepada Allah dengan jalur sirri( mistis). Oleh sebab itu, al- istiqamah jadi prasarat utama dalam tangga pendakian mengarah Allah swt., dan dengan alibi itu, Kyai Achmad meletakkan al- istiqamah pada tingkatan awal di jalur sufi. Dengan demikian, pemikiran Kyai Achmad berbeda dengan Al- Qusyairi, Al- Kalabadzi, Ath- Thusi, dan Al- Ghazali; dimana bagi mereka, tahapan awal di jalur sufi merupakan al- taubah( taubat).

3. Al- wara’

Kata warak berasal dari bahasa Arab, wara’ a, yari’ u, wara’ an yang bermakna berhatihati, namun dalam kamus bahasa Indonesia warak bermakna“ patuh dan taat kepada Allah.” Di dunia tasawuf, kata warak diisyarati dengan kehati- hatian dan kewaspadaan besar. Walaupun sebutan ini tidak di temukan dalam Alquran, namun semangat dan perintah buat berlagak warak bisa dengan gampang ditemui di dalamnya, dan banyak hadis Nabi Muhammad saw. memakai sebutan warak. Dalam sunan Ibn majah, misalnya, disebutkan:

Dari Abi Huraira mengatakan kalau Rasulullah saw. mengatakan wahai Abu Hurairah, jadilah seseorang yang wara’, hingga engkau hendak jadi hamba yang utama. Jadilah orang yang menerima apa terdapatnya( qana’ ah), hingga engkau hendak jadi manusia yang sangat bersyukur. Cintailah seorang sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri, hingga engkau jadi mukmin yang sesungguhnya. Perbaguslah ikatan orang sebelah untuk orang yang bertetangga kepadamu, hingga engkau hendak jadi muslim yang sesungguhnya. Sedikitlah tertawa, sebab banyak tertawa hendak mematikan hati.

Bagi orang sufi warak ialah meninggalkan segalah suatu yang tidak jelas persoalannya baik menyangkut santapan, baju ataupun persoalan

Secara graduasi, dalam tasawuf warak ialah langkah kedua setelah tobat. Perihal ini menampilkan kalau di samping ialah pembinaan mentalitas keislaman, pula warak selaku bertepatan pada dini buat mensterilkan hati dari jalinan keduniaan.

Bagi para sufi warak itu terdapat 2 berbagai ialah:

1. Warak lahiriah, ialah tidak mempergunakan anggota badannya buat perihal yang tidak diridai Allah swt.

2. Warak batin, ialah tidak mengisi hatinya kecuali cuma Allah swt.

4. Al- Zuhd

Secara etimologis, zuhud berarti ragaba‘ ansyai’ in wa tarakahu, maksudnya tidak tertarik terhadap suatu dan meninggalkannya. Zuhada fi al- dunya, berarti meluangkan diri dari kesenangan dunia buat ibadah.

Kata Zuhud berasal dari bahasa Arab, zahada, yazhudu, zuhdan yang maksudnya menjauhkan diri, tidak jadi berkeinginan, dan tidak tertarik. Dalam bahasa Indonesia, zuhud berarti“ Mengenai meninggalkan keduniawian; pertapaan”. Dalam Alquran, kata zuhud memanglah tidak digunakan, melainkan kata al- zâhidîn sebanyak 1 kali yang diucap dalam Q. S. Yûsuf/ 12: 20. Walaupun sebutan ini kurang banyak digunakan dalam Alquran, hendak namun banyak ayat Alquran yang menuju secara tegas kepada arti zuhud, ialah bisa dilihat dalam uraian dalam Alquran menimpa keutamaan akhirat dibanding dunia.

Bagi dari pengertiannya Zuhud bisa dimengerti kalau tingkatan zuhud pada dasar nya terdapat 3 ialah:

1. Orang yang zuhud terhadap dunia, sementara itu dia suka padanya, hatinya condong padanya dan nafsunya senantiasa menoleh kepadanya; kendati demikian, dilawannya hawa nafsu dan kemauan terhadap kenikmatan duniawi itu. Orang ini diucap mutazzahid( yang berupaya buat hidup zuhud).

2. Orang yang zuhud terhadap dunia dengan gampang, sebab dia menyangka terhadap masalah keduniaan itu sepele( sedikit sekali khasiat dan manfaatnya), walaupun demikian dia menginginkannya. Namun dia memandang kezuhudannya dan berpaling padanya.

3. Orang yang zuhud terhadap dunia, namun zuhud terhadap ke- zuhudannya itu, sehingga tidak terasa kalau dirinya sudah meninggalkan jubah keduniannya. Orang yang demikian setingkat dengan orang yang meninggalkan tembikar dan memungut intan permata.

5. Al- Faqr

Secara harfiah fakir umumnya dimaksud selaku orang yang berhajat, perlu ataupun orang miskin. Sebaliknya dalam pemikiran sufi fakir merupakan tidak memohon lebih dari apa yang sudah terdapat pada diri kita

Al- faqr( kefakiran) bagi para sufi ialah tidak memaksakan diri buat memperoleh suatu, tidak menuntut lebih dari apa yang sudah dipunyai ataupun melebihi dari kebutuhan primer; dapat pula dimaksud tidak memiliki apa- apa dan tidak dipahami apa- apa tidak hanya Allah Swt. Ada pula bagi Kyai Acmad Al- faqr berarti terdapatnya pemahaman, kalau diri ini tidak mempunyai suatu sama sekali yang pantas bernilai dihadapan Allah Swt. Bukan saja kekayaan yang berbentuk harta barang, kekuasaan keahlian, namun amal ibadah yang dicoba sejauh hidup ini, pula sama sekali tidak sepatutnya di andalkan, terlebih di banggakan di hadapan Allah Swt

Bisa disimpulkan Al- faqr merupakan kalangan yang sudah memalingkan tiap benak dan harapan yang hendak memisahkan dari Allah swt. ataupun penyucian hati secara totalitas terhadap apapun yang membuat jauh dari Allah swt.

6. Al- Shabr

Kata sabar/tabah berasal dari bahasa Arab, shabara, yashbiru, shabran, maknanya merupakan mengikat, bersabar, menahan dari laranangan hukum, dan menahan diri dari kesedihan. Kata ini disebutkan di Alquran sebanyak 103 kali. Dalam bahasa Indonesia, tabah bermakna“ tahan mengalami cobaan( tidak lekas marah, tidak lekas putus asah, tidak lekas patah hati), dan sabar, tenang, tidak tergesah- gesah, dan tidak terburu nafsu”

Tabah, bagi Al- Ghazali, bila ditatap selaku pengekangan tuntutan nafsu dan amarah, dinamakan selaku kesabaran jiwa( ash- shabr an- nafs), sebaliknya menahan terhadap penyakit raga, diucap selaku tabah badani( ash- shabr al- badani). Kesabaran jiwa sangat diperlukan dalam bermacam aspek. Misalnya, buat menahan nafsu makan dan seks yang berlebihan

Al- Ghazali menjadikan tabah selaku satu keistemewaan dan spesifikasi makhluk manusia. Perilaku mental itu tidak dipunyai oleh fauna, pula para malaikat. Al- Ghazali membedakan tabah kepada 3 tingkatan, ialah:

1. Tabah buat tetap teguh( istiqamah) dalam melakukan perintah Allah swt.

2. Tabah dalam menhindarkan dan menjauhkan diri dari perbuatan- perbuatan yang dilarang oleh- Nya.

3. Tabah dalam mengalami ataupun menanggung cobaan dari- Nya.

7. Al- Tawakkul

Berasal dari bahasa Arab, wakila, yakilu, wakilan yang berarti“ mempercayakan, berikan, mwmbuang urusan, bersandar, dan tergantung”, sebutan tawakal diucap di dalam Alquran dalam bermacam wujud sebanyak 70 kali. Dalam bahasa Indonesia, tawakal merupakan“ pasrah diri kepada kehendak Allah; yakin dengan sepenuh hati kepada Allah( dalam penderitaan dan sebagainya), ataupun setelah berikhtiar baru berserah kepada Allah”.

Secara harfiah tawakal berarti menyerahkan diri. Bagi Al- Qusyairi lebih lanjut berkata kalau tawakal tempatnya dalam hati, dan munculnya gerak dalam perbutan tidak mengganti tawakal yang ada dalam hati itu. Perihal ini terjalin sehabis hamba meyakini kalau seluruh syarat cuma didasarkan pada syarat Allah. Mereka menyangka bila mengalami kesusahan hingga yang demikian itu sesungguhnya merupakan takdir Allah.

Al- Ghazali mengemukakan cerminan orang bertawakal itu merupakan selaku berikut:

1. Berupaya buat mendapatkan suatu yang bisa membagikan khasiat kepadanya.

2. Berupaya memelihara suatu yang dimilikinya dari hal- hal yang tidak berguna.

3. Berupaya menolak dan menjauhi dari hal- hal yang memunculkan mudarat.

4. Berupaya melenyapkan yang mudarat.

8. Al- Ridha

Kata rida berasal dari kata radhiya, yardha, ridhwanan yang maksudnya“ bahagia, puas, memilah persetujuan, mengasyikkan, menerima”. Dalam kamus bahasa Indonesia, rida merupakan“ rela, suka, bahagia hati, perkenan, dan rahmat”.

Harun Nasution berkata ridha berarti tidak berupaya, tidak menentang kada dan kandungan Tuhan. Menerima kada dan kandungan dengan hati bahagia. Menghasilkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal di dalamnya cuma perasaan bahagia dan gembira. Merasa bahagia menerima malapetaka sebagaimana merasa bahagia menerima nikmat. Tidak memohon surga dari Allah dan tidak memohon dijauhkan dari neraka. Tidak berupaya saat sebelum turunnya kada dan kandungan, tidak merasa getir dan sakit setelah turunnya kada dan kandungan, malahan perasaan cinta bergelora di waktu turunnya bala( cobaan yang berat).

Sehabis menggapai maqam tawakal, dimana nasib hidup salik bulat- bulat diserahkan pada pemeliharaan Allah, meninggalkan dan membelakangi seluruh kemauan terhadap apapun tidak hanya Tuhan, hingga wajib lekas diiringi menata hatinya buat menggapai maqam ridla.

9. Al- Mahabbah

Bagi Al- Ghazali, al- mahabbah merupakan maqam saat sebelum rida. Kalangan sufi mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan Alquran, hadis, dan atsar( perkataan, aksi, dan ketetapan teman).

Dalam Q. S. Ali Imran/ 3: 31, Allah swt. berfirman yang Maksudnya:“ Katakanlah: bila kalian( betul- betul) menyayangi Allah, ikutilah saya, tentu Allah mengasihi dan mengampuni dosa- dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bagi Ibn Qudamah, ciri cinta kepada Allah swt. merupakan tetap berzikir kepada Allah; gemar mengasingkan diri cuma buat bermunajat kepada- Nya semacam membaca Alquran dan tahajud, merasa rugi apabila meewatkan waktu tanpa menyebut nama- Nya; dan mencintai seluruh hamba Allah, mengasihani mereka dan berlagak tegas terhadap musuhmusuh- Nya.

Simpulan

Dalam ilmu Tasawuf, maqamat berarti peran hamba dalam pemikiran Allah bersumber pada apa yang sudah diusahakan, baik lewat riyadhah, ibadah, ataupun mujahadah. Di samping itu, maqamat berarti jalur panjang ataupun fase- fase yang wajib ditempuh oleh seseorang sufi buat terletak sedekat bisa jadi dengan Allah. Maqam dilalui seseorang hamba lewat usaha yang serius dalam melaksanakan beberapa kewajiban yang wajib ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Seseorang hamba tidak hendak menggapai maqam selanjutnya saat sebelum menyempurnakan maqam tadinya.

Saran

Selaku tradisi dalam Islam, Tasawuf selaku jalur yang sah- sah saja buat ditempuh, maksudnya boleh diiringi dan boleh tidak diabaikan. Tidak harus diiringi dan tidak haram ditinggalkan. Sebaliknya perspektif ilmu pengetahuan, tasawuf harus dipelajari.